8 Jun 2017

Suara di jendela

Malam itu Nandi dan Husni menginap di rumah kakek Hasan. mereka menginap di rumah kakek Hasan karena kakek Hasan berjanji untuk membantu mereka menyelesaikan tugas sekolah untuk hari senin. Husni dan Nandi berdua tidur di kamar paman Rusli, anak bungsu kakek Hasan yang sekolah di sebuah pondok pesantren di jawa tengah. Jadi kamar tersebut kosong, hanya setahun sekali paman Rusli pulang ke kampung.

Tapi Nandi dan Husni tidak bisa tidur karena merasa gerah. Selain itu banyak nyamuk di kamar tersebut. Akhirnya Nandi dan Husni hanya mengobrol saja.

“Husni, katanya kalau kamar berminggu-minggu tidak diisi itu suka dihuni setan.”ujar Nandi sembari memainkan bantal.

“Ah, ada-ada saja kamu Nan, itu namanya tahayul. Cerita bohong yang tidak boleh kita percaya.”sergah Husni. Dia tidak suka Nandi menceritakan cerita yang seram-seram.
“Bener Hus, kata sarli, di rumahnya juga ada kamar bekas neneknya. Semenjak neneknya meninggal Sarli sering mendengar suara-suara aneh di kamar neneknya itu. kata Sarli, dia bahkan mendengar suara seseorang yang batuk dan bercakap-cakap.”
“Sudahlah Nan, jangan cerita hantu lagi. Nanti terbawa mimpi lho.”ujar Husni dengan cemberut.
“Kamu takut ya.”ejek nandi sembari tersenyum lebar.
“Tidak. Anak lelaki mana takut dengan cerita hantu bohongan.” Sergah Husni. Padahal di hatinya ia membenarkan persangkaan Nandi. Dia takut jika mendengar cerita-cerita hantu. Apalagi diceritakan di malam hari.
“Tahu tidak Hus, ternyata hantu itu_”Nandi menghentikan kata-katanya karena mendengar sesuatu di luar kamar mereka.
Husni dan Nandi saling tatap. Ada suara langkah kaki mendekati pintu kamar mereka. Nandi dan Husni merasa gelisah dan ketakutan luar biasa.
“Ini semua gara-gara kamu menceritakan hantu itu. akibatnya dia datang.”bisik Husni kepada Nandi.
“Itu kan cerita bohongan.”sergah Nandi dengan bisikan.”Mana mungkin hantu itu datang.”
“Itu buktinya. Suara itu.”
Suara langkah kaki semakin jelas terdengar mendekati kamar. Husni dan Nandi menahan napas dan melafalkan doa-doa.
Tiba-tiba…KREK…
Pintu kamar terbuka perlahan. Husni dan Nandi segera menutupi wajah mereka dengan selimut dan menajamkan pendengaran mereka.
Suara langkah kaki yang beradu dengan lantai kayu semakin jelas terdengar. Kemudian disertai suara batuk yang mendengkung.
Nandi tersenyum lebar.”Itu kakek.”
“Kalian belum tidur?”Tanya kakek dari pojok ruangan.
Husni dan Nandi menyibak kain selimut dan melihat kakek yang sedang menyalakan obat nyamuk bakar di pojok ruangan.”Malam ini banyak nyamuk cu.”
“Iya kek, kami tidak bisa tidur karena banyak nyamuk.”jawab Nandi.
Setelah kakek meletakan obat nyamuk bakar di pojok kamar, Husni dan Nandi bisa tidur tenang. Nyamuk-nyamuk tersebut tidak lagi mengganggu mereka.
Malam sudah larut ketika Husni mendengar suara di jendela. Seperti ada benda yang digesek-gesekkan di jendela kamar tersebut. Beberapa saat kemudian suara gesekan itu berubah menjadi suara ketukan yang samar.
Husni memicingkan matanya. Suara tersebut masih terus terdengar. Tiba-tiba dia teringat cerita Nandi. Jangan-jangan benar apa yang diceritakan Nandi. Kamar itu ada penghuninya, dan penghuninya tidak senang jika kamarnya ditempati mereka berdua.
Husni menggoyang-goyangkan bahu Nandi untuk membangunkannya.”Nandi, bangun!”
Nandi menggeliat dan hanya bergumam tidak jelas.
“Nandi bangun, ada suara di jendela.”
Nandi tetap bergeming dan mendengkur. Husni hanya bisa menahan kesal dan kembali berbaring disamping sahabatnya itu. mencoba tidak mempedulikan suara di jendela.
Tapi, semakin Husni berusaha untuk tidak acuh, semakin dia terganggu dengan suara itu.
”Besok pagi aku akan tanyakan pada kakek.”bisiknya. matanya masih tidak bisa terpejam.
***
Kakek tertawa mendengar cerita Husni ketika sarapan pagi. Sementara Nandi bertanya kepada Husni.
“Kamu tidak bohong kan?”Tanya Nandi. Ia meragukan cerita Husni.
“Ya sudah kalau tidak percaya. Aku sudah bangunkan kamu, tapi kamu kebluk.”jawab Husni sengit.
“Ayo ikut kakek.”ajak kakek sembari beranjak dari kursi.
“Mau  kemana kek?”Tanya Husni. Ia dan Nandi mengikuti langkah Kakek.
“Menghukum hantu yang membuat tidur kalian terganggu.”jawab kakek diiringi tawa.
Mereka menuju kamar bagian luar. Kakek tersenyum kepada Husni. Tangannya menunjuk ke arah jendela.”Lihat, ternyata ini hantunya.”
Di sana ada pohon kelapa yang belum terlalu tinggi. Satu dahan pohon kelapa yang sudah tua terjuntai hingga menyentuh daun jendela.
“Nah, ketika angin bertiup, maka dahan pohon kelapa ini bergoyang-goyang dan menimbulkan suara gesekan di daun jendela kamar kalian.” Terang kakek.
Kakek mengeluarkan bilah golok dari sarungnya yang biasa dia lingkarkan di pinggang dan memotong dahan kelapa tersebut sehingga tidak menyentuh daun jendela.
“Sekarang hantunya sudah mati.”ujar kakek.
Husni dan Nandi tertawa.



Husni Mubarok
Husni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment