3 Jan 2018

Selamat Datang di Kedai Teh

Sekelompok tentara yang dipimpin oleh seorang Sersan sedang dalam perjalanan menuju pos yang berada di gunung Himalaya. Dimana mereka akan dikirim untuk tiga bulan kedepan. Tentunya saat itu adalah saat yang mencemaskan bagi mereka, ditengah musim dingin yang mengawali tugas mereka.
Musim dingin yang dingin dan hujan salju yang deras membuat pendakian yang berbahaya menjadi lebih sulit untuk mereka lalui.
Jika ada seseorang yang menawarkan teh, atau setidaknya mendapatkan kedai teh di pinggang gunung adalah suatu hal yang mereka harapkan ditengah cuaca ekstrim seperti itu.

Mereka melanjutkan perjalanan selama satu jam sebelum mereka menemukan rumah kayu yang bobrok. Tanpaknya rumah tersebut sebagai kedai teh. Hanya saja pintunya sudah terkunci. Saat itu sudah larut malam.
“Tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain di sini.” Kata mayor. Tapi dia menyarankan untuk beristirahat di sana setelah melakukan perjalanan panjang selama tiga jam lamanya.
“Sir, kita bisa membuat teh di dalam kedai ini, kita harus mematahkan kuncinya.” Saran seorang anak buahnya dengan antusias.
Perwira itu gamang untuk mengambil keputusan. Tapi pikirannya tentang secangkir teh yang mengepul membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain memberi izin anak buahnya untuk mendobrak pintu.
Mereka beruntung, tempat itu memiliki segala yang dibutuhkan untuk membuat teh dan juga beberapa bungkus biskuit. Para tentara segera membuat teh dan memakan banyak biskuit hingga siap untuk melakukan perjalanan.
Walaupun mereka telah mendobrak kedai itu, tapi mereka tetap sebagai tentara yang masih memiliki nurani. Perwira itu mengeluarkan uang beberapa dolar dari dompetnya kemudian meletakannya di atas meja, tepatnya diselipkan di bawah wadah gula sehingga pemilik kedai bisa melihatnya jika dia datang.
Sersan itu sekarang terbebas dari kesalahannya. Dia memerintahkan untuk mematikan lampu dan melanjutkan perjalanan.
Tiga bulan berlalu, hingga masa tugas mereka di daerah tersebut telah berakhir. Sudah waktunya mereka digantikan oleh tim lain.
Dalam perjalanan pulang mereka berhenti di kedai teh yang sama, dimana mereka pernah mendobraknya. Pemilik kedai itu adalah seorang lelaki paruh baya yang ramah dan senang dengan kehadiran sekelompok tentara itu di kedainya.
Mereka memesan secangkir teh dan beberapa bungkus biskuit. Mereka berbicara berbagai hal dengan orang tua pemilik kedai tersebut. Pemilik kedai itu juga menceritakan pengalamannya sebagai penjual teh di tempat yang terpencil di jalur pendakian.
Orang tua itu memiliki banyak cerita untuk diceritakan. Dan lebih dari itu, dia seorang lelaki yang memiliki keimanan kepada Tuhan.
“Pak, jika Tuhan itu ada, mengapa Dia tetap membiarkan anda dalam kondisi miskin seperti ini?” tanya seorang tentara yang tanpaknya seorang atheis tulen.
“Jangan berkata seperti itu. Tuhan itu ada. Saya sudah membuktikannya tiga bulan yang lalu.” Sanggah si pemilik kedai.
"Saya melewati masa-masa sulit karena anak laki-laki saya satu-satunya dipukuli oleh teroris yang menginginkan beberapa informasi darinya yang tidak dimilikinya. Saya telah menutup took saya untuk membawa anak saya ke rumah sakit. Beberapa obat harus dibeli dan saya tidak punya uang. Tidak ada yang mau memberi saya pinjaman karena takut teroris. Saat itu saya tidak memiliki harapan.”
Dan pada hari itu, saya berdoa kepada Tuhan untuk meminta bantuan. Dan tahukah kalian, hari itu juga Tuhan membantuku.”
Ketika saya kembali ke toko saya, saya menemukan kunci  pintu kedai patah. Saya pikir pasti ada seseorang yang menjarah semua harta saya yang tersisa di dalam kedai  ini. Tapi kemudian saya melihat bahwa Tuhan telah meninggalkan  beberapa lembar dolar di bawah panci gula. Tuhan tahu saya butuh uang dan dia mengirimkan uang itu untuk saya. Jadi, jangan sekali-kali kau meragukan kehadirannya.”

Belasan pasang mata saling bersitatap satu sama lain. Sementara sang sersan seakan mengisyaratkan dengan kedipan matanya, “Diamlah!”
Sersan itu bangun dan membayar tagihannya. Dia memeluk orang tua itu dan berkata, Ya Baba, aku tahu Tuhan memang ada. Dan ya, tehnya luar biasa. "
Anak buahnya bisa melihat mata pemimpin mereka sembab dan menitikan air mata.
Benar, kita bisa menjadi perantara dari kasih sayang Tuhan. Dan yang jelas, Tuhan memiliki rencana yang indah dan tak pernah kita duga.


Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment