12 Jun 2015

MALAM TERAKHIR DI RAKHINE

Aku akan selalu ingat ketika aku dan ibu keluar rumah denganmengendap-endap di malam hari. Kemudian meminta tuan fude mengantarkan kami kepantai di tepi selatan bergabung dengan ratusan saudara yang lain. Kami harusmembayar mahal orang hindust itu hanya untuk mengantar kami hingga pantai yang berjarak tiga kilo meter dari kampun kami.
Kedua mata ibu tampak berair.Hasan, adik pertamaku terbuai di pangkuannya. Aku merasa malam ini adalah malam yang sangat kelam. Bagaimana tidak kelam, kemarin orang-orang yang mengaku berwelas asih dan berjubah jingga itu menyembelih ayahku sendiri di hadapan kami sekeluarga.Tak hanya itu,  adik keduaku menemui ajal di ujung pedang yang ditancap di tanah. Para durjana berbaju jingga itu merebut adik keduaku dari pangkuan ibu. Oh allah, bahkan umurnya masih delapan bulan dan belum fasih berbicara. Adikku itu menangis dengankeras.Mungkin ia tahu bahwa ia berada di tangan orang-orang yang jahat.
“JANGAN! KUMOHON!” Ibu meronta-ronta dan berusaha menggapai anak ketiganya.”Demi ajaran welas asih.Jangan bunuh bayiku tuan!”
Aku hanya tergugu dan air mataku sudah habis sejak itu.
Waktu seakan berjalan cepat. Ibu seakan berubah menjadi wanita yang linglung.Tapi aku tahu, ibu masih waras. Ia masih selalu melantunkan dzikir dari mulutnya.  Aku? Jangan kau Tanya. Aku sama linglungnya.
Kekejaman demi kekejaman yang aku –atau lebih tepatnya kaumku- terima, seakan dunia ini sudah kiamat saja. Pertama yang aku tahu bawah masjid kami dibakar, belum termasuk rumah-rumah kayu kami. Imam masjid diculikdandibawa entah kemana.
******
Ibu tak banyak cakap sejak kemarin lusa. Aku juga berubah menjadi gadis pendiam. Bagaimana tidak, semua mimpi-mimpiku akan terkubur di negeriku sendiri. Terlalu buruk untuk bisa bertahan di negeri Burma. Masa bodoh dengan sejarah kami. Masa bodoh dengan tanah leluhur kami dan negeri arakan yang pernah jaya. Kami lemah dan hina untuk masa ini. Kami hanya berpikir bagaimana caranya kami bisa menghindar dari kekejaman orang-orang berjubah jingga itu.
Ibu sudah naik keatas perahu  motor yang –ya ampun- ratusan orang sudahberjejal di atasnya-. Aku khawatir perahu kecil itu akan tenggelam di atas lautan karena kelebihan muatan.
“ibu, bisasajakitatenggelam di tengahlautan.” Serukumengalahkansuarabising orang-orang di sekitarku.
Ibu menatapku lekat-lekat,”seba, kita harus optimis bahwa allah akan menolong setiap usaha kita. Lebih baik kita tenggelam di tengah lautan dari pada terbunuh dengan hina disini.”
Ah masa bodoh dengan lautan dan ombak-ombaknya yang ganas. Aku sudah terlalu lelah dengan semua penderitaan ini. Jangan-jangan aku sudah kebal dengan penderitaan. Benar apa yang dikatakan ibu, lebih baik mati di tengah lautan dari pada mati di tangan orang-orang budha itu. Bukankahiniperjalananhijrah.Bahkanallahsendirimemerintahkanumatnyauntukhijrahketikakedzalimanbegitunyata. Rasulullah Muhammad pun mencontohkanhaliniketikakaummusyrikmekkahtidakmenerimakehadirandakwahnya.Dan ituterjaditehadapdirikusebagaigadisrohingya.
Terlalumahalpengorbanan yang harus kami bayaruntukperjalananhijrahini. Aku sudah tahu bagaimana aku harus kehilangan ayah danadikkeduaku.Kaujugatahubagaimanaakuharuskehilangan masjid dan imam kami.Tapi ada satu hal yang belum aku ceritakan secara utuhkepadamu.Iniperihalcintaku.Ya, akutelahkehilangancintaku.Sudah lama cintaitumekar di hatikuketika Abdullah datangkepadaayahkuuntukmelamarku.Betapabahagianyahatikukalaitu.Siapagadis yang tidakmengenal Abdullah.Pemudauletdanberpendidikanitusangatbaikdansoleh.Iajugadikabarkanbisajadimenjadipenerus imam yang sudahudzursetelahmenempuhpendidikanislam di Thailand selatantigatahunlamanya. Akuseakanmenjadigadis yang sangatberuntung di jagatduniakalaitu.
Ayah menatapkudengantatapanbahagia,”akhirnyatibasaatnyakauharusbersuamiseba.”
Akuhanyatertundukmalu. Ayah mengelusrambutku.”bahkanbelumpernahabahmerasabahagiasepertiini.”
Tapi seminggu berselang setelah lamaran itu, tersiar kabar, Abdullah telah tewas dengan tiga timah panas yang menembus dadanya.Entah kenapadanbagaimanaiaditemukantewas di beranda masjid. Akumenangismenghadapikenyataanitu.Cinta yang mulaibermekaran di hatikukinimeranggasdanberguguransatu-satu.Wajahtedul Abdullah seakanmenerorkusetiapmalam.Andaiakutidakpunyaimandankeyakinan yang kuat, mungkinakusudahmenghabisinyawakusendiri.Terlaluberatkutanggungderitaitu.
Dan kejadian demi kejadian seakan kejar mengejar dan saling melengkapi satu sama lain. Terror demi terror terus beriringansehingga kami harus pergi.
****



Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment