25 Nov 2017

Dalam Pelarian


‘Dalam Pelarian’ adalah Novel yang menceritakan bagaimana menderitanya muslim etnis Rohingya. Semua ‘scene’ yang diceritakan adalah berdasar kisah nyata yang dialami oleh para muslim Rohingya.

Cerita dibuka dengan bagian ‘Prolog’ yang mengisahkan scene penyerangan ARSA (Arakan Rohignya Solidarity Army) terhadap pos-pos polisi di perbatasan Buthidaung. Beberapa orang anggota ARSA menyerang dan membunuh polisi Myanmar di suatu malam.

Kemudian dilanjutkan dengan menceritakan seorang pemuda tanggung bernama Ahessan dan sahabat karibnya Anwar yang memiliki guru bernama Syaikh Ibrahim. Sayangnya, guru mereka harus ditangkap pemerintah Myanmar tanpa alasan yang jelas dan tak tahu kemana rimbanya.

Suatu hari Ahessan pergi ke pasar Chin Khali untuk membeli longyi untuk ibunya. Dia bertemu teman lamanya Aziz dan menginap di desa tersebut. Di malam itu, dia bertemu dengan pemuda-pemuda Rohingya. Salah satunya adalah Jasim, yang mengajak mereka dengan halus untuk bergabung dengan Harokatul Yaken atau ARSA.

Di malam yang sama, para tentara Myanmar yang kejam menyerbu desa-desa Rohingya dan membumihanguskannya.

Ahessan harus menemukan kampungnya telah hangus terbakar ketika ia pulang dari desa Chin Khali. di kampung lain, Ahessan menemukan dua anak yatim piatu, Ruzina dan Zanat. Kedua orang tuanya telah dibunuh di malam penyerangan.

Ahessan menemukan kampungnya telah mati. Dia tidak menemukan seorang pun yang masih hidup selain mengungsi, dan selebihnya puing-puing dan jasad tak bernyawa. Ahessan harus rela kehilangan keluarganya dan tempat tinggalnya.

Sementara Ibu Ahessan, Khatun dan kedua adik Ahessan, Shufaida dan Sabiq telah pergi ketika malam penyerangan terjadi. Paginya mereka menghubungi Ahessan lewat sambungan telepon. Tapi selalu gagal. Akhirnya mereka mengungsi tanpa kehadiran Ahessan.

Masalah semakin rumit ketika teman karib Ahessan, Anwar menitipkan keluarganya lewat sambungan telepon. Dan lagi-lagi Ahessan tidak menemukan keluarga Awar di rumah mereka. Anwar memiliki istri bernama Sameron dan adiknya Sander.

Ketika malam penyerangan itu terjadi, Sander diperkosa beramai-ramai sementara Sameron dipukuli hingga babak belur. Rumah mereka dibakar, sementara mereka masih berada di dalam dalam kondisi pingsan. Beruntung mereka berhasil keluar.

Sementara ketika malam penyerangan terjadi, orang-orang dibunuh dan mereka berlari ke tengah hutan menunggu pagi tiba. Sebagian lagi berkumpul di pusat desa dan melakukan perjalanan panjang selama satu minggu lebih menuju Bangladesh.

Selama perlajanan satu minggu inilah, Ahessan, Khatun dan kedua anaknya, Sameron dan adiknya, memiliki kisah tersendiri yang berbeda satu sama lain. Dengan ‘scene’ meloncat dari satu adegan ke adegan yang lain, kita seakan bagian dari perjalanan panjang mereka yang sangat melelahkan.

Dari hujan yang turun deras dan sungai meluap sehingga mereka tidak bisa meneruskan perjalanan, kehabisan bekal makanan, melahirkan di tengah perjalanan, perahu yang terbalik, menyeberang memakai rakit bambu yang reyot, bahkan menyeberangi muara dan laut dengan jeriken minyak yang diikatkan di badan.

Ketika mereka tiba di Bangladesh, episode baru mereka mulai. Tentunya dengan penderitaan dalam bentuk lain.

Sebelum masuk ke kamp, mereka harus melaporkan kedatangan ke kantor pencatatan pengungsi.
Mereka harus berdesak-desakan dengan pengungsi lain tanpa tempat berteduh selama seminggu lamanya dengan keadaan yang mengenaskan. Tanpa pakaian dan makanan yang layak. Ditambah dengan sanitasi yang buruk.

Ketika bantuan kemanusiaan datang, mereka harus berebut makanan dan pakaian dengan ratusan pengungsi lainnya di beberapa titik pembagian bantuan.

Kisah ditutup dengan Point of View wartawan yang mewawancarai orang-orang Rohingya. Menyajikan fakta tentang penderitaan orang-orang Rohingya tanpa ada sangkut pautnya dengan ARSA. Ketika banyak orang yang menyalahkan ARSA, sebagaimana klaim pihak Myanmar yang menyatakan mereka hanya membersihkan terorist (Baca: ARSA)


Menjawab bagian epilog kisah ‘Dalam Pelarian’ yang mengisahkan penyerangan ARSA (Arakan Rohingya Solidarity Army) terhadap pos-pos jaga polisi di perbatasan Buthidaung.

Silakan pesan dengan menghubungi No 0823 1739 7269 (SMS/ Telegram/ WA)
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

1 comment: