30 Jul 2017

Kerja Keras yang Sia-Sia


Allah berfirman, 
عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (٣) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً   
(karena) bekerja keras lagi kepayahan, mereka memasuki api yang sangat panas (neraka)
(QS. Al-Ghasyiyah ayat 3-4)

Kita mungkin salut melihat kegigihan orang yang bekerja dengan giatnya. Tapi rasa salut mungkin saja berubah menjadi belas kasihan andai kita tahu ternyata ada orang yang giat bekerja, tapi dia lupa akhirat. Bahkan hasil kerja keras tersebut dia gunakan untuk hal yang sia-sia bahkan bernilai dosa. Kepayahan di dunia, plus semakin payah di akhirat karena siksa.

Kepayahan yang tidak ada bandingnya, kepayahan yang terus menerus yang tidak mengenal kata jeda dan istirahat. Beda halnya kepayahan di dunia yang mengenal rehat walau sejenak.

Mereka bekerja keras demi tujuan duniawi. Bekerja keras untuk maksiat dan dalam rangka maksiat, dan sungguh kasihan, di akhirat harus masih “bekerja keras” di neraka yang panas dan dalam.

Maka, orang yang beriman akan selalu bekerja keras, tapi tidak melupakan hakikat akhirat. Qonaah dan sabar dengan kekurangan. Dan tidak tergiur dengan “jalan-jalan pintas” dalam mendapatkan rezeki. Tidak ingin menderita di dunia dan akhirat, tentu saja.

Orang yang bertakwa tidak ingin merusak akhiratnya dengan kemakmuran dunia yang sementara.

Orang yang bekerja keras tapi sia-sia dan mendapat siksa, bisa saja mereka adalah para ahli bid’ah. Mereka beribadah dan  mengharap pahala, tapi nyatanya amal mereka tertolak, dan mendapat ancaman siksa.

Mereka merasa sudah beramal maksimal dan sudah merasa melakukan amalan-amalan terbaik dan dicintai Allah, padahal nyatanya tidak . mereka beramal bukan di atas landasan ilmu. 

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ 
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. 
[QS. Al-Kahfi ayata 103-104]

Orang yang sia-sia dengan kerja kerasnya, adalah mereka yang tetap dalam kekafiran dan tertipu dengan keyakinannya yang sesat dan menyesatkan. Karena itulah, Ketika Umar bin Khatab melewati seorang pendeta yang sedang ‘beribadah khusyuk’ beliau berhenti sejenak dan memperhatikannya. Lalu beliau menangis sembari membaca firman Allah,’amilatun nasibah, tasla naaron haamiyah, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas.”

Ya, apa yang dilakukan pendeta itu kekhusyuan di dalam kekafiran.
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment