4 Jun 2017

Memahami skenario Allah

Sebuah film baru tidak akan pernah sukses, atau bahkan bangkrut jika para pemainnya tidak mau atau ogah membaca naskah skenario, tidak berusaha memahami skenario dan merasa tidak perlu naskah skenario.

Begitu pun dengan kita, kita butuh dan memang bergantung pada skenario Allah. Allah yang mengendalikan hidup kita. Alllah yang tahu apa yang terbaik dan apa yang buruk untuk hidup kita. Allah yang tahu untuk apa dan bagaimana kita menjalani hidup kita di dunia. Allah yang tahu apa yang kita inginkan dan kita harapkan. Hanya saja kita buta  akan makna kebahagiaan yang sesungguhnya.

Oleh karena itulah Allah memberi arahan dan petunjuk berupa islam. Yang di dalamnya ada aturan-aturan yang jelas dan lengkap yang tercantum di dalam al-Quran dan sunnah yang tidak ada keraguan dan kesalahan di dalamnya. Karena ‘film’nya sudah sempurna dan tinggal butuh kita yang bermain. Butuh kita yang menjadi peran. Ya, peran di medan perjuangan dan dakwah. Peran untuk menegakan syariat Allah.

Orang yang jauh dar al-quran dan sunnah maka dia tidak memahami skenario dari Allah. Maka dia akan selalu berada dalam kebingungan ketika ‘bermain’ di dunia ini.

Takutnya orang beriman

Jika ada orang yang takut tidak punya uang dan harta, maka orang yang beriman akan merasa takut tidak punya rasa jujur, syukur dan sabar. Jika ada orang yang takut tidak punya simpanan untuk masa tua, maka orang yang beriman merasa takut tidak diterima amal-amal solihnya sehingga dia selalu membasahi lisannya dengan doa dan istighfar. Jika ada orang yang takut jika hartanya lenyap dirampok, takut hartanya hilang karena perebutan warisan, maka orang yang beriman takut jika dia meninggal dalam keadaan hilang iman. Maka dia berdoa kepada Allah untuk menetapkan iman dan islam sampai akhir hayatnya.

Ada juga orang yang takut tidak memiliki penampilan yang bagus, maka orang yang benar-benar beriman justru merasa takut penampilannya akan membawa fitnah [cobaan].
Jadi, beda takutnya antara orang-orang yang pecinta dunia dengan orang-orang yang benar dengan keimanannnya.
Dan Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. [asy-syams ayat 8]
Dengan ketakutan kepada Allahlah, orang-orang yang benar dengan keimananannya akan memilih jalan keimanan yang bertabur dengan cinta untuk mena’aati-Nya sehingga mendapat gelar takwa.
Orang yang tidak kenal dengan Allah swt akan selalu dicekam rasa gelisah karena tidak ada tempat bersandar untuk hidupnya.
Ibarat seorang yang mengembara ke dalam hutan belantara tanpa membawa peta. Atau ibarat seseorang yang selalu ditutup matanya ketika berjalan. Selalu dirundung was-was karena takut terperosok atau tersandung batu di kakinya.
Orang yang tidak memiliki iman tentunya rasa takutnya lebih besar kepada selain Allah. Dan ini salah satu kemusyrikan. Allah dipersekutukan dengan majikan, kekayaan, anak dan istri.
Istri lebih takut dimarahi suami daripada dimurkai Allah. Sehingga melanggar aturan ilahi tidak menjadi masalah, yang penting suami senang. Lebih takut kehilangan kekuasaan daripada kehilangan iman. Sehingga menghalalkan segala cara supaya kekuasaannya panjang dan menghasilkan banyak keuntungan. Keuntungan pribadi, keluarga dan kelompoknya. Lebih suka dipuji banyak orang daripada diridhoi Allah. Sehingga hanya demi pujian dan sanjungan manusia itu, dia rela melakukan segala cara. Bahkan membuat fitnah dan rekayasa demi menjatuhkan lawannya.  Manusia lebih takut menghadapi pengadilan dunia daripada mahkamah ilahi di akhirat kelak. Sehingga dia mengerahkan daya dan upaya sehingga bisa lolos dari jeratan mahkamah dunia, dengan sogokan misalnya, atau dengan mengerahkan opini masa. Sehingga bisa tenang melenggang. Yang salah dianggap benar, bahkan pahlawan, dan yang benar dianggap salah dan masuk penjara.

Tidak ada yang paling nikmat dalam hidup ini kecuali dapat melihat Allah dalam segala situasi dan kondisi. Allah mampu melakukan segalanya. Saat kita terkena satu kesulitan bisa saja itu merupakan salah satu peringatan dari Allah swt. Mungkin maksud dari tujuan itu, supaya kita kembali untuk mengingat Allah dan menyadari kelalaiannya.
Banyak orang yang lalai ketika dipenuhi gelimang kenikmatann, tapi ketika musibah datang barulah dia sadar. Oleh karena itu, hendaknya kita bersabar dan bahkan bersyukur ketika mendapat musibah. Boleh jadi, dengan kesabaran kita ketika tertimpa musibah tersebut, Allah meninggikan derajat kita tersebab kesabaran dan keridhaan kita.
Sahabat, dosa kita mungkin banyak dan tidak terhitung, karena kita bukan malaikat. Pasti ada peluang untuk tergelincir. Tapi perlu diingat, kita juga bukan setan sehingga peluang untuk selamat pun masih terbuka lebar. Kita masih punya kesempatan untuk bertaubat dan berbenah diri.
Jangan menganggap remeh dosa, betapa pun kecilnya dosa yang diperbuat. Semua perbuatan akan diperhitungkan dengan rapi dan tidak akan ada yang lolos satu pun dari pengawasan-Nya. Kata ulama bijak,”Jangan lihat kecilnya dosa, tapi  lihatlah, terhadap siapa dosa itu diperbuat.”

Sahabat, seseorang yang merintih pilu dan menghiba kepada Allah dipagi hari karena melakukan dosa di malam hari, bisa jadi lebih mulia di hadapan Allah, dibanding dengan seorang yang menghiasi malamnya dengan ibadah yang panjang, tapi memasuki pagi hari dengan perasaan bangga dengan amalannya semalam.

Husni Mubarok
Husni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment