19 Jun 2017

Kenapa Saya Selalu “Menyerang” Salafi?


Mungkin ada beberapa diantara teman medsos saya yang merasa sebal karena seringnya timeline saya dipenuhi oleh kritikan demi kritikan terhadap kelompok yang disebut salafi. Mengingat, di beberapa postingan tersebut, ada diantaranya yang terkesan pedas dan bahkan sekilas terlihat provokatif.

Oke, sebelum terjadi fitnah dan kesalah pahaman, saya ingin meluruskannya. Saya tidak ingin ada fitnah bahwa saya seorang yang benci dengan dakwah sunnah, atau saya seorang hipokrit yang suka menyerang saudara sendiri. Sama sekali tidak. saya tak ingin ada asap tanpa ada api.

Mungkin banyak yang beranggapan saya mengobarkan kebencian antara sesama muslim, meributkan hal-hal yang sepele dan lain sebagainya. Dan hal ini sering membuat saya khawatir ketika saya akan memposting tulisan-tulisan bernada “provokatif”, karena tidak sedikit teman-teman medsos saya yang  mengaku salafi.

Ada baiknya saya terfokus pada pernyataan-pernyataan yang sering saya khawatirkan.
Saya memprovokasi sesama muslim untuk saling membenci?

Sama sekali tidak. saya tidak ingin muslim yang mengaku salafi dengan muslim yang oleh orang salafi bukan termasuk “salafiyun” berantem tanpa jelas juntrungnya.

Asal tahu saja, awal kegerahan saya terhadap beberapa “oknum” salafi [saya menyebutkan beberapa karena masih ada ikhwan salafi yang bersikap moderat terhadap saudara muslim non-salafiyun] adalah karena seringnya komentar-komentar pedas bahkan fitnah yang sangat keji dilontarkan kaum salafiyun terhadap harokah-harokah islam dan kaum muslimin yang diluar kelompoknya.

Sebut saja Ikhwanul muslimin, al-Qaeda, Hamas, dan lain sebagainya. Pun dengan media-media islam yang menurut mereka bukan media salafiyun.

Jujur saja, awal-awal saya sangat bangga dengan dakwah salafi. [sebenarnya sih sampai sekarang saya merasa bangga dengan salafi J]

Betapa gigihnya mereka mendakwahkan sunnah, dan memberantas kebusukan bid’ah, khurafat, bahkan kesyirikan hingga ke akar-akarnya. Sehingga tak heran jika gerakan salafi dibenci oleh jamaah-jamaah yang merasa terganggu dengan dakwah pemurniannya.
Bahkan ada kasus pengajian salafi sampai dibubarkan oleh jamaah yang benci dengan dakwah tauhid dan sunnah.

Bahkan dari website salafi saya banyak belajar islam yang sesungguhnya. Semoga Allah memberi keberkahan kepada mereka.

Di sini, saya angkat topi dan angkat dua jempol untuk salafi.

Tapi kebanggaan dan rasa hormat saya seakan jatuh ke jurang yang terdalam setelah saya tahu, ternyata salafi tidak “sebaik” yang saya kira. [saya tekankan lagi, bahwa tidak semua salafi bersikap ‘esktrim’]

Kekecewaan pertama, ketika di website dan chanel salafy indonesia saya banyak ditemukan tulisan-tulisan yang memojokan bahkan mencerca sayyid Qutb dan Hasan al-Bana. Dua tokoh sentral dalam gerakan Ikhwanul Muslimin.

Memang, banyak kekurangan yang ada pada pribadi Sayid Qutb dan Hasan al-Bana as human being [sebagai manusia biasa] mereka tidak luput dari kesalahan. Tapi mereka juga memiliki jasa yang tidak sedikit untuk mengibarkan panji islam.

Sayangnya, salafi terlalu bernafsu mengekpos semua kekurangan-kekurangan mereka dengan penuh nada kebencian dan provokatif. Tanpa pernah sakalipun melirik kebaikan yang banyak dari dua tokoh tersebut.

Bahkan mereka dengan entengnya menyesatkan Sayid Qutb hanya karena terburu-buru mengambil kesimpulan dari buku dan karya Sayid Qutb. Untuk membedah karya Sayid Qutb, sobat bisa membacanya di Sini

Kekecewaan yang kedua, karena salafi telah mentahzir tokoh-tokoh  IM dan organisasi yang sejenisnya, maka tak pelak, salafi pun mulai menyasar organisasinya. Mereka bahkan dengan beraninya memberi komentar-komentar yang menurut saya sama sekali tidak ilmiah, bahkan SAMPAH. Saya ulangi, yang keluar dari mulut mereka dan yang mereka tulis [mengingat besarnya fitnah yang mereka lontarkan] benar-benar sampah yang sangat menjijikan.


Bisakah sobat melihat ada sisi ilmiah dari screenshoot tersebut? Sama sekali tidak! bagaimana mungkin IM yang bertahun-tahun mencoba menegakan syariat islam disebut sekuler? Bagaimana mungkin IM yang bercita-cita menegakan hukum islam dekat dengan sosialisme? Bahkan tokoh-tokoh IM pun harus menderita di penjara-penjara rezim sosialis dengan siksaan demi siksaan yang tak terperikan.

Bukan hanya sekali ini saya menemukan fitnah-fitnah seperti itu. terlalu sering sehingga membuat panas kuping. Semoga Allah membalas fitnah mereka. 

Kekecewaan yang ketiga, Salafi mentahzir harokah-harokah islam dan ustadz yang ada di dalam harokah-harokah tersebut dengan sebutan hizbiyah. Ini sebenarnya ucapan lidah yang sangat buruk. Pernahkan mereka tabayun?  Pernahkan mereka bertanya dan berpikir lebih jauh.

Benarkah berorganisasi itu bidah? Silakan cek tulisan bernas tentang hal ini DISINI

JUGA BISA DIBACA DI SINI

Jika belum paham tentang apa itu Ashobiyah bisa membacanya DISINI

Justru yang saya lihat, yang paling ashobiyah itu adalah mereka sendiri sendiri. Istilahnya, maling teriak maling. Mereka teriak hentikan ashobiyah, mereka sendiri yang terjebak ashobiyah. Bangga dengan sebutan salafi,dan meremehkan bahkan gampang mentahzir mereka yang diluar salafi. Tidak mau mengaji di kajian yang bukan diselenggarakan oleh salafi. Sampai-sampai merilis daftar ustadz salafi dan kajian salafi. Biar para mad’unya nggak tersesat di kajian non-salafi. [sedihnya...]

Kekecewaan yang keempat, salafi sering bersikap tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Bahkan menurut saya, salafi mirip-mirip orang-orang yang berfaham murjiah. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di SINI

Mereka dengan gampangnya mengkritik kaum muslimin yang tidak taat terhadap ulil amri [baca; pemerintah kita] karena kebijakan –kebijakan yang dzalim dan bahkan pembunuhan aktifis muslim, tetapi ketika pemerintah benar-benar berbuat dzalim terhadap kaum muslimin, mereka sama sekali tidak berani mengkritik pemerintah. Pernahkah salafi mengkritik densus 88 yang banyak menumpahkan darah para aktifis muslim? Alih-alih mengkritik densus, justru salafi mengkritik para mendemo dan pengkritik pemerintah yang dzalim  dengan sebutan yang sangat menyakitkan..

Oke, itu baru di indonesia. Salafi di timur tengah setali tiga uang. Mereka begitu fasih mencerca Ikhwanul Muslimin yang mencoba menerapkan hukum islam di mesir. Mereka diam ketika Ikhwanul muslimin ditindas dan didzalimi.

Bahkan ketika pemerintahan Mursi dikudeta, mereka bahkan bungkam dan tidak mengkritik al-Sisi [semoga Allah melaknatnya]. Sebaliknya, mereka malah mengkritik  IM karena ikut demokrasi, mereka mengkritik para mendemo, mereka mengkritik IM yang dianggap tidak menjaga keamaan darah kaum muslimin. Aneh! Yang menumpahkan darah itu, IM atau si Sisi yang sekuler. Otaknya udah kacau mungkin. Seharusnya mereka mengkritik al-Sisi dan antek-anteknya yang membuat situasi kacau. Yang telah mengacaukan pemerintahan yang sah.

Ngomongin soal pemerintah dan demokrasi. Mereka mengharamkan demokrasi tapi menerima produk demokrasi sebagai ulil amri. Jika kita umpamakan demokrasi itu babi,Nggak mungkin kan babi ngelahirin kambing. Ya jelas, babi ngelahirin babi, tapi kenapa pemimpin hasil demokrasi disebut ulil amri? Nah, nggak konsisten kan?

Kekecewaan terakhir, salafi yang sekarang saya kenal, tak lebih dari alat para rezim penguasa, yang selalu menjilat penguasa dan menempel di tubuh penguasa.

Sebagai contoh, yang baru-baru ini terjadi, yakni krisis negara teluk, Qatar. Ceritanya Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, bahkan memblokade dan menutup jalur penerbangan Saudi-qatar dengan alasan Qatar mendanai organisasi-organisasi teroris. Kebijakan ini diikuti oleh Mesir, Yaman, UEA, Bahrain.

Organisasi teroris yang dimaksud saudi adalah Ikhwanul Muslimin, Hamas dan al-qaeda.
Dan tahukah pemirsa, tak lama setelah itu, salafi langsung cuap-cuap apa yang dilakukan saudi itu tepat.


Bahkan memuji langkah saudi yang menutup kantor berita aljazeera yang didanai oleh Qatar. Salafi kembali cuap-cuap seakan tak punya otak bahwa aljazeera itu media teroris. Saya greget, terorisnya aljazeera apa ya. Maksa banget nih.’

Tak lama kemudian, Saudi merilis individu-individu yang tersangkut organisasi teroris, diantaranya adalah Syaikh Yusuf Qardawi, dan memerintahkan untuk menarik buku-bukunya dari pasaran di seluruh saudi.

Lagi-lagi Salafi bercuap-cuap enteng tentang “bahaya” Qardhawi. Di sini saya pengen gigit bantal. Separah inikah salafi?!

Berbarengan dengan rilis individu-individu yang tersangkut teroris, Saudi juga merilis yayasan dan organisasi amal plus individu yang berada di dalamnya [mayoritas dari Qatar] sebagai yayasan teroris. Padahal nyatanya, yayasan-yayasan tersebut berkontribusi untuk membantu anak-anak yatim dan janda yang ada di negeri-negeri muslim. Khususnya di daerah konflik semacam gaza.

Tahukah anda, apa yang dilakukan salafi setelah itu, lihat!

Jika anda tanya, apakah saya benci? Jelas saya benci. Anda bisa menangkap semua kebencian saya sejak paragraf pertama di atas.

Tapi terlepas dari semua itu, semoga oknum-oknum salafi sadar sesadar-sadarnya. Dan kembali ke jalan dan manhaj salaf. Karena yang saya tahu, kaum salaf sangat hati-hati dalam mentahzir ulama yang lain. Kaum salaf sangat penyayang dan tidak tajam lidahnya. kaum salaf tidak pernah menyukai perpecahan. Kaum salaf bukan alat pemerintah, bahkan menjauhi dekat-dekat dengan pemerintah. [dalam artian tidak menjadi alat pemerntah untuk menyerang kaum muslimin yang lainnya.

Di sini, bukan saya anti pemerintah. Kita proporsional aja. Jika pemerintahnya baik dukung, tapi jika pemerintah dzalim, kita upayakan untuk berusaha merubah. Dan merubahnya tentu dengan menerapkan syariat islam di seluruh negeri, khususnya indonesia.

Wahai saudara salafi, tidakkah kau rindu syariat islam  tegak di indonesia? Jangan hanya berputar-putar di kajian-kajjian tentang ibadah-ibadah sunnah, sampai-sampai merilis ustadz sunnah, tapi cobalah untuk mulai membahas pentingnya menegakan syariat islam di tatanan negara dan perundang-undangan. Bukankan hukum itu milik Allah, bukankah menerapkan syariat islam itu wajib. Apakah perlu kami merilis ustadz-ustadz wajib dan kajian wajib yang membahas tentang penerapan syariat islam, dan penderitaan kaum muslimin di berbagai negara karena tidak menerapkan syariat islam? Saya rasa tidak sekonyol itu.

Dan yang saya tahu, orang yang menyepelekan hukum Allah, bahkan menyatakan hukum Allah itu tidak perlu tegak, adalah faham murjiah.

Lalu pertanyaannya apakah saya mengobarkan perpecahan? Terserah bagaimana penilaian anda. Yang jelas, saya tidak mutlak membenci dakwah salafi. Toh sampai saat ini [bukan maksud menyombongkan diri. hehe] saya masih suka mengoleksi video-video kajian ustadz-ustadz Salafi. Dan yang saya tahu, tidak semua ustadz salafi keblinger. Ada sebagian yang masih waras dengan berpikiran moderat dan dekat dengan ummat islam di luar salafiyun. contohnya ustadz Khalib Basalamah. Beliau dekat dengan ustadz-ustadz di luar salafiyun dan tidak pernah sekalipun mengatakan harokah-harokah islam itu hizbiyun. 

Saya pun selalu menjadikan website-website salafi sebagai rujukan dalam setiap permasalahan dan penulisan artikel.

Hanya saja, saya berharap, pemikiran-pemikiran salah dari salafi tidak merebak. semoga saja saya bisa sedikit berkontribusi dengan adanya tulisan ini.

Sekian, jika perlu untuk diskusi sehat dan membangun silakan ditulis di komentar. Spesial buat saudara salafi.

Wallahu a'lam
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

10 comments:

  1. Kalau Ustad "haroki" manhajnya dianggap tidak jelas, lalu yang manhajnya jelas itu apakah seperti ;
    1. Ustadz B yang menganggap Densus 88 berijtihad ?
    2. Atau Ustadz RB yang menghalalkan penumpahan darah demonstran ?
    3. Atau Ustaz YJ yang menganggap persatuan dan ukhwwah itu harus semanhaj ?
    .
    Sebaiknya mereka disuruh bantu ngurusin kambing ulil amrinya yang suka lepas keluar kandang daripada ngrecokin umat yang sedang berjuang menghadapi si penghujat Islam dan penguasa zhalim tukang bikin onar.
    .
    Mereka hanya duduk di depan meja sambil ceramah bla bla bla lalu di syuting seraya mentahdzir & mencela orang sana-sini.
    .
    Mereka serahkan semua problematika umat kepada “Ulil Amri yang jelas-jelas mendukung segala kemaksiatan ini.
    .
    Mereka tak akan pernah merasakan dinginnya penjara karena menentang peredaran miras atau pembangunan diskotik dan gereja liar, karena bagi mereka semua ini adalah perbuatan khawarij yang tidak percaya kepada Ulil Amri
    .
    dan saya tidak yakin mereka pernah merasakan tekanan penguasa dan aparat yang zhalim ini. Yang ada justru mereka dipuja-puji oleh para munafiqin.

    ReplyDelete
  2. Dai Antek Penjajah*

    Oleh : Sahlan Ahmad

    "Taat pemimpin pada hal yang makruf. Dan mengingkarinya dalam hal yang mungkar."

    Itulah slogan yang selalu dinyanyikan oleh grup salafi.

    Seolah menjadi lagu wajib nasional. Tidak setuju, berarti khawarij.

    Kaidah tersebut benar, kalau ditempatkan pada tempatnya.

    Seperti, di negara yang berasaskan Islam. Dan dipimpin oleh seorang muslim.

    Namanya juga manusia, tidak ada pemimpin yang seratus persen benar.

    Di situlah kaidah itu berlaku. Kita taat Padanya dalam hal yang makruf dan mengingkari dalam hal yang mungkar.

    Namun jika kaidah ini dipakai secara membabi buta, maka akan menimbulkan penyimpangan.

    Misalkan kaidah ini dipraktekan di negara koloni (negara boneka),

    Maka selama-lamanya penjajah tidak akan hengkang kaki dari negara jajahannya.

    Dulu, penjajah Belanda mengangkat beberapa raja sebagai kepanjangan tangannya.

    Rajannya adalah seorang muslim dan putra daerah. Tapi bekerja untuk kepentingan penjajah.

    Bayangkan jika kaidah di atas dipraktekan.

    Maka Pangeran Diponegoro adalah khawarij.

    Kenapa? Karena menentang penguasa yang mengaku muslim. Walaupun sejatinya bekerja untuk penjajah.

    Seharusnya Pangeran Diponegoro taat kepada penguasa dalam hal yang makruf, dan ingkar dalam hal yang mungkar.

    Menasehatinya pun harus diam-diam. Tidak boleh terang-tarangan. Apa lagi angkat pedang.

    Bisa jadi khawarij 24 Karat.

    Demikian juga jika kaidah ini dipraktekan di negara demokrasi sekuler.

    Selama lamanya tidak akan ada yang namanya Islam kaffah.

    Jangan berkoar-koar kembali kepada Sunah, sementara junjunganmu menolak Islam kafah.

    Bagaimana mungkin kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah, sementara junjunganmu menjadikan Al Qur'an sebagai barang bukti kejahatan?

    Salafi... Salafi. Bangun toh nak.... Hari sudah sore.

    ReplyDelete
  3. Hai Salafi, Beginilah Mendudukkan Arti Ketaatan*

    Oleh : Sahlan Ahmad

    "Taat pemimpin pada hal yang makruf. Dan mengingkarinya dalam hal yang mungkar."

    Itulah slogan yang selalu dinyanyikan oleh grup salafi.

    Seolah menjadi lagu wajib nasional. Tidak setuju, berarti khawarij.

    Kaidah tersebut benar, kalau ditempatkan pada tempatnya.

    Seperti, jika diterapkan di negara yang berasaskan Islam. Dan dipimpin oleh seorang muslim.

    Namanya juga manusia, tidak ada pemimpin yang seratus persen benar.

    Di situlah kaidah itu berlaku. Kita taat padanya dalam hal yang makruf, dan mengingkari dalam hal yang mungkar.

    Namun jika kaidah ini dipakai secara membabi buta, maka akan menimbulkan banyak penyimpangan.

    Misalkan kaidah ini dipraktekan di negara koloni (negara boneka),

    Maka selama-lamanya penjajah tidak akan hengkang kaki dari negara jajahannya.

    Dulu, penjajah Belanda mengangkat beberapa raja sebagai kepanjangan tangannya.

    Rajannya adalah seorang muslim dan putra daerah. Tapi mereka bekerja untuk kepentingan penjajah.

    Bayangkan jika kaidah di atas dipraktekan. Maka Pangeran Diponegoro adalah khawarij.

    Kenapa? Karena beliau menentang penguasa yang mengaku muslim. Yang walaupun sejatinya bekerja untuk penjajah.

    Seharusnya Pangeran Diponegoro taat kepada penguasa dalam hal yang makruf, dan ingkar dalam hal yang mungkar.

    Menasehatinya pun harus diam-diam. Tidak boleh terang-tarangan. Apa lagi angkat pedang.

    Jika tidak, bisa jadi khawarij 24 Karat.

    Demikian juga jika kaidah ini dipraktekan di negara demokrasi sekuler. Yang bekerja di bawah komando PBB.

    Jika nekat menggunakan kaidah ini pada negara demokrasi sekuler, selama-lamanya tidak akan ada yang namanya Islam kaffah.

    Jangan berkoar-koar kembali kepada Sunah, sementara junjunganmu menolak Islam kafah.

    Bagaimana mungkin kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah, sementara junjunganmu menjadikan Al Qur'an sebagai barang bukti kejahatan?

    ReplyDelete
  4. JIHAD PALESTINA, ANTARA “SALAFI” DAN CONGOR SETAN

    Ketika penduduk Palestina lemah, justru semakin kalian lemahkan dengan “fatwa hijrah”. kalian cerca penduduk Palestina yang hanya bersenjatakan lemparan batu. Kalian comot dalil larangan melempar batu karena tidak membuat takut. Lantas, apa yang akan mereka lempar sedangkan di sekitar mereka yang ada hanyalah batu ?! Ketika batu berganti senjata tatkala saudara kami Doktor Muhammad Mursi terpilih menjadi presiden, maka dibukanya perbatasan Mesir, dipasoknya senjata bagi penduduk Palestina. Mereka pun ngkat senjata, namun congor kalian justru mengatakan “jihad Palestina tidak syar’i”.

    Kalian memang bengis! Kalian bergabung dengan As-Sisi menggulingkan Doktor Muhammad Mursi, membuat penduduk Palestina kembali ke zaman batu. Kalianlah sebenarnya ‘wasilah’ PENJAJAHAN dan PEMBANTAIAN terhadap penduduk Palestina itu. Dengan entengnya kalian mengatakan Allah yang akan menjaga Masjidil Aqsha, berdalil dengan kasus Abrahah. Kalian tolol atau dungu atau bahkan kedua-duanya? Allah menjaga Ka'bah dengan thoyron abaabil (burung ababil). sedang Allah akan menjaga Masjidil Aqsha dengan penduduknya!

    Kata Rasulullah:

    أول هذا الأمر نبوة ورحمة ثم يكون خلافة ورحمة ثم ملكا ورحمة ثم إمارة ورحمة ثم يتكادمون عليها تكادم الحمير فعليكم بالجهاد وإن أفضل جهادكم الرباط وإن أفضل رباطكم عسقلان . رواه الطبراني بسند صحيح.

    “Permulaan dari perkara Islam ini adalah kenabian dan rahmat. Kemudian tegaknya khilafah dan rahmat. Kemudian berdiri kerajaan dan rahmat. Kemudian berlaku pemerintahan (kerajaan kcil-kecil) dan rahmat. Kemudian orang-orang memperebutkan kekuasaan seperti kuda-kuda yang berebut makanan. Maka (pada saat seperti itu), maka wajib bagi kalian BERJIHAD. Sesungguhnya jihad yang paling utama adalah ribath, dan sebaik-baik ribath kalian adalah di Asqalan (wilayah Palestina yang kini dalam cengkeraman penjajah Zionis Israel).”

    (HR. Thabrani )

    Pertanyaannya:

    1. Sudah adakah orang-orang memperebutkan kekuasaan seperti kuda-kuda yang berebut makanan sebagaimana yang Rasulullah sabdakan? Sudah. Hanya orang buta mata buta hati yang tidak mampu melihatnya.

    2. Bagaimana mungkin ada ribath jika penduduknya hijrah semua? Mikir !!!

    Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda:

    لا يزال من أمتي قوم ظاهرين على الناس حتى يأتيهم أمرالله

    “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang menegakkan agama Allah, orang-orang yang memusuhi mereka maupun tidak mau mendukung mereka sama sekali tidak akan mampu menimpakan bahaya terhadap mereka. Demikianlah keadaannya sampai akhirnya datang urusan Allah.” Lalu Malik bin Yakhamir menyahut, “Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa mereka berada di Syam.” Kemudian Mu’awiyah berkata, “Lihatlah, ini Malik menyebutkan bahwa ia telah mendengar Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa kelompok tersebut berada di Syam.”

    [HR. Bukhari: Kitabul Manaqib no. 3369 dan Muslim: dalam Kitabul Imarah no. 3548]

    Kata Rasulullah:

    “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berada di atas kebenaran, mengalahkan musuh-musuhnya, dan orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya terhadap mereka kecuali sedikit musibah semata. Demikianlah keadaannya sampai akhirnya datang urusan Allah.” , “Wahai Rasulullah, di manakah kelompok tersebut?” tanya para sahabat. Rasulullah menjawab, “Mereka berada di Baitul Maqdis dan serambi Baitul Maqdis (palestina).”

    JIKA dikatakan dalam hadits itu “senantiasa ada sekelompok umatku yang menegakkan agama Allah”, maka dapat dipahami bahwa apapun kondisi yang menimpa Palestina, penduduknya akan tetap di sana untuk menegakkan agama Allah. Kalian malah dengan konyolnya mengatakan yang akan menolong Masjidil Aqsha adalah Allah, tapi kalian “tidak percaya” jika Allah akan menolong penduduk Palestina. Bukankah Rasulullah bersabda, “ORANG-ORANG YANG MEMUSUHI MEREKA TIDAK AKAN MAMPU MENIMPAKAN BAHAYA TERHADAP MEREKA KECUALI SEDIKIT MUSIBAH SEMATA”. ??!

    Kalian.. Ya kalian (“Salafy”) adalah congor setan !!! Hijrah ! Hijrah ! Ente itu yang harus hijrah menjadi kaki tangan intelijen.!

    Ustad Fahmi Zakaria

    ReplyDelete
  5. orang salafi selalu menyamakan orang yang tidak pro kepada Saudi sebagai orang-orang yang pro-syiah, atau paling tidak sudah termakan propaganda syiah. Sama seperti menganggap bahwa semua yang ada di kolam adalah ikan mujair, padahal bisa jadi ada belut, ada lele dll. Kita mengkritik Saudi bukan termakan propaganda syiah, kita melihat fakta-fakta di lapangan. Ketika saudi berada di belakang barisan amerika dalam membunuh sesama muslim dengan dalih terorisme. Sudahlah,

    ReplyDelete
  6. Ketika 'Salafi' Menyerang Demo dengan Tameng Arab Saudi yang 'Peduli'

    Salafi selalu menjadikan arab saudi sebagai contoh dan tameng bentuk kepedulian untuk Palestina. "Lihat saudi! Saudi telah membantu palestina!"
    .
    Jadi salafi yang diindonesia nggak perlu galang dana lagi ya. cukup cuap-cuap dari taklim ke taklim. Cukup doa saja, sudah diwakili sama Saudi. Soal aksi kemanusiaan-aksi kemanusiaan orang-orang "non salafi" itu nggak ada apa-apanya dibanding arab saudi. supeeer!!! bangga ni ye...
    .
    kalau mau jujur, selain arab saudi, ada turki yang selalu menjadi terdepan dalam membantu kaum muslimin, senyap dari promosi orang salafi, karena pemerintah turki itu pemerintah bid'ah dan ikhwani.
    .
    hebatnya, 'ikhwani' di seluruh dunia tidak menjadikan turki sebagai tameng bentuk kepedulian. mereka tetap terus menggalang dana, walaupun role model mereka (baca: turki) telah memberikan banyak bantuan untuk palestina, rohinyga, suriah dan lain-lain.
    .
    Mereka tidak bilang, "Lihat turki. Turki telah membantu palestina" tapi mereka bilang, "Kami akan turut serta membantu"

    ReplyDelete
  7. *Menyoal Demonstrasi: Logika Terbalik Para Pengklaim Sebutan ‘Salafi’*

    Sabtu, 16 Desember 2017 23:08


    KIBLAT.NET – Semua tahu daging babi itu haram. Semua juga sepakat kalau turunannya, olahannya, sekecil apapun bentuknya, haram juga hukumnya. Ini logika yang kita pakai. Sayangnya, logika seperti ini tidak dipakai kaum yang sering mengklaim dirinya sebagai ‘Salafi’. Terutama dalam masalah demokrasi. Hukum demokrasi mereka tegas mengharamkannya, tetapi turunan demokrasi, hasil-hasilnya, mereka menikmatinya. Menghukumi para penguasa negeri demokrasi sebagai ‘ulil amri’. Dan menuduh para pengkritik penguasa, yang sejatinya berjuang untuk Islam, sebagai kaum ‘khawarij’. Sayangnya, sikap seperti ini banyak mereka tunjukkan justru saat penguasanya cenderung sekuler. Saat penguasanya Muslim, mereka tidak konsisiten, dan ikut-ikutan kaum sekuler menggoyang penguasa. Apa yang terjadi di Mesir adalah contoh nyata. Saat Mursi dikudeta mereka diam saja, saat Al-Sisi didemo, mereka bilang haram hukumnya.

    Saya tidak tahu pasti alasan kaum pengklaim sebutan ‘Salafi’ bersikap seperti ini. Dari survey acak yang saya lakukan, dan hasil interaksi dengan mereka, saya menduga ini karena kekurang-pahaman mereka tentang dunia politik, atau istilah kerennya siyasah syar’iyyah. Tidak sampai di pikiran mereka, bagaimana jika para penguasa ini ‘ditunggangi’ musuh-musuh Islam. Bagaimana jika ternyata, ‘Salafi’ ini dimanfaatkan penguasa untuk memuluskan agenda pribadi mereka. Tetapi jika pun mereka tidak paham politik, mestinya jangan banyak berkomentar, karena akan kelihatan tidak profesional. Persis seperti Abu Janda, yang ‘gak ono pinter-pintere blass’ itu.

    Semua sepakat, jika ada orang lain ingin merebut dan menempati rumah kita, kita wajib mempertahankannya. Apalagi rumah kita juga sah secara legal, lengkap dengan Sertifikat dan IMB-nya. Bahkan jika orang terus memaksa, maka tetangga, saudara, msayarakat akan dengan sukarela membantu kita. Tetapi pengaku ‘Salafi’ tidak sepakat dengan ini. Untuk urusan Palestina, mereka menyuruh orang Palestina, sang pemilik rumah yang sah untuk pergi, dan memberikan tanah tumpah darah mereka kepada Yahudi. Alasannya bisa macam-macam. Mungkin salah satunya untuk I’dad, persiapan berjihad merebut kembali tanah Palestina. Tetapi, kaum pengaku ‘Salafi’ mana punya pengalaman Jihad, wong kaum Jihadis banyak mereka hukumi sebagai ‘khawarij’. Lagi-lagi, mereka tidak profesional, tidak mampu menyatukan kata dan perbuatan. Dan beginilah mentalitas Abu Janda, manusia ‘gak ono pinter-pintere blass’ itu.

    Saya tidak tahu pasti, apakah mereka bisa memahami ayat 19 surat At-Taubah. Karena prakteknya jauh panggang dari api. Pengklaim ‘Salafi’ tampak lebih dominan hanya dari taklim ke taklim, tetapi minim aksi solidaritas dunia Islam. Jikapun tampak kegiatan outdoor, rata-rata fasilitasnya cukup wah, seperti program Muslim Family Land itu. Ustadz-ustadz merekapun, paling jauh tampak tidur di kursi, tetapi kursi bandara, sementara ustadz ‘Non Salafi’ sering tampak tidur di tikar rumah-rumah pedalaman.

    ‘Ala kulli hal, pengaku diri sebagai kaum ‘Salafi’ adalah salah satu elemen umat ini. Mereka eksis, memiliki kontribusi riil, dan menjadi bagian integral ummat. Mari doakan mereka dalam kebaikan, agar berubah cara berfikir dan bertindaknya. Meyakini bahwa Islam tegak melalui berbagai pengorbanan, bukan sekedar taklim ke taklim. Memahami bahwa perjuangan Islam berasa nikmat saat diliputi banyak keterbatasan, bukannya dengan pelbagai fasilitas ‘wah’ dan perut terus-terusan kenyang. Wallohu a’lam.

    ReplyDelete
  8. Lagi!!! Penulis yg dangkal akalnya..kolot..penuh dengan tipu daya..
    Kalo kamu bilang Hasan Al-Banna punya kebaikan, lantas apakah penguasa yg zholik tidak mempunyai kebaikan..
    Kalau begitu kenapa Alloh memasukkan orang2 kafir ke dalam neraka, apakah mereka tidak mempunyai kebaikan!?..
    Kenapa kamu tidak berbuat adil!?..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu yang salah menangkap apa yang saya maksud. Nah, ini senjata makan tuan, Kalo pemerintah dzalim aja kalian bisa mafhum dan memaklumi. Kenapa terhadap Hasan al-Bana kalian tidak bisa memaklumi. Mari pake otak

      Delete
    2. Kalian bisanya tajam ke bawah tumpul ke atas. tajam terhadap sesama muslim, tapi tumpul terhadap penguasa dzalim

      Delete