23 May 2015

MERASA TERSIKSA DENGAN KARAKTER SENDIRI

Setiap orang punya karakter dan sifat yang berbeda satu sama lain. Dari perbedaan sifat itu, maka muncul keunikan dan kekhasan dari setiap pribadi itu sendiri. Perbedaan itulah yang menyebabkan timbulnya keragaman atau pluralitas dalam fenomena pergaulan sehari-hari.
Tapi, dengan perbedaan sifat, karakter dan kecenderungan tersebut, ada diantaranya yang merasa tidak puas dengan diri sendiri. Dalam artian, ia tidak puas dengan apa yang ia miliki dan apa yang menjadi sifat bawaan dirinya. Ia cenderung membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan teman-teman di sekitarnya. Padahal, Allah telah menciptakan setiap jiwa itu dengan potensi dan kemampuan yang beragam, sifat yang beraneka macam, dan minat yang berbeda satu sama lain.
Ada istilah, rumput tetangga lebih hijau. Artinya seseorang selalu melihat kelebihan-kelebihan orang lain dibandingkan dirinya. Kalo sudah begitu, maka tak heran jika ia merasa kurang percaya diri, merasa minder di hadapan orang lain, dan menganggap diri tak berguna sama sekali.
Bagaimana cara menyikapi hal tersebut? Semua dikembalikan kepada kesadaran pribadi tersebut. Peran orang tua dan teman-teman sekitar juga turut memberikan pengaruh yang signifikan untuk perkembangan jiwa orang yang bersangkutan.
Untuk kasus seperti ini, saya pernah menerima curhat dari seorang sobat yang merasa tidak nyaman dengan karakternya sendiri. Lebih parah lagi, ia merasa tersiksa dan frustasi. Teman tersebut memiliki kepribadian introvert. Sifatnya pendiam, kalem dan tak banyak cingcong. Tapi, semenjak ia masuk kuliah, ia merasa mempunyai masalah dalam bersosialisasi. Kebanyakan temannya adalah pribadi yang humoris, terbuka dan aktif. Ia merasa tertekan dengan kondisi yang ia hadapi karena tidak bisa bersosialisasi dan berinteraksi secara sempurna.
Ia menganggap bahwa sifat introvert adalah sebuah kekurangan. Bagaimana tidak, ia selalu merasa sungkan untuk menyapa orang yang ia temui. Jika harus melewati orang yang selama ini ia mengenalnya, ia akan grogi dan berusaha menghindar. Tak pernah terbayangkan dalam benaknya untuk bisa bercakap-cakap dalam jangka waktu yang cukup lama. Berbicara jika memang perlu dan menjawab pertanyaan secukupnya.
Tak hanya itu, sahabat ini juga selalu negatif thinking terhadap orang lain dan dirinya sendiri. Ia selalu berfikiran bahwa orang lain tengah menilainya. Ia selalu merasa kurang pede hanya karena berpikiran bahwa orang lain tengah menilainya secara negatif.
Apa yang mesti ia lakukan dengan problemnya tersebut? Silakan sobat-sobat untuk memberinya solusi di kolom komentar.

Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment