10 Jun 2018

Ibrahim Telah Menemui Tuhannya

Reem dan foto kakak lelakinya, Ibrahim

Asap hitam semakin tebal membubung dari ratusan ban-ban besar yang dibakar di sepanjang perbatasan. Langit semakin pekat dan udara semakin panas bagai padang sahara. Sementara angin dari laut gaza terus berhembus menerbangkan laying-layang kertas dengan motiv bendera palestina yang diterbangkan oleh para pemuda. Bukan laying-layang biasa. Mereka membubuhkan api dan bensin di ujungnya untuk membakar tanah-tanah yang dikuasai Israel yang berjarak beberapa ratus meter dari mereka.

Tambang-tambang besar direntangkan dan teriakan-teriakan timbul tenggelam diantara pekikan. Anak-anak dan pemuda membawa batu dan ketapil, perempuan-perempuan bergerombol dengan benda yang sama serta bendera Palestina yang berkelepak hampir di setiap penjuru.

Satu bendera raksasa tertancap di tengah-tengah ribuan manusia yang menyemut, seakan-akan panji bagi optimisme yang mereka bawa, bahwa mereka akan pulang ke tanah mereka yang terpisah kawat dan tembok.

Sementara para jurnalis sibuk dengan kameranya, membidik setiap aktifitas dan apa yang memang pantas untuk diketahui dunia. Penjuru-penjuru lain di planet bumi layak untuk mengetahui aksi besar tersebut, begitu pikir mereka. Walau mereka tahu bahwa mereka bisa saja menjadi umpan maut yang siap mengintai diantara sniper-sniper zionis yang siap membidik mereka. Atau mungkin peluru nyasar yang melumat lambung dan menembus batok kepala.

Paramedic berlalu lalang diantara ratusan orang sembari membawa tandu kosong dan sejurus kemudian sudah mengisinya dengan sosok tubuh yang terkapar. Entah terkapar karena peluru atau gas air mata. Yang jelas mereka perlu membawanya. Darah-darah mulai terciprat diantara seragam putih mereka. Suara sirine ambulan masih terus terdengar meningkahi drama besar kehidupan orang-orang Gaza yang diamuk semangat membara.

Ibrahim adalah seorang pemuda tanggung diantara ratusan pemuda lain yang berada di sekelilingnya. Di tangannya ada bendera palestina yang terus dia kibarkan diantara kelebat angin yang seakan ikut bersorak bersama euphoria para peserta aksi. Angin-angin gaza itu menari bersama bendera dan meningkahi yel-yel dan orasi.

Tapi di saat itulah Ibrahim melihat beberapa sniper zionis bergerombol di seberang gundukan tanah dan siap membidikan senjatanya. Sementara peluru gas air mata terus berluncuran. Membuat kerumunan berhamburan demi menyelamatakan diri mereka. Ibrahim melihat seorang wanita yang tersungkur dan terkapar. Sementara dia melihat paramedic masih berada puluhan meter di belakangnya. Ibrahim tahu apa yang harus dia lakukan saat itu. Dia segera berlari untuk membawa wanita itu pergi dari wilayah berbahaya. Dia berlari beberapa langkah dan dia merasakan tubuhnya tiba-tiba limbung sebelum berhasil mencapai wanita malang itu.

Tatapan matanya kabur. Dia merasakan ada yang ganjil dengan tubuhnya. Ibrahim merasakan sengatan rasa sakit yang menjalar di perutnya, rasa sakitnya menjalar hingga dada dan selangkangannya. Tangan kananya meraba perutnya dan saat itulah dia tahu bahwa dia telah tertembak. Dia muntah darah dan yang terakhir kali dilihatnya adalah sebuah senyuman. Entah senyuman siapa. Sementara teriakan semakin samar terdengar, suara sirine, angin, yel-yel dan gelora kobaran api itu menghilang, berganti dengan kesejukan.

***

Hussam berlari diantara gang-gang sempit dengan gerakan lincah layaknya domba kecil yang mengejar induknya. Sementara air mata masih merebak di kedua kelompak matanya. Jalanan dan gang begitu lenggang dari kehidupan. Semua orang seakan-akan tersedot ke perbatasan timur untuk menghadiri aksi dan membakar ban-ban besar.

Hisam terus berlari sementara dia hanya menemui perempuan-perempuan tua yang duduk ditemani oleh cucu mereka di halaman-halaman rumah mereka. Diantara mereka menatap Hisam dengan tatapan penuh arti. Seakan-akan mereka tahu arti dibalik tangisan Hussam.

Hussam melihat gerbang rumahnya dan segera menerobos masuk. Didapatinya ayahnya sedang duduk di sofa yang sudah rusak. Di depannya televisi sedang menyala, menayangkan aksi Great Return March yang sedang berlangsung.

“Yaba! Yaba!” teriak Hussam dan dia menghambur memeluk ayahnya.

“Hussam, apa yang terjadi. Kenapa kau menangis?” tanya Amal, ayahnya dengan hati yang bergetar. Ia lebih dari tahu bahwa tangisan Hussam adalah pertanda buruk bagi dirinya.

“Ibrahim telah tertembak di perbatasan.” Lirih Hussam diantara isak tangisnya. Amal terguncang dan tangis pecah dari matanya, dan rintihan keluar dari mulutnya.

***

Reem terbangun dari tidurnya ketika ia mendengar suara tangisan orang dewasa dari ruang depan. Siapa yang menangis? Dia jarang mendengar suara tangisan di rumahnya selain tangisan keponakannya, Khadija yang masih berumur lima bulan. Rumahnya tak pernah menjadi saksi kesedihan, selalu ada tawa dan kebahagiaan di dalamnya. Ya, dan saudara lelakinya Ibrahim yang selalu memberinya motivasi belajar adalah satu alasan yang membuat ia masih bahagia.

Reem beranjak ke depan dengan rasa kantuk yang menggelayuti matanya. Dan ia melihat ayahnya menangis sembari memeluk Hussam, adiknya yang berumur 7 tahun. “Apa yang terjadi?” tanyanya heran.

Amal menatap anak perempuannya dengan air mata yang masih membasahi pipinya. “Ibrahim telah menemui Tuhannya.” Terangnya datar, tenang dan lirih.

Seakan-akan petir menyambar tubuh Reem. Dia ambruk. Seakan-akan tulang-tulangnya menjadi lentur dan persendiannya lepas satu demi satu. Oh Ibrahimku, tidak mungkin! Dia tidak mungkin mati! Sore nanti dia akan kembali pulang dan menggodaku tentang pernikahanku dengan Walid dua bulan lagi.

Reem menjerit dan menyebut nama kakak lelakinya tanpa bisa menahannya. Hatinya hancur dan dia berharap itu hanya mimpi. Dia tak siap jika Ibrahim lepas dari kehidupannya.

Oh Ibrahim, kakak yang paling dia sayangi dan cintai. Tak ada lagi yang bisa memberinya semangat dan candaan-candaan diantara sarapan pagi mereka. Tak ada lagi orang yang setia menunggunya di universitas ketika dia menghadapi ujian semester dan pulang ke rumah dengan memboncengkannya di motor tuanya. Tak ada lagi yang mengajaknya makan dan jajan di luar rumah. Ibrahim tak ada duanya dan dia adalah nyawa keduanya.

Ibrahim baginya adalah kenangan dari kehidupan itu sendiri. Ia adalah ratu di hadapan kakak lelakinya yang tak pernah mengatakan tidak dari semua keinginan dan permintaannya.

***

“Baba, tolong panggilkan Ibrahim untuk membelikan kita wortel dan minyak zaitun di pasar.” Seru Reem kepada Amal yang sedang sibuk dengan besi-besinya di belakang rumah.

Amal terdiam, dia menghela nafas dan mengusap peluh yang mengaliri wajahnya yang memerah karena bara api dari tungku. “Anakku Reem, aku tahu kau masih tidak bisa menghadapi kenyataan ini.” Ujarnya lirih.

Reem tidak mendengar apa yang dikatakan Amal. Tapi di saat itu dia sadar bahwa Ibrahim sudah tidak ada lagi di rumah mereka. Dua hari yang lalu Ibrahim telah dimakamkan dengan bendera palestina dan kafayeh yang menutupi tubuhnya. Wajahnya bersih dan taka da cela.

Reem tahu teriakannya hanya teriakan spontan yang biasa dia lakukan ketika dia membutuhkan bantuan Ibrahim. Reem kembali menangis diantara adonan tepung, daging domba dan peralatan dapur. Dia kembali terisak sembari mengaduk adonan Shawarma domba. besok adalah hari pertama puasa ramadhan sekaligus ramadhan pertama tanpa kehadiran Ibrahim. Bukan hanya ramadhan tahun ini, tapi ramadhan di sisa hidupnya. Dia harus menghadapi kenyataan pahit itu di sisa hidupnya.

==

Berdasar kisah nyata yang dimuat dalam artikel Hidayatullah.com berjudul Kursi Kosong di Meja Iftar.
Sumber foto: Hidayatullah.com
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

1 comment:

  1. Game Online... GabunG : ke F4n583771nG Pendaftaran Free ^o^

    ReplyDelete