18 Apr 2015

TRIO KOPLAK

Ryan menyisir kumis klimisnya dengan sisir mungil khusus. Bibir tipisnya tersenyum merekah, maka kumisnya pun ikut melebar sesuai garis bibir yang ia tarik. Ryan mengembalikan sisirnya ke saku celana abu-abunya dan bersiap untuk berangkat sekolah.
Hai! Kamu pasti terkejut ketika mengetahui kenyataan bahwa Ryan anak SMA, bukan bapak-bapak, apalagi opa-opa. Tapi ada kesamaannya juga sih, Ryan adalah pecinta kumis.
Ryan adalah salah satu dari dua temannya yang sama-sama maniak kumis. Bahkan mereka punya nama tersendiri untuk genk mereka. TRIO KOPLAK (Komplotan Laki Kumis-an). Dan mereka telah mendeklarasikan bahka mereka tidak akan mencopot eh, mencukur kumis mereka sampai akhir hayat. Mereka merasa bangga dengan kumis yang bertengger anggun di atas bibir mereka.
Hingga bencana itu tak pernah terduga. Selepas melaksanakan upacara bendera, Ryan, Bondi dan Ande dipanggil Pak Kepsek ke ruangannya yang horror. Di hadapan mereka duduk Pak Kepsek di atas kursi kebesarannya. Tangannya yang kekar dan penuh dengan batu akik memilin-milin kumis tebalnya. Mungkin tebalan kumis Pak Kepsek dari pada trio KOPLAK itu. Tapi soal gaya kumis, yang pasti lebih cool kumis mereka bertiga. Kumis Pak Kepsek tak lebih dari gumpalan hitam layaknya ulat bulu yang bertengger di atas bibir hitamnya. Sementara kumis TRIO KOPLAK, walau pun agak tebal tapi tanpak terawat dan menambah kesan gagah. Memanjang lurus dengan garis lengkung yang artistik bagai pahatan yang sempurna. Bukan kumis ala Jojon yang seuted, apalagi kumis jaman kompeni baheula yang melengkung layaknya tanduk banteng.
Pak Kepsek berdehem dan menatap Ryan, Bondi dan Ande dengan tatapan yang tajam setajam silet. Bahkan Ryan tidak yakin, apa kesalahan yang ia dan kedua temannya perbuat sehingga harus menghadap Pak Kepsek di ruang horornya itu.
Pak Kepsek berdehem dua kali dan berkata,”Sengaja saya panggil kalian bertiga. Ada sesuatu hal yang ingin saya sampaikan.”
Pengennya Ryan bilang, Apa kesalahan kami pak? Kami tidak punya kesalahan yang membuat kami harus menghadap ke ruangan bapak. Hal itu, bisa jadi kesalahan yang bapak anggap telah kami lakukan kan?. Tapi pertanyaan itu hanya berputar-putar di benaknya. Ia tak berani mengatakannya. Bahkan tenggorokannya pun tercekat dan tidak bisa mengeluarkan suara selain desah nafas. Maklum, Ryan masih trauma dengan sosok di depannya itu. Ia pernah tiga kali menghadap gara-gara kasus tawuran dan anting lidah yang ia sempat pakai. Kejadiannya sih udah lewat setahun yang lalu.
Pak Kepsek kembali menatap mereka dengan tatapan sulit dimengerti.”Bapak tidak suka kalian berkumis!”
Ketiga KOPLAK itu tercekat dan terperanjat kaget. Kok bisa?
Kali ini Bondi yang angkat bicara.”Kenapa pak? Ada yang salah dengan kumis kami?”
“Apakah kalian pernah melihat ada anak sekolah seusia kalian yang berkumis tebal? Jelas itu tidak layak untuk anak sekolah seusia kalian.”ujar Pak Kepsek dengan nada retoris.
“Kami belum pernah mendengar peraturan seperti itu di sekolah pak.” Bondi mengeluarkan argumennya. Dia memang paling berani diantara kedua teman berkumisnya.”yang kami tahu, peraturan itu adalah, dilarang memakai aksesoris semacam gelang, kalung body piercing, sabuk duri yang berlebihan, dilarang mengecat rambut, dilarang gondrongin rambut, dilarang memakai sepatu selain warna hitam, dilarang…bla..bla..bla…”
Pak Kepsek menatap Bondi tanpa ekspresi.”Kamu tahu apa tentang peratauran sekolah. Kalau kamu memang tahu aturan sekolah, kenapa minggu yang lalu kami ikut tawuran ha, kenapa dua hari yang lalu kamu bolos saat pelajaran matematika. Jawab Bondi!”
Bondi langsung terdiam dan tak punya nyali lagi untuk berdebat dengan Pak Kepsek berkumis ulat bulu itu. Ia hanya mendesah putus asa. Bagaimana mungkin Pak Kepsek tahu segala hal tentang dirinya? Oh my…
“Bagaimana pun juga, kalian boleh berkumis selama kumis kalian itu wajar. Dalam artian, kumis kalian hanya perlu dipertipis.”
Kembali mereka bersitatap satu sama lain. Tak mengerti dengan apa yang Pak kepsek katakan barusan.
Ande menatap mata Pak Kepsek dengan yakin“Maaf pak, apakah kumis kami mengganggu proses belajar mengajar atau merusak pemandangan….atau merusak penampilan…atau…”Ande menggantung kata-katanya. Padahal ia ingin sekali mengatakan semacam ini, atau memang bapak merasa iri dengan kumis keren kami. Kami tahu, kumis bapak kalah pamor dengan kumis yang kami punya. Bapak merasa iri ketika melihat kumis artistic kami dan teman-teman memuji kami.
“Tidak. Apakah ketika kalian memakai body piercing atau sabuk duri kalian merasa terganggu ketika belajar? Tidak kan? Cuman, hanya orang-orang punk yang boleh dan pantas memakainya. Begitu juga dengan kumis, sama sekali tidak mengganggu proses belajar mengajar dan merusak pemandangan. Cuman, hanya orang-orang tertentu saja yang boleh memeliharanya.”jawab Pak Kepsek masih dengan gaya retorisnya. Bukan Pak Kepsek namanya kalau tidak pandai berargumentasi.
Ryan mendengus kesal. Aku tahu, dalam hati, bapak pasti bilang bahwa hanya bapak yang boleh memelihara kumis. Gara-gara kumis kalian, banyak siswa yang meledek kumis bapak dengan ledekan yang sangat hina. Kumis ulat bulu.
 Ryan jadi teringat mading sekolah, ini pasti ada hubungannya dengan puisi kumis ulat bulu yang ada di mading seminggu yang lalu. Entah siapa yang menulis. Yang pasti, kemungkinan besar Pak Kepsek merasa tersinggung dan melimpahkan kemarahan dan kekesalannya pada mereka bertiga. TRIO KOPLAK.
“Mulai besok, bapak tidak mau lagi melihat kalian berkumis!” seru Pak Kepsek membuyarkan lamunan mereka bertiga. Itu berarti, mereka harus mencukur kumis cool mereka.
****
Pagi hari itu, seluruh penghuni sekolah gempar. TRIO KOPLAK sudah mempensiunkan kumis artistik mereka dan sekaligus membubarkan genk mereka. Lebih tepatnya, membubarkan nama genk mereka. Sejarah akan mencatat, tidak aka nada lagi eksistensi TRIO KOPLAK di sekolah itu.
“Gue masih nggak habis pikir. Kok bisa ya Pak Kepsek melarang kita berkumis. Kalau ngelarang jenggot sih wajar. Entar disangka teroris.”
Ryan mengangguk. “Lu pada inget nggak, puisi yang berjudul “Kumis Ulat Bulu” yang ditempel di mading minggu yang lalu. Gue punya feeling, ini pasti gara-gara puisi sialan itu. Siapa sih yang bikin puisi sampah itu?”
Bondi garuk-garuk kepala dan tersenyum jahil.”Maaf ya, sebenarnya….g-gue yang bikin puisi itu.”
“APA?!”dan serta merta kedua rekannya menjotos kepala Bondi dengan gemas. Tadinya, mereka mau menjawil kumis temannya – sesuai kebiasaan mereka ketika marah terhadap sesama teman kumisan-. Tapi kan bawah hidung mereka sudah “diplontos” sejak kemarin sore.
 


Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment