21 May 2015

ANTARA EMPATI DAN PESIMISTIS

Pagi itu saya sedang menyapu di halaman masjid ketika seseorang perempuan paruh baya menghampiri saya. Dengan senyum malu-malu ibu paruh baya itu berujar," dek, botol aqua bekasnya buat ibu ya." Matanya melirik pengki  yang sarat dengan botol-botol kemasan aqua di tanganku.
Aku tersenyum dan memperhatikan kantong plastik hitam yang ia jinjing."Silakan bu." Dan aku memunguti botol-botol di pengki untuknya. Tidak syak lagi ibu ini mencari-barang-barang bekas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Di lain kesempatan saya berjumpa dengan kakek-kakek yang sudah bungkuk punggungnya. Ia menyusuri jalanan dan gang demi gang dengan memikul barang dagangannya berupa kue-kue. Dalam hati saya berujar, seharusnya kekek setua ini menikmati hari tuanya di rumah dengan dikelilingi cucu-cucunya. Kemana anak-anaknya yang seharusnya merawat kakek itu di usia senja. Ah, saya jadi berpikir terlalu jauh.
Dari dua orang itu ada satu hal yang menyentak hati nurani saya: sudahkan saya bersyukur? Kadang kita terlalu sibuk dengan bisnis kita, kita selalu sibuk dengan segala urusan kita, sementara kita jarang melihat realita di sekeliling kita. Atau bahkan kita merasa paling sengsara ketika satu masalah menerpa kita tanpa melihat bahwa banyak di sekitar kita yang mempunyai beban dan masalah lebih besar daripada kita. Kadang kita merasa paling beruntung dan bahagia luar biasa ketika nasib baik menghampiri kita, sementara di saat yang sama kita lupa dengan orang-orang di sekitar kita.
Kita memang harus punya rasa empati sebagai bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang telah kita terima. Selain itu, kita juga seyogyanya punya sikap yang optimis di tengah himpitan kehidupan yang semakin kentara. Karena tidak sedikit diantara kita ketika dihadapkan dengan realitas yang mengharu biru, kita ikut-ikutan pesimis dengan segala ketakutan yang menyertai : takut  bangkrut, takut ditipu, takut kena PHK, takut tidak bisa membahagiakan dan mensejahterakan kedua orangtua dan keluarga, dan ketakutan-ketakutan lainnya. Alih-alih berempati dengan keadaan sekitar justru kita disibukan dengan bayang-bayang dan kemungkinan yang menakutkan.  Atau bisa saja berempati dengan kesusahan orang lain sekaligus merasa ketakutan dirinya mengalami hal yang serupa. Apalagi di saat yang sama ia dirundung gundah gulana karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Lamaran kerja selalu ditolak , sementara melihat teman sejawat sudah mendapatkan pekerjaan dan jabatan yang mentereng. Mana tahan? Maka muncul ujaran dalam hati," kasihan orang itu, tapi apa bisaku. Aku juga tak jauh beda dengan dirinya."
Maka yakinkan bahwa kita mempunyai Allah yang Maha Kuasa dan Maha Kaya. Yakinkan bahwa Allah akan memberikan yang terbaik kepada hambanya selama ia sungguh-sungguh dalam maisyah dan ikhtiar dengan segala kemampuan dan dengan jalan yang halal dan diridhoi-Nya. Lalu apa yang ditakutkan setelah ketawakalan? Tak ada yang mesti ditakutkan sama sekali.
Jadi, asah rasa empati kita dengan selalu berbagi dengan orang-orang di sekitar kita. Bagaimana pun keadaan yang kita terima, rasa empati harus kita pupuk dan pelihara. Jika seandainya kita hidup pas-pasan, siapa tahu dengan empati yang kita berikan Allah akan memberikan karunia-Nya Yang luas kepada kita. Jika kita dalam keadaan lapang, Insya Allah harta dan waktu
Yang kita sisihkan tidak tersia-siakan. Atau bahkan akan dilipat gandakan oleh yang sebaik-baik pemberi pembalasan. Masalahnya, apakah kita akan percaya akan janjinya atau pun tidak.

Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment