17 Jun 2017

Induk Celeng Marah

Kang Batara mengajak Husni dan Dandi ke bukit Cilutung untuk mencari kayu bakar. Mereka mencari kayu bakar setiap hari ahad ke bukit cilutung. Banyak semak belukar pepohonan di bukit tersebut. Selain itu juga banyak tumbuh liar pohon jambu batu sehingga mereka bisa sekaligus mencari buah jambu yang sudah masak.

Seperti biasa, Kang Batara selalu membawa ketapelnya. Ketapel yang terbuat dari kayu bercabang dan karet hitam bekas ban dalam sepeda motor. Ia biasa menggunakan ketapel itu untuk membidik tupai atau burung pipit di pohon.

Setelah selesai  mengumpulkan kayu bakar dan mengikatnya dengan seutas tali, mereka bertiga berkumpul sembari menyantap makan siang yang dibawa dari rumah.

“Mau coba sambal buatan emakku?”tawar Nandi. Tangannya mengacungkan plastik yang berisi sambal terasi.

“Tentu dong.”jawab Husni. Sementara tangannya sibuk membuka bungkusan nasi dan lauk berupa sarden dan acar mentimun.

Kang Batara mengeluarkan kerupuk udang dan memberikannya dengan rata kepada Husni dan Nandi.”Setelah ini kita langsung mencari jambu batu di atas bukit ya.”

“Hayu!”seru Husni semangat.

Setelah menghabiskan bekal makan siang mereka, mereka pun segera menaiki jalan setapak menuju puncak bukit. Banyak terdapat pohon jambu batu di atas sana.

“Hei, lihat itu!”tiba-tiba Dandi berteriak keras dan menunjuk ke arah pinggir jalan setapak.”Ada sesuatu di sana!”

Kang Batara dan Husni menghentikan langkah mereka dan menghampiri Dandi yang berjalan paling belakang.

“Ada apa?”tanya Kang Batara. Matanya mengikuti arah telunjuk Dandi. Dan dia melihat ada sesuatu yang aneh dari gundukan rumpun ilalang kering yang menggumpal.

“Itu sarang celeng.”jawab Kang Batara.

Husni dan Dandi saling berpandangan.

“Aku paling benci dengan celeng. Binantang itu suka merusak kebun jagung milik bapakku di bukit kucai.”ujar Nandi dengan nada penuh amarah.

“Iya, aku juga paling tidak suka dengan binatang kurang ajar ini. Binatang ini suka merusak dan memakan kebun singkong di dekat rumah. Ayo kita rusak sarangnya.”

Belum sempat Kang Batara mencegah, Husni dan Nandi sudah berlari  ke arah sarang celeng tersebut. Sarang celeng tersebut sebesar nampah yang berdiameter dua meter. Terbuat dari ilalang yang ditumpuk secara acak. Di dalamnya ada tiga ekor anak celeng berwarna hitam kecoklatan. Bulu-bulu di tubuh bayi celeng itu belum tumbuh sebagaimana celeng yang sudah dewasa.

Husni memandang sarang itu dengan jijik.

Nandi meggedikkan bahunya. “ aku tidak yakin bisa merusaknya. Aku merasa kasihan dengan ketiga bayi celeng itu.”

“Nandi, kamu rela kebun jagung milik orang tuamu dirusak celeng-celeng hutan? Ketiga bayi celeng itu juga tentunya beberapa bulan ke depan akan menjadi hama di kebun kedua orang tuamu.

Rasa kasihan seperti menguap dari wajah Nandi.”Ayo kita rusak sarangnya.”

“Apakah kita hanya merusak sarangnya atau membunuh bayi celengnya juga?” ujar Husni bimbang.
Kang Batara memegang bahu Husni dan Nandi.”Biarkan saja sarang celeng itu, bagaimana nanti kalau induknya marah dan mengejar kita?”

“Tidak ada induknya di sini. Induknya sedang mencari makan.”jawab Nandi.

“Ayo, kita rusak sarangnya.”ujar Husni. Tangannya meraih satu ranting yang berukuran segenggamann tangan dan mulai mengobrak-abrik gundukan ilalang.

Nandi tak mau ketinggalan. Dia menyingkirkan ketiga bayi celeng itu dengan sebatang ranting berukuran sama ke pinggir sarang tersebut. Ketiga bayi celeng itu menguik-nguik lemah.Bagaimana pun juga dia tidak tega membunuhnya.

Tibat-tiba mereka mendengar sebuah suara. Seperti suara dengkuran dari arah belakang. Kang Batara yang pertama kali membalikkan badannya merasa terkejut dan berteriak.”INDUK CELENG DATANG!”

Husni dan Nandi terperanjat. Mereka berdua menghentikan aksi mereka. Lutut mereka gemetaran. Mereka tahu, celeng adalah binatang ganas yang mematikan.

Mereka melihat induk celeng itu seperti  mengambil ancang-ancang untuk menyerang mereka bertiga yang berani mengusik sarangnya dan mengganggu ketiga bayinya.

Taringnya yang menyembul dari bibir bawahnya membuat nyali mereka bertiga ciut.
“LARI!” Seru Kang Batara sembari membalikan tubuhnya dan berlari menyusuri jalan setapak disusul Husni dan Nandi.

Nandi menoleh ke belakang dan dia melihat induk celeng itu mengejar mereka.

“Celeng itu mengejar kita. Larinya cepat sekali!”Seru Husni yang ikut menoleh ke belakang.

“Di depan kita berbelok ke arah kanan.celeng tidak bisa berbelok sekaligus.”seru Kang batara dengan nafas yang ngos-ngosan.”Kita harus sering berbelok supaya memperlambat larinya.”

Beberapa meter kemudian Kang batara diikuti Nandi dan Husni berbelok dari jalan setapak. Benar saja, induk celeng itu tetap lurus walau tahu ketiga manusia yang dikejarnya berbelok.

Mereka bertiga segera berlari secepat yang mereka bisa sebelum celeng itu segera berbalik dan kembali mengejar.

Celeng itu kembali mengejar dan tertinggal belasan meter di belakang mereka.

“Kita tidak akan kuat kejar-kejaran terlalu lama. Energiku habis.”Seru Nandi.

“Oke, kalau begitu kita mencari perlindungan dengan memanjat pohon. Tapi setelah kita mengecoh babi itu lagi.” Saran Kang Batara.

Husni dan Nandi mengangguk setuju. Bebetapa meter kemudian mereka kembali berbelok arah sehingga induk celeng tersebut kehilangan kesempatan untuk yang kedua kalinya. Berlari lurus beberapa meter sebelum berbalik mengejar Kang Batara, Husni dan Nandi yang berbelok secara mendadak.

“Di depan ada pohon cengkeh yang lumayan tinggi. Kalian bisa memanjat kan?”

Husni dan Nandi menganguk.

Dengan terburu-buru mereka segera memanjat pohon cengkeh. Husni yang memanjat pertama kali.
“Hati-hati, jangan sampai terpeleset.”Kang Batara memperingatkan.

Nandi kemudian menyusul memanjat dan duduk di dahan yang kedua dari tempat Husni berada. Dann terakhir Kang Batara mulai memanjat tepat ketika induk Celeng itu sampai di pohon cengkeh dimana mereka berada.

Induk celeng itu menggerung dan menguik-nguik marah. Dia berputar-putar di bawah pohon cengkeh.

Mereka bertiga menghela nafas lega. Kemudian terdiam beberapa lama untuk mengatur nafas. Dada mereka terasa sesak karena lari dan rasa gugup dan takut yang bercampur menjadi satu.

“Semoga celeng itu bosan berputar-putar terus dibawah. Tidak mungkin dia  menunggui kita di bawah.”ujar Husni.

“Kita lihat saja.”timpal Nandi.

***

Sudah hampir tiga puluh menit mereka menunggu, tapi induk celeng itu belum juga pergi. Husni dan Nandi sudah mulai tanpak gelisah. Sementara Kang Batara mulai bosan dan menatap celeng itu dengan sebal.

“Bisa-bisa celeng itu terus menunggui kita sampai malam.”ujar Dandi.

“Coba kita pikirkan bagaimana caranya supaya celeng itu pergi.”kata Kang Batara.

Tiba-tiba Husni mendapaatkan ide.Husni merapa saku celananya. Kalau tidak salah, dia menyimpan belasan kelereng di saku celananya. Dia lupa menyimpannya di rumah ketika hendak mencari kayu bakar tadi.

Hup! Dia menemukan kedua sakunya berat. Ya, kelereng-kelereng itu masih ada di dalam saku.”Aku punya ide!”Serunya dengan girang.

“Apa?” tanya Kang batara dan Nandi hampir bersamaan. Seakan tak sabar untuk memecahkan rasa bosan.

“Kang Batara bawa ketapel kan?” tanya Husni.

Kang Batara mengangguk dan meraba lehernya. Ketapel itu masih melingkat di lehernya.”Kau mau mennyuruhku membidik celeng itu pakai buah cengkeh? Mustahil!”

Husni mengangkat alisnya.”Aku tidak bodoh kang.”ujar Husni sembari memasukan tangan kanananya ke dalam saku celananya dan mengeluarkan beberapa biji kelereng.”Ini!”

“Waah! Ide yang sangat bagus!”Seru Nandi girang.

“Ayo bidik kang. Kang Batara kan pintar membidik. Jangan biarkan satu kelereng pun mubazir. Jangan sampai melesat.”

Kang Batara tersenyum senang mendapat pujian Nandi. Husni menyodorkan biji kelereng dari dahan atas. Kang Batara menerimanya dan menyimpan satu biji kelereng di bagian pelontar. Tangan kirinya memegang pelontar yang sudah terdapat satu biji kelereng di sana dan menariknya hingga karet ketapel menegang. Sementara tangan kanannya tertekuk dan memegang gagang ketapel. Mata kanannya memicing. Mengambil sudut bidikan yang pas.

“Bidik bagian kepalanya kang!”Saran Husni.

Kang Batara tidak menyahut. Tangannya semakin merenggang. Dan beberapa saat kemudian,

Wush!!

Biji kelereng terlepas dari pelontar diiringi dengan suara nguikan celeng yang kesakitan. Nandi dan Husni bersorak gembira.

Celeng itu berputar-putar tidak beraturan. Tanpaknya dia merasa pusing dengan tembakan kelereng tepat di atas matanya.

Husni kembali merogoh celananya dan menyerahkan  biji kelereng yang kedua. Kang batara kembali membidik dengan ketelitian yang diperhitungkan.

Suara kelereng yang menumbuk tulang kepala celeng itu terdengar begitu jelas. Disertai nguikan dan gerungan yang semakin keras.

Tanpa menunggu lama, Husni kembali merogoh saku celananya. Kali ini menyerahkan semua biji kelereng yang tersisa.

Kang batara sudah bersiap-siap membidik yang ketiga kalinya sebelum mereka menyadari celeng itu berhenti menguik dan berlari meninggalkan mereka.

Nandi dan Husni kembali bersorak. Kang Batara menghela nafas lega.
“Ayo kita segera turun.”ujar Nandi. Tangannya sudah memegang dahan yang kedua dari bawahnya dan kakinya berpijak pada pokok pohon.

“Tunggu sampai celeng itu benar-benar jauh dari kita. Aku khawatir dia kembali lagi.” Saran Kang batara.

Mereka menunggu kurang lebih sepuluh menit lamanya. Kang batara turun dari pohon cengkeh diikuti Husni dan Nandi.

“Kita harus mengambil jalan memutar. Aku tidak berani melewati sarang celeng itu lagi.”kata Kang Batara. Kemudian dia menatap Husni.”Terimakasih atas idenya. Biji kelerengmu luar biasa.

“Kang Batara yang luar biasa. Tanpa ketapel dan bidikan sang ahli ketapel, mustahil celeng itu pergi.” Jawab Husni.

“Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kita dari celeng itu.”timpal Dandi dengan senyum penuh arti.

“Tuh dengerin apa kata Nandi.”kata Kang Batara.

Husni tersenyum simpul.”Alhamdulillah...”

Mereka bertiga berjalan beriringan. Melanjutkan rencana mereka untuk mencari jambu, setelah itu kembali pulang.
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment