26 May 2017

Salafi dan Katak dalam Tempurung

Tersebutlah, suatu hari seorang ikhwah mengajak seorang teman sesama ikhwan untuk menghadiri sebuah kajian.

Kemudian si ikhwan yang diajak nanya,”Ustadznya siapa?”

Ikhwan tersebut menyebutkan nama ustadznya. Setelah itu diikuti oleh kerutan dahi sang teman,”Saya nggak mau ikut kajiannya, dia kan ustadz haroki. Saya kurang suka dengan jamaah haroki. Mereka menyimpang dari jalan salaf”

Di kesempatan yang lain si ikwah diajak lagi oleh teman yang lain untuk mengikuti kajian yang berbeda. Lagi-lagi si ikhwah tersebut menanyakan siapa ustadznya. Setelah disebutkan nama ustadznya, lagi-lagi dengan dahi berkerut dia menolak,”Saya hanya ngaji di kajian sunnah.

Maka, walaupun ilustrasi di atas hanya sebagai contoh, banyak ikhwah-ikhwah kita yang mengaku meniti jalan salaf, tapi ternyata jauh dari nilai salaf. Atau kalau tidak boleh dikatakan jauh dari nilai salaf, bisa dibilang tidak mengaplikasikan seluruh akhlak para salaf.

Bagaimana bisa mereka melabelisasi pengajian dan ustadz dengan label sunnah. Seakan-akan hanya kelompoknya yang sunnah dan pengajian di luar kelompok mereka bukan pengajian sunnah. Justru ini mempersempit ‘lahan’ dakwah mereka.

Bagaimana label sunnah dan non sunnah itu sendiri datang dari kelompok mereka dengan alasan untuk membedakan dari golongan bid’ah. Justru mereka hanya membuat kesenjangan antara umat islam.

Mereka tidak mau membaca buku-buku atau kitab yang dikarang dari ulama atau ustadz di luar kelompok yang mereka sebut salafi.

Mereka tidak dan sangat anti membaca buku dan kitab sayiid qutb, yusuf qardawi dan al-maududi. Mereka anti membaca karya-karya ustadz haroki dan hizbut tahrir. Mereka anti terhadap radio dan televisi dakwah selain rodja.

Seperti katak dalam tempurung. Menganggap dunia hanya naungan tempurung tempat dimana dia bernaung dan tinggal. Dibutakan oleh fanatisme.

Padahal, kami yang tidak menisbatkan diri sebagai salafi pun tidak separah itu. kami sangat hormat terhadap syaikh al-utsaimin, syaikh al-bani, syaikh fauzan dan lain-lainnya. Mereka bukan hanya ulama bagi salafi, tapi ulama juga bagi kami. Kami mencintai dan menyukai telaga ilmu mereka. Kami membaca kitab-kitab mereka.

Tapi kami juga tidak anti membaca risalah Hasan al-bana, Sayiid Qutb, Yusuf Qardhawi, dan al-Maududi.

Karena bagi kami, hikmah dan ilmu itu luas. Kami hanya mengacu pada quran dan sunnah. Jika memang yang ditulis sayid qutb atau hasan al-bana ada yang salah, maka itu tidak menutupi lautan hikmah yang mereka berikan. Jika ada yang salah, kami tidak mencelanya. Tapi kami memakluminya. Barangkali belum sampai ilmu tersebut kepada mereka. Atau barangkali ungkapan yang dianggap salah tersebut, merupakan ungkapan atau uslub bersayap yang perlu penafsiran.

Karena tidak mungkin, jika ulama sekaliber sayid qutb mengajak kepada kesesatan jika dia menyadari apa yang diyakininya sesat.

Karena kami tidak ada apa-apanya dibanding sayid qutb yang –insya Allah- syahid di tiang gantungan atau Hasan al-Bana yang menjadi martir tercabik bom.

Kami tidak berani menyebut teman-teman haroki bid’ah karena dakwah butuh kebersamaan jamaah. Toh yang berkoar sebagai pengikut salafi pun terjangkit ashobiyah dan menepuk dada,’Kami salafi.’

Sempit pikiran tak mau bergaul dengan sesame muslim yang berbeda hanya seujung kuku.

Bahkan berani menyesatkan yang –bisa saja- orang yang disesatkan itu
Bagaimana mungkin mereka menganggap para aktifis haroki adalah para pengkitut ashobiyah. Padahal mereka sendiri lebih ashobiyah. Istilahnya maling teriak maling. Bagaimana tidak, mereka hanya wala dengan sesama mereka dan ustadz di kalangan mereka. Mereka begitu bangga dengan golongan mereka, seakan-akan golongan merekalah yang paling benar, yang diluar golongan mereka bisa dipastikan salah dan menyimpang. Jika mau benar, ikutlah kami; salafi!!

Mereka mengatakan HAMAS dan ikhwanul muslimin sesat dan menyimpang. Mereka bilang HAMAS lembek dan tidak bisa melindungi rakyat Palestina. Padalah yang bilang itu sendiri belum pernah terjun jihad di palestina.
Giliran Raja Arab Saudi –sang khalifah mereka- menerima Amerika Serikat dengan penuh hormat dan takjim, tak sekalipun mulut mereka berkoar-koar. Padahal kita tahu, ribuan saudara kita telah menjadi martir oleh bom-bom Amerika Serikat laknatullah.

Semoga menjadi bahan perenungan.


Husni Mubarok
Husni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment