4 Dec 2017

Terkesan Dengan Pakaian Muslim (Dimuat di Majalah Elfata Edisi Nopember 2017)

Aku adalah seorang gadis Amerika yang dibesarkan di sebuah keluarga Kristen yang sangat taat dan fanatik. Pada saat aku berusia 16 tahun, aku menjadi seorang gadis Kristen yang taat dan saleh. Bahkan gereja seperti rumah kedua bagiku. Aku sangat menikmatinya.

Aku juga telah membaca dan mempelajari alkitab secara teratur. Semakin aku dalam mempelajarinya, semakin aku bingung dengan alkitabku sendiri. Aku menemukan banyak kesalahan di dalam alkitab. Banyak cerita yang saling bertentangan di dalamnya. Jadi aku bertanya kepada nenek atau pastor gereja tentang hal itu. Akan tetapi aku tidak pernah mendapatkan jawaban yang solid. Alih-alih seakan-akan mereka tidak suka aku bertingkah aneh dan mempertanyakan alkitab. Itu seperti aku dianggap membangkang terhadap ajaran Yesus Kristus.

Aku diingatkan oleh pastorku untuk tidak mempermasalahkan hal-hal yang sepele di dalam alkitab. Dia mengatakan bahwa itu di luar nalar kita sebagai manusia. Jadi untuk sementara aku berusaha memendam rasa penasaran di dalam hatiku.

Kemudian di awal umur 20-an aku diangkat sebagai pastor muda di gereja lokal dimana aku tinggal. Pada saat inilah, studiku terhadap ajaran alkitab semakin menguat. Semakin aku mempelajarinya, pertanyaan-pertanyaan yang dulu sempat aku pendam kembali muncul ke permukaan. Hal ini membuatku merasa gelisah.

Karena aku tidak menemukan jawaban yang memuaskan dari gereja, aku memutuskan untuk mendaftar ke Bible College. Aku yakin bahwa aku akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku selama ini.

Akan tetapi itu hanya menjadi harapan dan mimpi. Karena saya tidak menemukan jawaban yang saya inginkan. Karena itu, aku berusaha meringankan beban yang ada di pikiranku dan memutuskan untuk turun dari jabatan “pastor muda”. Aku merasa tidak bisa lagi memimpin para remaja menuju jalan Yesus. Bagaimana aku memimpin mereka, sementara aku sendiri merasa bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Akulah yang sebenarnya membutuhkan pemimpin.

Suatu malam aku menyalakan TV dan kebetulan langsung menuju CNN. Mereka melaporkan peristiwa langsung dari Irak. Lalu, di latar belakang aku melihat wanita terindah yang pernah aku lihat.

Dia dihiasi hanya hitam dari kepala sampai kaki. Dia sangat sederhana, dan bagiku itu membuatnya cantik sekali. Aku tahu bahwa dia seorang wanita Muslim tapi aku tidak tahu seperti apa keyakinan yang dianut oleh setiap muslim.

Aku merasa terkesan dengan pakaian yang dipakai oleh wanita-wanita muslim. Bagiku mereka begitu unik dan lebih tepatnya terjaga dan terhormat. Hal ini memicu minatku untuk mengetahui kultur muslim lebih jauh. Di hatiku terbersit keinginan untuk menjadi seperti wanita itu. Terlihat saleh dan sederhana. Aku merasa heran kenapa gereja tidak mempermasalahkan wanita-wanita yang bebas memamerkan tubuh mereka. Padahal aku tahu bunda Maria pun berpakaian tertutup. Dari sinilah pencarianku dimulai.

Aku langsung berselancar di internet. Kata kunci yang pertama kali aku masukan adalah “busana wanita muslim”. Inilah saat aku menemukan dua kata yang baru. “Jilbab” dan “Niqab”. Wikipedia juga menyebut wanita yang memakainya sebagai Hijabis atau Niqabis.

Suatu sore aku mengikuti komunitas memasak dengan remaja putri di sekitar rumahku. Tanpa sengaja aku bertemu dengan tetangga jauh yang sudah lama tidak bertemu. Rupaya dia sibuk dengan pekerjaannya. Entah kenapa, obrolan kami tiba-tiba beralih topik menjadi pembicaraan masalah agama dan spiritualitas.

Dia berkata, "Anda tahu bahwa orang Kristen biasanya akan menghadap Tuhan ketika dia mempunyai masalah saja. dia akan pergi ke gereja ketika dia mulai merasa frustasi.”

Aku hanya mengangguk setuju tapi tidak yakin apa maksud dari kata-kata yang dia lontarkan.

Tetanggaku itu menambahkan, "Ya, Anda tahu orang-orang Muslim itu ibadah 5 kali sehari tanpa pernah berhenti. Dan kita orang Kristen tidak bisa meluangkan waktu untuk beribadah sekali dalam sehari.”

Jujur, kata-kata tersebut terus terngiang-ngiang di telinga saya, bahkan hingga acara selesai. Setelah aku pulang, tanpa menunggu lagi aku langsung membuka computer dan mencari tentang kepercayaan muslim dari sambungan internet. Setelah membaca beberapa artikel dari website islam, aku merasa kagum pada keyakinan mereka. Aku merasa,keyakinan meraka begitu rasional.

Tapi aku memastikan bahwa tidak ada yang tersembunyi di dalam keyakinan mereka. Aku tidak akan gegabah menerima islam sebagai agama yang benar sebelum benar-benar mengetahuinya secara mendalam.

Beberapa minggu berikutnya aku pergi ke masjid terdekat, yang kebetulan berjarak 50 mil jauhnya, meminta informasi. Mereka menyambutku dengan antusias, memperlakukanku dengan baik. Sebelum pulang, mereka memberiku beberapa buku untuk mengenal islam lebih dalam. Setelah itu, aku membaca buku yang diberikan oleh masjid tersebut hingga pagi.

Setelah beberapa bulan meneliti dan membaca, aku memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Aku merasakan kedamaian yang telah lama hilang dari hidupku. Aku juga menemukan jawaban-jawaban dari semua pertanyaan yang telah menggangguku selama bertahun-tahun. Kini aku berusaha untuk membaca dan memahami al-quran, mengikuti halaqoh islam dimana aku mengucapkan syahadat. Masjid yang sama ketika aku mendapatkan buku-buku tentang islam. Dan tentunya, aku menutup kepalaku dengan hijab.

Jujur, selama menjadi seorang Kristen, aku tidak suka memakai pakaian yang ‘menantang’. Dan sekarang, setelah menjadi seorang muslim, aku merasa nyaman dengan pakaianku. Lagi pula, dari sinilah awal mula Allah memberiku petunjuk dengan kebenaran. Ya, aku kagum dengan Hijab, dan sekarang aku memakainya karena rasa cintaku kepada Allah

Kisah Latasha sebagaimana dimuat aboutislam.net. alih bahasa oleh Husni Mubarok

Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment