10 Apr 2018

Untuk Apa Kita Menulis

Saya baru menyadari bahwa passion saya ada di dunia literasi khususnya dunia menulis, setelah mencoba menulis beberapa cerpen dan artikel dan membuat blog sendiri di pertengahan tahun 2014. Saya pikir, karya tulis saya tidak buruk-buruk amat meski tak sebagus para penulis beken.

Bara semangat saya semakin menjadi-jadi setelah menyabet  Juara pertama lomba cipta cerpen yang diadakan Unsil (Universitas Siliwangi) se-Priangan Timur pada akhir tahun 2014. Rasanya senang sekali. Belum lagi setelah itu bisa menjadi contributor beberapa media online.

Saya terus berproses hingga terbiasa untuk menulis. Paling tidak, sehari tanpa menulis itu terasa ada yang kurang. Oleh karena itu saya selalu alokasikan waktu untuk membaca dan menulis setiap hari. Saya pun mencoba untuk mengirimkan karya-karya saya berupa cerpen dan artikel ke beberapa media. Sebagian ada yang diterima, dan tidak sedikit yang ditolak oleh redaksi. Tapi dari sedikit yang diterima oleh redaksi media tersebut, menjadi pelecut bagi saya untuk terus berkarya dan berkarya.

Hingga saya mengenal wattpad dan mencoba menulis dengan sensasi yang berbeda layaknya kita menulis di medsos, tapi medsos khusus para penulis dan pembaca. Akhirnya saya coba-coba untuk mengirimkan novel pertama saya ke penerbit mayor. Sayangnya, tiga kali ‘lamaran’ tiga kali ditolak. Bahkan saya mencapai titik frustasi ketika harus menghadapi kenyataan tersebut. Untuk mengkompromikan rasa sedih saya, saya mencoba menerbitkan novel perdana saya lewat self publishing. Saya harap langkah ini menjadi batu loncatan pertama saya dalam dunia tulis menulis.

Dulu, saya berharap dengan menulis nama saya menjadi beken dan berlimpah uang. Saya membayangkan rekening saya ‘gendut’ karena menerima transferan dari para penerbit yang mempublikasikan buku-buku saya. Tapi sungguh, setelah saya mengikuti KMO (Kelas menulis Online), pola pikir saya berubah. Yang saya pikirkan selama ini ternyata hanya materi dan ketenaran. Padahal sejatinya, inti dari menulis itu bukan itu.

Semalam, kang Tendi Trimurti membabat habis pola pikir saya yang salah tentang menulis. Akhirnya, setelah menghimpun renungan dan membaca sana sini, saya menyimpulkan bahwa setidaknya banyak benefit yang bisa kita ambil dari menulis –tentunya bukan sekedar materi dan ketenaran-.

Pertama, Menulis Menyehatkan

Ternyata ada korelasi yang kuat antara menulis dengan kesehatan. Saya sendiri bisa merasakannya dan sekarang saatnya memberi tahu kamu. Sebagai contoh, ketika saya memiliki masalah yang pelik, saya mencurahkannya menjadi sebuah cerpen. Dan disitulah saya menemukan bahwa batin saya kembali lega.

Saya juga pernah merasakan kesal dan marah pada seseorang, kemudian saya menggunakan namanya sebagai peran antagonis dalam cerpen saya. Dan saya merasa puas karenanya. Hehe, yang ini kayaknya nggak perlu ditiru ya.

Intinya, menulis itu bisa mendatangkan kepuasan batin dan terhindar dari berbagai penyakit psikis. Oleh karena itulah banyak pakar yang menyarankan untuk menjadikan menulis –terutama menulis jurnal harian- sebagai terapi untuk para pengidap penyakit psikis akut.

Menulis juga bisa menghilangkan stess. Justru ketika saya melewatkan aktifitas menulis, saya nggak tenang dan terasa ada yang kurang. Ketika saya menumpuk ide-ide saya tanpa dieksekusi dalam bentuk tulisan, saya selalu dikejar-kejar ide tersebut. Sehingga saya benar-benar menyalurkannya lewat tulisan yang utuh.

Tapi jika memang ide terlalu menumpuk dan berseliweran, saya akan menuliskannya di ‘buku besar ide.’ Apa itu, buku ini saya buat untuk menampung ide-ide yang akan saya garap sehingga tidak lenyap begitu saja.

Saya juga pernah membaca bahwa membaca bisa mencegah kepikunan dan menyembuhkan penyakit fisik. Pernah ada kisah bahwa seorang lelaki divonis hanya memiliki umur satu tahun kurang karena kanker yang dideritanya. Kemudian dia berpikir bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk dia tinggalkan sebelum benar-benar pergi dan dipanggil tuhan. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk menulis buku. Tapi pada akhirnya Tuhan berkehendak lain, orang tersebut masih bertahan hidup bahkan kanker yang dia derita lenyap. Sementara dia terus menulis dan menulis.

Kedua, Menulis berarti merekam jejak sejarah dan mengikat ilmu

Ada peristiwa-peristiwa masa lalu yang bisa diungkap dan digali lewat tulisan-tulisan yang ditulis oleh seseorang yang hidup pada kurun waktu tersebut. Sehingga sangat penting bagi kita untuk menulis realita yang ada di sekitar kita. Siapa tahu tulisan tersebut bermanfaat bagi generasi setelah kita. Terutama buat yang punya passion di bidang studi sejarah.

Ketiga, menulis sebagai Media dakwah yang fleksibel

Senang rasanya ketika kita bisa menginspirasi orang lain dan tulisan kita memberi warna pada pola pikir pembaca kita. Selain itu, menulis juga lebih hebat dari ceramah. Kenapa? Karena ceramah hanya bisa diakses pada waktu itu juga dan sepintas lalu. Sementara tulisan bisa dibaca ulang dan disimpan kapan pun kita mau. Tulisan juga bisa ditelaah pada bagian mana pun yang kita perlukan. Misalkan kita sudah paham sebagian isi tulisan, maka kita bisa meloncatnya membaca di bagian yang kita perlukan. Tentunya ini lebih efisien dibanding menyimak ceramah dalam bentuk video atau audio.

Sudah saatnya menulis dijadikan ajang perlawanan terhadap kebatilan. Seni dilawan dengan seni, tulisan dilawan dengan tulisan. Ingat, masih banyak tulisan-tulisan sampah dan berisi racun yang masih berterbaran. Jadi tak ada alasan kita tidak menulis.

Keempat, Menulis membuat hidup lebih produktif dan tak terbuang sia-sia

Yakinlah, salah satu bentuk produktifitas menghabiskan waktu dan usia adalah dengan menyibukan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Diantara hal yang bermanfaat itu adalah menulis. Menulis membuat kita produktif berkarya dan menebar manfaat. Ini lebih baik ketimbang menghabiskan waktu dengan mantengin medsos berjam-jam setiap harinya atau stalking akun medsos orang lain. Mudah-mudahan nggak ada yang tersinggung. hehe

Kelima, Menulis akan menghasilkan ide-ide baru

Ini saya alami sendiri ketika menjalani proses menulis. Novel saya yang berjudul ‘The Wild Man’ memakai kerangka tulisan yang sudah saya gambarkan alurnya di ‘buku besar ide.’ Tapi di tengah jalan justru alur melenceng dari yang direncanakan. Karena saya justru menemukan ide lain ketika tengah memproses ceritanya sehingga lebih greget dan ciamik dari ide yang pernah saya tulis sebelumnya.

Bagi penulis, kejadian yang dianggap sebagai angin lalu dan lewat begitu saja, bisa menjadi bahan tulisan yang keren. Ide sesederhana apa pun akan begitu memikat jika diolah oleh para penulis handal. Oleh karena itu, teruslah berlatih dan berlatih.

Keenam, Menulis membuatmu menjadi pribadi yang komunikatif

Dengan menulis kita terlatih menjadi pribadi yang komunikatif dan mudah berbicara secara terstruktur. Beda gaya bicara antara seorang penulis yang banyak menulis dan membaca dibanding seseorang yang tidak pernah menulis dan membaca. Saya sendiri merasakan bahwa kemampuan berbicara saya –terutama ketika presentasi dan debat- meningkat setelah saya memiliki hobi membaca dan menulis.

Selain daripada itu, dengan menulis kita dilatih untuk mengasah daya nalar dan daya ingat. Menulis menjadikan kita kritis dan peka.

Teruslah menulis, karena pena lebih tajam dari pedang. Sampai-sampai Napoleon Bonaparte pun lebih takut pasukan ‘pena’ (baca: wartawan) dibanding pasukan berkuda yang menyandang pedang.
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

3 comments:

  1. #keren hus ajari dong
    #Buku perempuan senjanya masih ada kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, udah habis sejak setahun yang lalu

      Delete
  2. Ayo bergabung sekarang juga bersama kami di Fans^^betting ^_^

    ReplyDelete