15 Mar 2018

Kesedihan yang Semestinya


Kesedihan tidak akan mengembalikan apa yang hilang dari kehidupan kita. Kesedihan juga tidak akan mengembalikan harapan-harapan yang pupus. Kesedihan hanya akan menambah beban semakin berat dan hati semakin sempit hingga menghimpit semua perasaan.

Ada manusia yang tertawa dan mencoba tersenyum di hadapan orang lain, sementara di hatinya dia menyembunyikan kesedihan. Maka dia telah benar dengan semua senyum dan tawanya. Tapi alangkah sempurnanya jika dia menghilangkan kepedihan di hatinya.

Sedih itu wajar. Yang tidak wajar adalah kesedihan yang terus menerus sehingga membuatnya menggugat takdir Tuhan yang telah digariskan. Sedih itu manusiawi, yang tidak manusiawi adalah ketika kesedihan menyebabkannya menyalahkan orang lain dengan semua kekacauan yang dia alami. Sedih itu suatu kebutuhan, tapi hal ini tidak berlaku untuk kesedihan tanpa alasan yang dibenarkan.

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan kesedihan demi kesedihan tanpa alasan. Jadi, sudah saatnya untuk menempuh jalan kebahagiaan. Kebahagiaan itu adalah pilihan kita. Kita menyikapi kehidupan sesuai dengan bagaimana kita menjalaninya. Apakah menjalaninya dengan kesedihan atau kebahagiaan.

Lalu dimana kita mendapatkan kebahagiaan?

Allah menciptakan kesedihan selalu berpasangan dengan kebahagiaan. Melalui kesedihan kita menyadari betapa berharganya kebahagiaan. Pun sebaliknya. Tapi sebagaimana tadi saya katakan perlu kecerdasan untuk meletakan rasa sedih pada tempat yang semestinya.

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam juga sedih ketika anaknya, Ibrahim meninggal dunia. Ya’kub Alaihi salam sedih ketika Yusuf menghilang dari kehidupannya karena dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya. Aisyah radiyallahu anha sedih ketika fitnah menimpanya. Kesedihan itu manusiawi.

Bahkan kesedihan ada yang sangat dianjurkan. Sedih ketika memilirkan dosa-dosa. sedih ketika menyadari bahwa amal kita masih sedikit sementara dosa semakin menumpuk.

Ada sisi dimana kesedihan menjadi tercela ketika kesedihan itu timbul dari nafsu dan bisikan setan. Sedih berlebihan sehingga menggugat takdir ketika satu hal hilang dalam hidup kita. Sedih karena tidak bisa meraih kekayaan dan jabatan dan banyak lagi macamnya.

Sedih juga kadang timbul dari dua sikap ektrem. Terlalu meremehkan diri dan terlalu membanggakan diri. sedih karena kita menganggap diri kita tidak berguna, dan sedih ketika kita mendapati kita tak sehebat  yang kita kira. Sedih ketika penggemar semakin menjauh, popularitas semakin menurun dan sejenisnya.

Jika kita hidup dengan selalu menyalahkan diri sendiri, maka secara tidak langsung kita telah menyalahkan Allah Subhanahu wata'ala yang menggariskan takdir kita.

Kesedihan yang tidak terkendali sering kali menimbulkan bencana. Karena kesedihan ini dijadikan alat setan untuk mengendalikan nafsu manusia. Di sisi lain kebahagiaan dibawa oleh malaikat dan menjadi bagian orang-orang beriman.

Maka, ketika musibah melanda, selalu ingatlah Allah dengan mengucapkan,

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nyalah kita akan kembali (Quran surat al-Baqoroh ayat 156)

Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment