8 Jan 2017

MENGGABUNGKAN KHOUF DAN ROJA’ KEPADA ALLAH l

Pendengar yang dirahmati Allah l/ pada pertemuan yang lalu kita sudah membahas tentang pentingnya sikap khouf yaitu rasa takut akan azab dan murka dari Allah l/ kemudian dilanjutkan bagaimana pentingnya kita menanamkan sikap roja’ atau pengharapan atas rahmat dan kasih sayang Allah l//
Pendengar/ pada pertemuan kita kali ini/ insya Allah kita akan membahas bagaimana pentingnya menggabungkan sikap khouf dan roja’ pada diri seorang muslim//
Baiklah pendengar yang berbahagia/ kita akan simak satu hadits yang berkenaan dengan kedua sikap yang mulia tersebut//
Hadits ini dibawakan oleh Abu Sa’id Al-Khudri a / bahwa suatu ketika Rasulullah n pernah bersabda//
إذَا وُضِعَتْ الْجِنَازَةُ فَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ : قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي ، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ : يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا ، يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَهَا الْإِنْسَانُ لَصَعِقَ
“Apabila jenazah telah dibawa oleh orang-orang di atas pundak-pundak mereka menuju kubur / seandainya pada masa hidupnya ia adalah orang yang shalih/ ia akan mengatakan/ “Segerakanlah aku!! segerakanlah aku!!”// Namun jika ia dahulu orang yang tidak shalih/ ia akan mengatakan/ “Celaka!/ Hendak kemana kalian membawa jenazah ini!// Seluruh makhluk mendengar suara jeritan tersebut kecuali manusia/ andaikata seseorang mendengarnya/ pasti dia akan pingsan.”//
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya//
Melalui hadits ini/ kita diharapkan untuk selalu optimis terhadap rahmat dan kasih sayang Allah/ tentunya dibarengi dengan ketaatan dan amalan-amalan solih// Hal itu digambarkan dengan bagaimana bahagianya ruh  jenazah seorang mukmin/ sehingga ruhnya berkata kepada pemikul keranda untuk menyegerakan penguburannya//
Sebaliknya/ hadits ini juga mengajarkan sikap khouf// hal itu digambarkan ketika ruh orang kafir begitu ketakutan ketika jenazahnya akan dikuburkan// Tentunya ruhnya itu tahu bahwa azab Allah l menantinya di alam kubur//
Kemudian hadits selanjutnya diriwayatkan oleh Imam bukhrori rahimahullah/ yang berbunyi//
الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ
"Surga itu lebih dekat kepada salah seorang kalian daripada tali sandalnya, dan neraka juga demikian//
Pendengar yang berbahagia/ salah satu metode pengajaran Rasulullah n adalah dengan selalu memberikan perumpamaan atau permisalan// hikmah dari diberikannya perumpamaan tersebut/ diharapkan yang mendengarnya menjadi lebih paham// selain itu/ dengan perumpamaan/ kita akan menjadi selalu ingat dengan yang dimisalkan//
Oleh karena itu Pendengar/ kenapa hadits tersebut menjadikan tali sandal sebagai perumpamaan?// karena kita selalu memakai sandal kemana pun kita pergi// begitu juga dengan surga dan neraka Allah l/ yang keduanya sangat dekat sedekat kita dengan sandal yang selalu menyertai kita kemana pun kita pergi//
Bisa saja surga digapai oleh kita hanya dengan satu kalimat saja/ demikian pula neraka// boleh jadi seseorang masuk neraka hanya gara-gara satu kalimat yang ia ucapkan// hanya dengan satu kalimat yang mengandung kekafiran// maka dari itu/ kita sudah seharusnya hati-hati dalam berucap dan beramal/ karena hal itu menentukan bagaimana nasib kita kelak// apakah kita akan berlabuh di surga atau di neraka//
Kemudian pendengar/ ada Hadits terakhir berkenaan dengan sikap khouf dan roja’// hadits Dari Abu Hurairah a ia berkata// Aku pernah mendengar Rasûlullâh n bersabda// ”Sesungguhnya Allâh telah menciptakan seratus rahmat pada hari Dia menciptakannya// Maka Dia menahan di sisi-Nya yang sembilan puluh sembilan rahmat// sedangkan yang satu rahmat Dia berikan untuk seluruh mahluk-Nya// Maka kalau sekiranya orang yang kafir itu mengetahui setiap rahmat yang ada di sisi Allâh/ niscaya dia tidak akan pernah putus asa untuk memperoleh surga// Demikian juga kalau sekiranya orang mu’min itu mengetahui setiap azab yang ada di sisi Allâh/ niscaya dia tidak akan pernah merasa aman dari masuk ke dalam neraka//
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari  di dalam kitab Sahihnya dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim //

Lalu timbul pertanyaan/ sebenarnya mana yang paling utama?// apakah khouf lebih utama daripada roja’?// atau sebaliknya?// Seperti yang telah kita sebutkan tadi/ bahwa baik khouf maupun roja’ kedua-duanya sama penting dan harus ada di setiap jiwa muslim//
Baik Khauf maupun raja` merupakan dua ibadah yang sangat agung// Bila keduanya menyatu dalam diri seorang mukmin/ maka seluruh aktivitas kehidupannya akan menjadi seimbang// Dengan khauf akan membawa diri seseorang untuk selalu melaksanakan ketaatan dan menjauhi perkara yang diharamkan// Dengan raja` akan menghantarkan dirinya untuk selalu mengharap apa yang ada di sisi Allah/ yaitu berupa pahala/ maghfiroh atau ampunan Allah l dan surga-Nya kelak di akhirat//
Disebutkan dalam sebuah riwayat/ Rasulullah n  mendatangi seorang pemuda yang sedang menghadapi kematian atau sakaratul maut// Rasullullah n  bertanya kepada pemuda ini/ Bagaimana kamu mendapati dirimu?// Pemuda ini menjawab/ “Aku mendapati diriku dalam keadaan takut atas dosa-dosa yang aku kerjakan sekaligus mengharapkan rahmat Tuhanku.//
Lantas nabi n menjawab/ “Tidaklah berkumpul dua perasaan tersebut/ yakni roja’ dan khouf di dalam hati seorang hamba/ melainkan Allah berikan apa yang ia harapkan dan memberikan ketentraman dari hal yang khawatirkan//
Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata/ Jika ada yang bertanya/ ‘manakah yang lebih utama di antara sikap Al-Khauf dan Al-Raja`?// Pertanyaan ini sama seperti pertanyaan/‘mana yang lebih enak, roti atau air?//
Jawabannya adalah,/Bagi orang yang lapar/ roti lebih tepat// Bagi yang kehausan/ air lebih pas// Jika rasa lapar dan haus hadir bersamaan dan kedua rasa ini sama-sama besar porsinya/ maka roti dan air perlu diasupkan bersama-sama//
Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad rahimahullah  juga pernah ditanya dengan pertanyaan yang hampir senada/ Mana yang lebih utama untuk kita, rasa khauf atau raja`?//
Beliau menjawab// Ketahuilah/ bagi orang yang mempunyai hawa nafsu yang kuat dan mempunyai kecenderungan bermaksiat// maka khauf mesti ditekankan hingga ia kembali ke jalan yang lurus// Namun bagi orang yang akan meninggal// sikap Raja` harus lebih diutamakan agar ia tidak berburuk sangka kepada Allah// Sementara/ bagi orang yang sehat raganya/ istiqamah di jalan agama Allah/ maka baginya yang paling utama adalah keseimbangan di antara sikap Khauf dan Raja` hingga menjadi layaknya dua sayap burung//
Beberapa ulama menggambarkan perumpamaan yang begitu indah// Mereka mengumpamakan sikap khouf dan Roja’ seperti dua sayap pada seekor burung// Coba bayangkan pendengar/ mungkinkah seekor burung bisa terbang dengan satu sayap?// kemudian rasa cinta kepada Allah l diumpamakan sebagai kepala burung//
Kesimpulan dari pembahasan kita adalah/ dengan khauf dan raja` seorang mukmin akan selalu ingat bahwa dirinya akan kembali ke hadapan Allah l / di samping ia akan bersemangat memperbanyak amalan-amalan ibadah //
Kedua sikap tersebut harus dimiliki oleh seorang mukmin// Sikap ini menjadi ciri mukmin yang baik yang bisa menempatkan diri kapan ia harus berada pada posisi khauf dan kapan ia mesti berada pada posisi roja’//

Demikian pembahasan kita kali ini/ semoga bermanfaat dan menambah keimanan serta rasa cinta kita kepada Allah l/ semoga bermanfaat//
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment