14 Apr 2018

Ya, Dia Suami Kami


Siang itu aku sedang sibuk dengan pekerjaanku ketika Ihsan datang dengan tiba-tiba. Anak remaja itu selalu datang ke rumahku dan menganggap rumahku layaknya rumah kedua. Dan tentunya aku yakin dia menganggap diriku sebagai ibu kedua bagi dirinya.

Ihsan seperti biasa datang dengan sepeda kesayangannya. Setiap hari libur sekolah dia akan datang untuk hanya sekedar bermain atau meminjam buku-buku koleksiku. Anak ini seorang kutu buku juga. Jadi aku senang ketika dia membaca buku-bukuku. Suamiku tak akan pernah membaca buku-buku tersebut. Tapi kali ini dia datang untuk membantuku membuat kue dan mempersiapkan berbagai hal berkaitan dengan penerimaan tamu. Besok pagi, keluarga besarku akan datang dari Mesir. Khadija, ibu Ihsan bilang melalui whatsapp bahwa dia menyuruh Ihsan untuk membantuku.

 Rumah Khadija, tidak terlalu jauh dari rumahku. Mungkin sekitar kurang lebih 3 kilo meter jauhnya.  Jadi kami selalu saling berkunjung untuk melepaskan kerinduan satu sama lain.

Oh iya, aku lupa memperkenalkan siapa Khadija. Sebenarnya aku kurang yakin apakah kau akan paham dengan  ceritaku ini. Yang jelas, Khadija memiliki banyak peran dalam kehidupanku. Dia terkadang menjadi kakak perempuanku, terkadang dia menjadi ibu bagiku. Usiaku dan usianya terpaut 10 tahun. Dan terkadang dia juga menjadi sahabat untukku. Dan tentunya, dia adalah istri pertama dari suamiku.

Mungkin kau terkejut, tapi begitulah kenyataannya. Bagiku, rasa kasih sayang yang kumiliki untuk Khadija sama dengan rasa sayangku untuk orang tuaku dan untuk Abdullah, suami kami. Suamiku dan suami Khadija.

“Apa yang harus aku kerjakan, Mom?” tanya Ihsan sembari menatapku yang tercenung sejenak. Aku tergeragap dan menyadari Ihsan menatapku heran.

“Oh e..kau sudah makan.”

Ihsan tersenyum, “Tentu saja belum. Bukankah Mom selalu menyediakan lauk untukku.” Jawabnya diiringi oleh derai tawa.

“Bagus, Mom sudah sediakan pizza di meja makan. Jadi sekarang kau makan dulu. Setelah itu kau siapkan adonan untuk membuat roti  dan bahan-bahan untuk menanak nasi biryani.” Terangku.

Tannpa menunggu waktu lama, Ihsan pergi ke ruang makan. Hmm..tanpaknya anak itu benar-benar lapar setelah mengayuh sepeda sejauh 3 kilo meter. Beruntung sekali sejauh jarak tersebut, hanya dataran yang membentang.

Oh sepertinya aku juga harus menceritakan kepadamu tentang Ihsan. Dia memanggilku Mom karena itu yang Khadija inginkan. Lagipula aku menganggapnya anak sendiri, walau dia bukan lahir dari rahimku, tapi lahir dari rahim Khadija.

“Jika kau punya anak, aku tentu orang pertama yang senang dengan kelahirannya.” Ujar Khadija suatu hari sembari menyisir rambutku. Dia layaknya kakak perempuanku yang selalu menghiburku di kala sedih. Saat itu aku mengadukan kegelisahanku karena menginjak tahun ketiga pernikahanku dengan Abdullah, Allah subhanahu wata'ala belum mengizinkan kami memiliki anak.

“Aku yakin suatu saat nanti kau akan melahirkan bayi mungil.” Ujar Khadija lagi.

“Kau yang memberi nama. Biasanya kau selalu antusias memberi nama bayi. Bukankah nama bayi Aber tetangga kita juga atas rekomendasimu?” timpalku.

“Tentu saja. Jika suami kita mengizinkan.” Jawab nya enteng.

“Lagi pula aku tidak terlalu risau,” ujarku kemudian, mencoba menyembunyikan kesedihanku, “toh aku memiliki Ihsan. Anakmu anakku juga.”

Khadija memelukku dengan mata berkaca-kaca. Baiklah, aku akan katakan dengan jujur bahwa pernikahanku dengan Abdullah adalah pernikahan yang paling membahagiakan. Bukan karena Abdullah adalah seorang pemuda tampan yang kaya dan baik hati atau apalah, meski memang dia seorang lelaki yang tanpan dan baik hati. Tapi lebih dari itu, aku bahagia karena aku menjadi istri keduanya. Aku bahagia karena dia memiliki Khadija yang sekarang mengisi kehidupanku kayaknya seorang kakak atau ibu untukku. Aku juga bahagia karena aku memiliki Ihsan, anak kami, maksudku anak Abdullah dan Khadija. Setidaknya sebelum janin mengisi rahimku, aku bisa merasakan menjadi seorang ibu. Ibu untuk Ihsan.

Aku kembali tersadar dari lamunanku ketika aku mendengar suara seseorang di dapur. Hmm, Ihsan sekarang sudah sibuk dengan adonan rotinya. Jadi aku bisa menuntaskan pekerjaanku mencuci baju-baju kotor. Baju Abdullah sudah menumpuk di pojok ruangan dan menunggu tanganku untuk membersihkannya. Seminggu kemarin, Abdullah pergi ke Toronto untuk memberikan pelatihan dan seminar tentang bisnisnya. Jadi, wajar saja jika ketika dia pulang membawa baju kotor yang lumayan banyak.

Omong-omong, mengenai Abdullah, dia adalah suami yang paling romantis yang pernah aku temukan. Pernah suatu malam –ketika itu jadwal bermalam di rumahku-  Abdullah mengajakku pergi makan malam di restoran. Tentu saja aku senang. jadi aku segera mempersiapkan diriku dan memakai baju terindah yang aku miliki. Ah, ini seperti malam kencan pertama sepasang kekasih..

Tujuan kami waktu itu adalah restoran cina. Aku memang suka masakan negeri tirai bambu. Tanpa menunggu lama, Abdullah memanggil seorang pelayan dengan wajah oriental dan memesan dua porsi untuk kami. Saat itu aku  protes. Aku kira Khadija akan datang menyusul dan makan bersama kami.

“Aku kira kau juga mengundang Khadija untuk makan bersama kita.” Kataku dengan nada tak senang.

“Tidak, “jawab Abdullah, “bukankah malam ini jadwal bermalam di rumahmu?”

“Tapi jadwal bermalam tak ada kaitannya dengan acara makan malam di luar rumah. Seharusnya kau juga mengajak Khadija untuk makan bersama kita.”

Abdullah tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala. Aku tak tahu apakah kata-kataku itu terdengar lucu ditelinganya. Yang jelas, aku ingin dia adil dalam memperlakukan istri-istrinya. Karena itulah sumber kebahagiaan kami. Apa? Kau menganggapku berlebihan? Tak masalah, karena kulihat Abdullah juga merasa bersalah. Dia merogoh saku celananya untuk mengambil smartphonenya. Kemudian menghubungi nomor Khadija. Aku bisa mendengar percakapan mereka.

‘Aku mengajakmu makan malam di restoran Nan-yang.’

‘Aku sudah makan barusan. Kau tahu malam ini Ihsan memasak tumis cumi. Aku berani menjamin masakannya sungguh enak. Ini pertama kalinya Ihsan memasak. Dia bilang, Aisya mengajarinya masak hari kemarin. Kurasa kau harus mencicipi masakan Ihsan malam besok’ 

Aku tersenyum mendengar berondongan kata-kata yang diucapkan Khadija dari seberang sana.
‘Jadi kau yakin tidak akan makan bersamaku?’

‘Tidak, aku sudah kenyang. Memangnya kau sendirian? Kenapa tidak mengajak Aisyah?’

‘Ya, tentu saja aku bersama Aisya. Dia justru yang memintaku untuk mengajak dirimu.’

‘Aisya memang perempuan yang aneh. Bilang padanya, dia harus punya rasa cemburu terhadap dirimu. Dia selalu ingin melibatkanku dalam moment romantis kalian.’

Abdullah menatapku dan beberapa detik kemudian derai tawa kami pecah.

‘Oke, jadi selamat makan malam. Aku sudah ngantuk nih. Selamat malam. Oh iya, aku lupa untuk mengatakan satu hal penting.’

‘Apa itu?’

‘Besok kau harus mengajakku makan malam di restoran India. Karena malam ini kau makan malam diluar bersama Aisya. Bukankah kau harus adil?’

Abdullah kembali tertawa,, ‘Menurutku kau tidak perlu makan diluar jika hanya ingin makan masakan India. Toh Aisya pintar membuat masakan khas India.’

‘Aha, itu ide bagus. Jadi katakan padanya dia harus memasak untuk kita besok sore.’

Aku mencondongkan kepalaku dan mendekatkan bibirku ke smartphone dalam genggaman Abdullah, ‘Oh maaf, aku bukan seorang pegawai catering restoran.’

Dan kami bertiga hanyut dalam derai tawa. Setelah itu Khadija mengucapkan selamat malam untuk kedua kalinya dan sambungan terputus.

Pesanan sudah datang. Pelayan itu menyajikan makanan di atas meja dan berlalu.

“Jadi kau mengajari Ihsan memasak? Tapi dia kan bukan perempuan?”

“Kenapa? Apakah memasak itu hanya urusan perempuan. Lagi pula Ihsan pernah bilang dia ingin menjadi seorang cheef. Dia ingin menjadi seorang master koki yang hebat.”

“Wow, jadi aku beruntung sekali memiliki istri sepertimu.”

“Ya, kita juga beruntung memiliki Khadija.”

Nah, itu salah satu moment romantis yang tidak akan pernah aku lupakan. Maka pantas saja jika dimataku Khadija adalah satu pion penting dalam kebahagiaan rumah tangga kami. Khadija juga aku ajak untuk menemui keluargaku. Dan keluargaku sangat senang bisa bertemu istri lain dari menantu mereka.

“Anggap saja kami orang tuamu.” Ujar Baba saat itu. Asal kau tahu, kedua orang tua Khadija sudah meninggal belasan tahun yang lalu di tanah kelahiran mereka, Hebron. Khadija dan Abdullah adalah dua anak palestina yang saling jatuh cinta dan mereka bertemu di perantauan mereka di Quebec. Di sini juga aku bertemu dengan Abdullah dan kami saling jatuh cinta. Hingga pada akhirnya inilah nasib kami. Cinta segitiga antara aku, Khadija dan Abdullah. Dan kukira cinta kami tak serumit yang dibayangkan orang-orang. Aku yakin bahwa poligami adalah keniscayaan bagi kehidupan rumah tangga kami. Bukan untuk kebahagiaan Abdullah, tapi juga kebahagiaanku dan Khadija.

Khadija juga terkadang berubah menjadi sosok ibu atau kakak perempuan bagiku. Ketika aku sakit, dia selalu menyisihkan waktunya untukku. Pernah aku terjangkit penyakit typus ketika aku pertama kali pindah ke Minsesotta. Saat itu Abdullah tidak sedang di rumah karena suatu acara. Akhirnya sepanjang waktu Khadija membersamaiku. Mengerjakan semua urusan domestik rumah tangga yang tidak bisa aku kerjakan. Membawaku ke dokter dan menungguiku selama aku menjalani rawat inap. Aku tak akan melupakan moment itu. Oleh karena itu, ketika teman-temanku berkunjung untuk menjengukku, mereka menanyakan kepadaku, siapa wanita yang selalu menugguiku ketika aku sakit. Aku bilang kepada mereka dia adalah kakak perempuanku.

Di kesempatan yang lain, temanku yang bertanya tentang Khadija itu datang kepadaku dengan tatapan yang khawatir.

“Ada apa?” tanyaku tak kalah khawatir melihat mimiknya yang terlihat gelisah.

“Aku melihat kakak perempuanmu jalan bareng dengan suamimu Abdullah. Tidakkah kau khawatir mereka bermain api di belakangmu? Sepertinya suamimu selingkuh dengan kakak perempuanmu.” Ujarnya tanpa pikir panjang.

Aku tersenyum lebar dan menjelaskan hal yang sebenarnya.

“Tapi kenapa kau berbohong kepadaku? Kenapa saat itu kau bilang dia kakak perempuanmu?”

“Karena dia adalah bisa apa saja untuk diriku. Dia bia menjadi kakak yang baik. Dia bisa menjadi ibu bahkan bisa menjadi teman bagiku.”

Temanku itu hanya menganggukan kepala. Setelah itu dia tak lagi membahasnya. Hanya saja dia pernah mengatakan bahwa dia tak habis pikir bagaimana mungkin kehidupan cinta seperti keluargaku ada di dunia ini. Ya, memang ada. Tapi mungkin langka.

Oh ya, hanya ingin berbagi kepadamu. Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. Seandainya ada Khadija-Khadija lain di luar sana, aku akan memaksa Abdullah untuk menikah dengan mereka sehingga genap semua kebahagiaanku.

“Mom, aku sudah menuntaskan adonan rotinya. Apa lagi yang harus aku kerjakan?”

Oh, Ihsan sudah menyelesaikan tugasnya. Jadi aku harus segera membantunya dan tentu saja memberi tugas baru kepadanya. Sehingga cita-citanya untuk menjadi koki handal bisa terwujud.

Jadi aku harus mengakhiri cerita ini. Aku yakin aku merasa penarasan dengan semua kehidupan kami. Tapi sudahlah, semoga yang sepenggal ini bisa memberimu cara pandang baru.

“Mom, tunggu apa lagi?!”

Ihsan sepertinya sudah tidak sabar lagi. Aku harus segera menemuinya.
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment