10 Mar 2017

Dari ‘Sabili’ hingga ‘Sabiliku Bangkit’

MAJALAH yang satu ini adalah majalah islam nomor satu yang memuat berita islam yang tajam dan objektif. Tapi itu dulu, ketika masa jaya-jayanya. Sekarang, majalah sabili sudah tidak ada lagi alias sudah pased way sejak tahun 2014. Kalau saya nggak salah. Maklum, ingatan saya kadang-kadang suka payah. Dan parahnya lagi saya males googling untuk memperlengkap artikel saya ini.

Karena artikel ini dibuat atas dasar nostalgia alias kenangan, maka saya ingin berbagi tentang pengalaman saya dengan majalah yang satu ini. Saya mengenal sabili dari kakak ipar saya yang mempunyai koleksi sabili beberapa edisi. Saya suka sekali membaca bahasan utamanya yang tajam dan mengena. Biasanya mengangkat fakta-fakta aktual seputar islam. Sabili sering mengangkat tema tentang berbagai hal yang pantas untuk diulas. Biasanya seputar tentang fenomena kedzaliman terhadap muslim, kemudian sejarah islam, analisa dan lain sebagainya. Di halaman awal ada sekitar kita yang menganalisa fenomena sekitar. Kemudian ada juga rubrik ya robbi yang memuat kisah-kisah nyata yang mengandung ibroh. Kemudian ada takwin yang memuat artikel renungan, rubrik muhasabah yang mengandung perenungan terhadap fenomena yang sering terjadi, tafakur yang mengajak pembaca untuk berpikir di halaman terakhir.

Selain itu juga ada rubrik alam islami yang memuat berita-berita dunia islam mancanegara, plus kronik berisi rangkuman peristiwa.

Selain itu, hal yang paling menarik dari sabili adalah adanya lembar sisipan khusus remaja bernama ELKA alias lembar khazanah. Rubrikasinya diantaranya, teman kita, yang memuat profil anak muda muslim yang berprestasi, kemudian ada rubrik puisi, cerpen, KPS (Kelompok Pembaca Sabili) yang sejak tahun 2004 ngilang, ada rubrik khusus untuk perempuan, taktikoe, teka teki, oase,dan...ah, saya lupa.



Edisi Khusus

Kemudian, majalah sabili juga suka menerbitkan sabili edisi spesial, tergantung momentnya. Yang pernah saya punya adalah sabili edisi spesial berjudul “sejarah emas muslim indonesia,” kemudian ada juga edisi pesial “islam kawan atau lawan,” dan masih banyak lagi.

Berita duka tiba, saya mendengar bahwa majalah sabili berhenti terbit pada tahun 2014, setelah belasan tahun lamanya menemani umat muslim indonesia. Tak berapa lama dirilis majalah “sabiliku bangkit.” Secara kelembagaan ini adalah majalah baru dan tidak ada sangkut pautnya dengan sabili yang sudah pased away. Tetapi kru atau staf redaksinya masih wajah-wajah lama. Mungkin para mantan kru redaksi sabili merasa sayang jika harus meninggalkan pembaca, sehingga menciptakan majalah baru tersebut.


Sayangnya, lagi-lagi sabiliku bangkit tidak bisa bertahan lama.
Semoga di masa yang akan datang, ada majalah semacam sabili yang berdiri di depan ummat untuk membela kepentingan ummat.


Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

6 comments:

  1. Sangat suka baca majalah sabili, semoga sabili bisa hadir di tengah umat menemani pembaca yg haus wawasan dan pernak pernik dunia islam. Aamiin

    ReplyDelete
  2. Jadi ingat masa masa sekolah SMA sering beli majalah ini.paling suka rubrik kristologi dan hidayah (klo ga salah ingat)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar, rubrik kristologi yang diampu oleh ustad abu dedat. kalo rubrik hidayah saya nggak ingat, kalo kisah di rubrik ya robbi.

      Delete
  3. Majalah politik ya, bung..!! Sebenarnya saya gak suka sih,..tapi sesekali baca. Tampak keliatan isinya fakta dunia islam, dan ini menarik. Cuman gitu, bagaimana menyikapinya.

    Yang jelas...saya juga salah satu pembacanya, krn saya juga aktivis organisasi. Tapi paling demen baca artikel yang ditengah 2 semisal kisah, artikel, dst.

    Yang jelas kala itu majalah islam sudah menguasai dunia. Itu yang SAya banggakan...hanya misi dan visinya yang perlu ditegaskan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas mul. Sayangnya media-media islam sekarang mulai tumbang karena tergerus zaman digital. Tidak hanya media islam saja sih, hampir seluruh media mengalami senja kala

      Delete