20 May 2015

Penolakan Demi Penolakan

Semua orang pun pasti udah pada tahu kalo gue tuh ngebet banget pengen jadi penulis. Mulai dari keluargaku sampe tukang pecel langgananku pun tahu persis cita-cita nomor satu gue itu. Jadi penulis terkenal dengan buku-buku yang best seller di toko buku. Dan mulailah aku menyibukkan diri dengan dunia tulis menulis, menguras energi Dan tenaga dengan latihan demi latihan. Soal membaca buku udah so pasti. Soalnya, kalo pengen jadi penulis itu harus rajin baca buku. Itu yang gue tahu dari para mentor seminar kepenulisan yang sempet-sempetnya gue ikutin dengan seorang pembicara penulis terkenal baru-baru ini.

Banyak pengalaman yang gue dapatkan selama perjalanan menggapai impian menjadi penulis yang oke punya. Menggantungkan cita-cita setinggi langit ketujuh dan memanjangkan ikhtiar sepanjang timur dan barat.


Sebenarnya kalo mau jujur, gue tuh udah ngirimin puluhan karya tulis gue ke berbagai media dengan berbagai genre dan lini yang berbeda. Dengan berbagai cara yang berbeda pula. Dari mulai mengirim lewat e-mail (untuk yang ini, gue udah menjadi pelanggan setia warnet perempatan jalan dekat sekolah) hingga hardcopy lewat kantor pos. Bahkan pak pos pun kayaknya udah hapal muka gue saking seringnya bolak-balik ke kantor pos kecamatan. Pokoknya berbagai tulisan semacam cerpen anak ala majalah bobo, cerpen ibu-ibu ala femina dan kartini, majalah cowok ala majalah hai dan esquire, cerpen remaja ala gadis dan kawanku, cerpen religi ala annida dan sabili dan -bahkan- cerpen bahasa sunda yang biasa gue kirimin ke majalah mangle dan sunda midang. Sejauh itu pula aku harus berani bersabar dan geleng-geleng kepala, mengurut dada dan marut kelapa, eh, garuk-garuk kepala (padahal gue nggak ketombean apalagi kutuan). Lu mau tahu, semua cerpenku itu nggak ada yang tembus satu pun. Camkan itu, tak ada satu pun yang bernasib baik nongol di media dan dibaca oleh khalayak ramai. Tapi gue yakin, inilah inti dari kesabaran dari segala ujian dan cobaan (cieee, jadi orang bijak ceritanya). Disinilah Allah akan meninggikan derajatku dengan segala kesabaranku yang insyaallah akan aku pertahankan.


Oke, itu baru dari lini cerpen, kita beralih ke karya tulis lainnya (Emang berita cyiin). Gue juga pernah ngirimin puisi, opini, esai dan artikel populer ke berbagai media. Dari mulai media cetak hingga media online gue apelin. Tapi, ceritanya nggak jauh beda dengan cerpen yang bernasib sial di tong sampah para redaktur perfectionist dan numpuk di file pribadi. Belum rezekinya barangkali. Jadinya gue bakalan lebih sering geleng kepala, mengurut dada dan sekarang bukan lagi garuk-garuk kepala. Tapi langsung ambruk dan bilang,"OH MY GOD...."


Dan asal lu pada tahu, dengan semua penolakan-penolakan itu gue nggak bakalan nyerah sampe titik darah penghabisan. Walaupun begitu, gue tetep bangga karena setidaknya lini tulisan gue yang lain pernah nongol di majalah dan koran. Coba tebak, lini apalagi selain cerpen, puisi dan opini? Apalagi kalo bukan kolom surat pembaca (waks gubrak!!)
Itu mah bulan karya tulis atuh.
Tapi setidaknya itu juga ditulis kan?
Dan gue hanya bisa tersenyum membayangkan bahwa penulis-penulis  terkenal pun pernah melewati fase yang sangat menyedihkan sekaligus menantang ini. Mengenai hal ini, gue teringat sama obrolan gue bareng karina , sahabat karib yang close banget sejak SMP dulu.
"Kau tahu kan JK Rowling"


"Siapa? Kakaknya Jusuf kalla ya."


"Ye, bukan! Itu lho yang nulis serial Harry Potter yang tujuh jilid."


"Oh....Emang kenapa?"


"Katanya karya monumentalnya itu pernah ditolak belasan penerbit hingga yang terakhir benar-benar mau menerbitkannya."


"Gue bisa ngebayangin betapa bahagia dan beruntungnya penerbit yang mau menerimanya. Dan betapa gigit jari dan kecewanya penerbit yang pernah menolak karya tante Rowling."
"Termasuk majalah-majalah yang nolak cerpen gue. Pasti mereka bakalan nyesel deh."seruku tanpa tendeng aling-aling.


Karina memelototan matanya dan mencibir."Lu emang nggak pernah berubah dari dulu. Narsis banget deh!"


Gue hanya nyengir kuda.


***


Seperti yang pernah dikatakan sama guru bahasa indonesia gue, gue emang berbakat jadi pengarang. Itu dia bilang pas lagi baca karangan gue. Kebetulan waktu itu lagi tugas bahasa indonesia yang mengharuskan setiap siswa membuat sebuah karangan tentang liburan di kampung. (Terlalu klise banget sih. Apalagi ini buat anak SMA. Maklum, guru konservatif jaman dulu :D). Bagi gue, itu adalah tugas yang paling cetek yang pernah gue hadepin ketimbang tugas matematika, fisika dan kimia. Entah kenapa, trio eksak tersebut nggak pernah mau diajak kompromi di otak gue yang emang udah dari sononya nggak klop dengan dunia hitung menghitung. Nggak pernah ada yang nempel di kepala. Sekali beruntung nempel cuma beberapa jam saja. Udah keluar kelas mah, pleng! Entah kemana tuh rumus-rumus menguap.


Sejak pujian guru bahasa terlontar dan terus bersemayam di benakku yang paling dalam, aku semakin rajin menulis walau harus menelan pil pahit dengan penolakan demi penolakan. Paling untung, karya gue hanya ditempel ngasal di mading sekolah. Itu pun jarang yang baca kalo nggak boleh dibilang nggak ada yang ngelirik sama sekali. Tapi sekali lagi gue bilang, maju terus pantang mundur!!
Berbagai referensi dan tips-tips menjadi penulis hebat udah gue jajaki. Makanya gue nggak pernah ketinggalan info seputar seminar kepenulisan. Buku-buku motivasi menulis, info seminar dan lomba menulis, buku murah dan gratis, pelatih online dan kelas menulis online tak pernah terlewati.

Sore itu gue tengah menikmati semilir angin di taman sekolah. Menenangkan otak yang mendidih gara-gara dijejali rumus-rumus trio eksak. Sekonyong-konyong datang Nonoh dari arah kantin sembari menenteng minuman segar.

"Eh, Hus! Katanya ada seminar kepenulisan dan bedah buku bareng Asma Nadia di bajar lho. Kamu mau kesana nggak?"ujarnya dengan mimik sumringah.


Mataku yang layu karena empat jam lamanya diteror pemaparan pak Gani mengenai hukum newton, dilanjutkan penerangan bu Dedeh mengenai rumus sin, kos dan tan dan penggabungan senyawa-senyawa kimia sontak menjadi cerah laksana matahari terbit.


"Kapan?"tanyaku penuh minat. Mataku langsung membulat demi mendengar info berharga itu.


"Besok. Di Banjar. Pokoknya kamu harus ikut Husni."


"Pasti dong! Eh, tapi gue nggak tahu dimana tuh banjar. Dekat Ciamis kan?"


Nonoh menanggukan kepala."Iya. Tapi kalo lu nggak tahu alamatnya gue bisa nganter kok."


Gue yang emang pada dasarnya paling males keluar rumah dam bepergian sendiri jelas sangat menghargai tawaran tersebut."Ide bagus itu Noh. Lu emang ngerti apa yang gue inginkan."
Nonoh tersenyum lebar.


Tapi sepersekian detik kemudian gue baru menyadari bahwa itu tidak semudah yang gue bayangkan. Maka gue melontarkan interupsi." Tapi lu bayar ongkos sendiri ya."


Nonoh tersedak jus mangga yang baru saja diseruputnya. Kemudian menatap gue dengan tatapan menimbang-nimbang. "Kalo gitu nggak jadi aja deh. Lu kan bisa berangkat sendiri. Gue harus ikutan les bahasa inggris soalnya."


Gue langsung gelagapan mendengar ancaman halusnya dan langsung memasang senyum termanis yang gue punya."Oke, oke. Gue bisa ngejamin ongkos lu. Tapi soal makan siang gue nggak punya anggaran sama sekali."


Nonoh kembali mengerutkan keningnya yang emang dari sononya udah mengerut di dahi lebarnya.
"Gue kan udah berbaik hati ngasih lu ongkos. Please! Gue kan bukan mesin ATM yang bisa seenaknya lu peras. Tapi kalo emang lu nggak mau nemenin ya udah. Berarti lu nggak pernah ngedukung sahabat lu sendiri.

Nonoh terdiam. Gue tahu dimana sisi kelemahan si Nonoh si pemilik jidat lebar itu. Bagaimana pun juga ia adalah tipe orang yang sangat melankolis. Lu bisa menumpas sifat matrenya dengan kata-kata yang melankolis plus menohok yang lu punya. Misalnya dengan rayuan atau bisa juga mengemis bantuan dengan mimik paling menyayat perasaan. Hehehe

Seperi yang udah gue prediksi dari awal, Nonoh menganggukan kepala dengan anggun setelah sebelumnya mengambil kotak tissue di tas kulitnya yang bermerk. "Oke deh Ni. Gue mau nemenin elu. Lu nggak usah bayarin gue ongkos. Gue masih punya banyak duit kok. Tenang aja." dan ia terisak dengan tatapan yang menyedihkan. Mah lho, malah gue yang terkaget-kaget sendiri.

***

Biasanya sehabis seminar semangat menulis gue jadi kambuh ke level yang lebih tinggi. Kalo gue nyamain semangat menulis gue dengan penyakit kanker. Maka semangat gue udah nyampe stadium empat.

Dalam sehari gue bisa menulis tiga cerpen sekaligus. Apa pun yang gue lihat, rasakan dan dengar bisa menjadi lembaran-lembaran karya tulis yang gue yakin bahwa tulisan gue emang bagus dan layak diterbitin. Telur ayam yang menetes di pengeraman bisa menjelma jadi dongeng anak. Masakan emak yang keasinan bisa gue bikin jadi cerpen kocak.

Kendala yang gue hadapin ketika nulis adalah twitter block alias kebuntuan ide atau pikiran. Mau menulis mandek secara tiba-tiba. Kemandekan itu bisa diawal paragraf atau di tengah-tengah cerita. Kalo mandek di akhir cerita mah emang udah nasibnya tuh cerita harus selesai atau paling tidak bersambung. 

Gue biasanya punya tips yang jitu ketika menghadapi makhluk halus bernama writer block. Gue tinggalin tuh tulisan dan kembali melanjutkannya setelah dapet wangsit eh, ilham yang oke punya.

***

Ketika seminar berlangsung gue nggak bakalan pernah melewatkan sesi tanya jawab dengan sang mentor. Gue selalu mengambil ancang-ancang untuk mengacungkan tangan terlebih dahulu. Yang penting mengacungkan tangan, pertanyaan urusan terakhir. Makanya, ketika seorang penulis terkemuka memaparkan kiat-kiat sukses menulis dan memberikan waktu untuk para audiens bertanya, aku langsung mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Sambil berdiri malah.

"Iya, silakan kang."ujar sang moderator sembari memberi isyarat untuk bicara.

Dan dengan yakin, dalam sepersekian detik aku menyusun pertanyaan di otakku. Seperti yang gue ceritain tadi, gue tuh asal ngangkat tangan , pertanyan urusan belakangan. Maka tiba-tiba ada pertanyaan sederhana muncul di otak gue."Bagaimana caranya menulis pake komputer?"

Dan belum sempat sang moderator mempersilakan pembicara untuk menjawab pertanyaan, ruangan seminar seakan mau runtuh dengan gema tawa yang panjang dari para peserta. Bagus lah, gue jadi pusat perhatian semua orang. Padahal, banyak orang yang berusaha mencuri perhatian orang-orang.
Nonoh mentally dengan tatapan penuh arti. Dan gue sadar bahwa pertanyaan gue nggak berbobot sama sekali. Bahkan konyol bin tolol. Gue langsung duduk dan disambut sikutan Nonoh di pinggangku."Lu bisa nggak sih kasih pertanyaan bermutu. Malu-maluin aja."

Aku kembali nyengir kuda dan garuk-garuk kepala.

***
Tips-tips move on 

● Kamu harus yakin dengan kemampuan dirimu sendiri, alih-alih berputus asa dan merasa paling merana Karena mechanical diri nggak bisa atau gagal dalam mencoba untuk bisa.

● Terus asah kemampuan alias skill kamu dengan latihan yang berkesinambungan

● Kalo kamu merasa cinta dengan sesuatu hal, tentunya kamu harus rela berkorban demi apa yang kamu cintai. Contohnya gue, gue suka nulis dan gue nggak sayang ngeluarin duit banyak untuk seminar atau beli buku.

● Berdoalah kepada Allah Azza wa jalla untuk memberi katabahan dan kekuatan ketika futur menerpa semangat '45mu. Atau ketika kamu nggak sanggup lagi dengan kegagalan demi kegagalan yang seakan tak mau minggat dari hidupmu.

● Ada pepatah, malu bertanya sesat dijalan. Maka Jangan malu untuk bertanya kepada orang yang lebih tahu dari pada dirimu. Istilahnya, junior bertanya kepada senior yang sejarah umur atau skill sudah mengecap banyak "asam garam" keterampilan.
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment