23 May 2018

Antara HTI dan Slogan NKRI Harga Mati


Melalui tulisan ini, saya ingin meluruskan yang sekiranya perlu diluruskan dan ingin membuka cara pandang kita supaya tidak terkungkung oleh slogan kebencian yang selama ini sering kali kita terjebak di dalamnya. Dalam hal ini, muasal keinginan saya menulis artikel ini adalah karena mendengar informasi kajian Ust. Felix Siauw di Bandung Barat ditolak oleh GP Ansor dengan alasan, Ustadz Felix Siauw adalah pengusung khilafah dan corong HTI sehingga bertentangan dengan NKRI. Benarkah?

Perlu diketahui bahwa HTI ditolak eksistensinya karena masalah ‘NKRI Harga Mati’. Pun Ust. Felix ditolak oleh segelintir warga Bandung Barat dengan alasan ‘NKRI Harga Mati.’ Padahal, pengajiannya belum tentu tentang masalah khilafah. Saya kira ini terlalu berlebihan dan bentuk respon tak beradab dan tak toleran.

Selain itu, saya menangkap adanya paradox dengan kenyataan yang terjadi. Benarkah mereka yang menggembar-gemborkan NKRI Harga Mati sedang membela NKRI? Atau hanya menjadikan slogan tersebut sebagai tameng untuk melibas lawan politik, orang-orang yang berbeda mazhab atau bahkan melibas saudara seiman karena kedengkian tanpa dasar.

Coba saja kita lihat, apakah yang selama ini menggembar gemborkan NKRI Harga mati, terkhusus yang doyan membubarkan atau membatalkan kajian ustadz menampakan kepedulian mereka terhadap aksi separatism yang mengancam NKRI? Apakah ada demo papua merdeka yang dikecam oleh para komplotan bertameng ‘NKRI Harga Mati?’ sebagaimana kita tahu bahwa sudah sering aksi demonstrasi papua merdeka terjadi, dimana mereka mengibarkan bendera OPM, yang ini jelas-jelas ancaman bagi keutuhan NKRI. Dan baru-baru ini ada sejumlah mahasiswa di yogya melakukan aksi sembari mengibarkan benda separatis OPM. Lihat, mereka yang selama ini selalu bertameng ‘NKRI Harga Mati’ untuk melibas lawan politik atau lawan ‘mazhab’ diam dan masa bodoh. Mana slogan NKRI Harga Mati yang selama ini mereka sering gaungkan??

Tak ada ceritanya warga yogya dikoordinir oleh GP Ansor atau Banser untuk menolak aksi tersebut. Atau mereka dengan gagah berani melucuti bendera papua sebagaimana mereka pernah melucuti bendera tauhid dengan alasan ‘NKRI Harga Mati’

Saya bukan seorang anggota HTI, lebih tepatnya ‘mantan anggota HTI’ karena organisasi ini sudah dibubarkan pemerintah. Tapi saya tidak abai dengan sepak terjang HTI dalam kancah dakwah nasional, dan internasional secara umum. Saya bukan seorang anggota HTI, tapi saya tidak buta dengan realita.

Mari kita refleksi sejenak, organisasi mana yang pernah mencetak jutaan pamphlet yang isinya menggugah kesadaran bangsa Indonesia untuk berjuang melawan hegemoni ekonomi asing?

Organisasi apa yang ratusan ribu kadernya berbicara tentang eksploitasi pihak asing di Indonesia, mengenalkan tentang bahaya neolib hingga bikin risih siapapun rezim yg pro asing? Tentunya siapa pun yang memiliki jiwa nasionalisme tidak rela negaranya dibawah kendali pihak asing.

Apakah organisasi itu Banser atau GP Ansor? Sayang, organisasi itu bukan Banser, tapi HTI.
Hanya ada satu perbedaan. Banser ‘beriman’ bahwa gerakan ekstrimisme membahayakan NKRI, sedang HTI percaya bahwa Neoliberalisme  membahayakan NKRI ..

Lalu mana yang lebih berbahaya? Kedua-duanya bagi saya berbahaya. Tapi lebih berbahaya neoliberalisme dibanding ekstrimisme! Wah, saya nggak macam-macam. Coba saja dinalar, mana yang mudah diatasi antara kumpulan orang-orang ekstrimis stress atau tekanan IMF/ World Bank?

Untuk mengatasi ekstrimisme cukup turunkan densus dan perkuat intelejen. Jika intelejennya professional, kasus ekstrimisme bisa diatasi. Tapi terkait tekanan neoliberalisme semua rezim sejak Soeharto hingga sekarang tidak berani sama IMF/ World Bank yang sukses mengacak-acak perekonomian Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Jadi kesimpulannya, slogan ANTI NKRI yang dilontarkan selama ini salah alamat. Sementara ANTI NKRI sesungguhnya adem ayem melihat drama ini. Mengenaskan!

Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment