8 Jun 2017

Panen Markisa

Hari ahad kali ini Nandi kembali mengajak Husni berkunjung ke rumah kakek Hasan. Apalagi kalau bukan untuk membaca buku-buku koleksi kakek Hasan.

Tapi sesampai di rumah kakek Hasan, mereka tidak menemukan kakek Hasan di teras sebagaimana biasanya. Pintu rumah juga dikunci.

“KEK! KAKEK!!” seru Nandi memanggil kakeknya.

“Mungkin kakek sedang keluar rumah.”ujar Husni.”Atau mungkin sedang dikebun, ayo kita ke kebun belakang.”

Mereka berdua beranjak ke belakang rumah. Ternyata benar apa yang dikatakan Husni, kakek sedang memanen buah markisa yang ranum dan sudah berwana kuning keemasan. Sebagian ada yang berwarna jingga.

“Waah..cucu-cucuku sudah pada datang rupanya. Mau bantu kakek memetik buah markisa?”
Husni dan Nandi menganggukan kepalanya bersamaan.

“Baiklah, kalian petik saja markisa yang ada di bawah. Biar kakek yang mengambil yang tinggi dengan galah.”ujar kakek. Dia beranjak menuju pipir (samping) rumah dan mengambil galah dari bambu sepanjang empat meter.

Tanaman markisa kakek merambat di pohon jambu air dan pohon sirsak yang berjajar rapi di samping dapur rumah kakek.

Banyak sekali buah-buahan yang ditanam di pekarangan rumah kakek Hasan. Belum lagi yang ditanam di kebun belakang rumahnya. Ada buah manga, jambu air, jambu batu, nanas, markisa dan lain sebagainya.

Tanpa menunggu lama, Husni dan Nandi segera memetik buah markisa yang terjangkau oleh tangan mereka berdua. Kemudian menyimpannya di keranjang yang terbuat dari anyaman bambu yang disediakan kakek.

Satu jam kemudian mereka sudah mengumpulkan dua keranjang buah markisa yang matang dengan berbagai ukuran.

 “Nanti mau dijual kek?”Tanya Husni.

“Bukan cu. Nanti kita membuat sirup markisa. Setelah jadi sirup baru dijual ke supermarket.”terang kakek Hasan.

Kakek Menyuruh Husni dan Nandi membelah buah markisa dan memerasnya menggunakan saringan. Setelah itu, saringan disaring kembali supaya ampas dan biji buah tidak terbawa.

Air perasan markisa tersebut ditampung dalam baskom. Kemudian kakek menambahkan larutan gula ke dalamnya. Terakhir kakek menambahkan bubuk putih ke dalam air sari markisa.

“Itu apa kek?”Tanya Nandi penasaran.

“Ini namanya natrium benzoate, ditambahkan supaya sirup markisa yang mereka buat tidak basi dan tahan lama.”

“Oh, berarti termasuk bahan pengawet buatan ya kek.”kata Nandi dengan mata yang berbinar.
“Wah, cucuku ternyata pintar juga.”puji kakek sembari tersenyum lebar.

“Tapi kek, kata bu guru, bahan tambahan makanan itu tidak baik bagi kesehatan kita. bisa menyebabkan kanker dan sebagainya.”terang Husni.

Kakek tersenyum dan menatap Husni.”bahan tambahan makanan itu banyak macamnya cu. Memang kebanyakan berbahaya bagi tubuh. Tapi tidak semuanya. Nah, kalo yang kakek tambahkan ini, selama tidak berlebihan, insya Allah aman untuk kesehatan.”

Setelah selesai memeras sari buah, kakek mengemasnya ke dalam botol dan memberinya label. Kemudian menutupnya dan menyegelnya.

“Nanti siang temani kakek menjualnya ke toko kue ya.”pinta kakek kepada Husni dan Nandi.
“Baik kek.”jawab Nandi dan Husni bersamaan.

***
Kakek merogoh kemejanya dan mengeluarkan dua lembar senilai dua puluh ribuan kemudian menyerahkannya kepada Husni dan Nandi.”Ini untuk kalian karena telah membantu kakek memanen markisa.”

Husni dan Nandi saling berpandangan. Tapi sejurus kemudian tersenyum lebar. Mereka menerima uang pemberian kakek Hasan dengan perasaan gembira.

Di rumah emak dan bapak heran melihat Husni pulang sembari mengacung-acungkan uang senilai dua puluh ribuan.

“Uang darimana Husni?” Tanya emak dengan tatapan heran.

“Dari kakek Hasan. Ini upah Husni karena sudah membantu kakek Hasan memanen markisa dan menjual sirupnya tadi siang.”

Bapak tersenyum bangga.”Rupanya anak bapak sudah mau belajar mandiri ya.”
“Ini uangnya dikemanain mak?”Tanya husni.

“Ditabung saja ya.”jawab emak.”uang jajan kan masih ada.”
Husni Mubarok
Husni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment