5 Mar 2017

Bijak Dalam Menyikapi Perbedaan

Perbedaan di dalam islam itu dipandang dalam dua kategori. Ada perbedaan yang dibolehkan dan perbedaan yang tidak diperbolehkan menurut syariat.

Adapun perbedaan yang diperbolehkan adalah perbedaan yang bersifat furu atau cabang. Biasanya perbedaan dalam masalah fiqih. Contohnya perbedaan seputar jumlah rakaat di dalam shalat tarawih, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tentunya hal ini perbedaan yang wajar dan diperbolehkan, selama dari perbedaan pendapat tersebut memiliki dalil  masing-masing yang bisa dipertanggung jawabkan.

Adapun perbedaan yang tidak bisa ditolerir adalah perbedaan dalam masalah aqidah atau ushul. Hal ini jelas-jelas berbahaya jika tidak disikapi dengan serius. Contohnya rukun iman dan rukun islam, maka yang mengaku muslim dari sejak zaman Rasulullah n hingga hari kiamat akan mengakui rukun islam ada lima dan rukun iman ada 6. Tidak ada perbedaan diantara para ulama. Kecuali para pengikut hawa nafsu dan jalan setan yang telah keluar dari islam. Contohnya kaum syiah yang berbeda secara prinsip dan kaum liberal yang menafsirkan al-quran sesuai dengan hawa nafsu.

Oleh karena itu, jika kita melihat adanya perbedaan, maka kita harus melihat, apakah perbedaan yang ditolerir oleh syariat atau tidak? Sehingga tidak menimbulkan kegaduhan dan saling membenci hanya karena perbedaan masalah fiqih dan mazhab. Seperti yang baru-baru ini telah terjadi, seorang mubaligh diusir dari satu daerah hanya karena perbadaan pandangan. Sangat memalukan!

Tentunya yang harus dikedepankan adalah sikap toleransi dan komunikasi yang baik. Sehingga ditemui titik temu dan dialog ilmiah yang sehat.

Bila kita meyakini kita yang paling benar, ya silakan saja. tapi jangan sampai menyalahkan yang lain., yang bisa saja juga mempunyai dasar dalil syar’I yang tidak kita ketahui.

Saya jadi teringat apa yang diungkapkan oleh ustadz Felix Siauw di dalam chanel telegramnya,” Bukan berarti bila kita yang lebih banyak lantas memastikan kita jadi yang paling benar, bukan berarti yang paling lama lantas jadi yang paling baik, kita tetap harus rendah hati.”


Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment