14 Apr 2015

Perempuan Senja

Aminah selalu menatap senja. Menyaksikan semburat jingga yang dipancarkan matahari yang mulai tenggelam ke peraduannya. Menyaksikan ratusan burung yang terbang mengangkasa seumpama noktah-noktah hitam yang menghiasi ujung cakrawala, menghirup semilir angin yang membawa bau jerami dari petak-petak sawah yang baru saja dipanen. Entah kenapa, aminah begitu menyukai senja. Baginya, senja selalu sama. Tapi senja selalu membawa kenangan-kenagan tersendiri.Kenangan atas nama cinta.
Dulu, masih di suatu senja, seorang pemuda mendatangi rumahnya untuk mengkhitbahnya. Orang tuanya hanya mengulum senyum ketika mereka tahu bahwa pemuda ituadalah seorang anak juragan pengepul jengkeh dan kapulaga yang terkenal di desa mereka. Maka, tanpa menunggu kata dari sang anak, orang tua  Aminah menerima pinangan itu dengan hati yang berbunga-bunga. Mereka selalu mengumbar kebaikan-kebaikan sang pemuda dan meyakinkan Aminah bahwa ia akan hidup bahagia. Tak da kekurangan apa pun.
“Yakinlah neng, kamu akan hidup bahagia bersama Ahmad. Banyak gadis yang mengharapkan Ahmad. Bahkan ada pula yang orang tuanya menawarkan langsung anaknya ke juragan Kasim. Ya nggak diterima, mungkin saja Ahmad mengharapkanmu sejak dulu.”ujar emak suatu hari. Aminah hanya menunduk saja.
Sebagaimana kebanyakan gadis desa, Aminah manut apa yang diinginkan kedua orang tuanya. Baginya, apa yang diinginkan dan ditentukan orang tuanya, itulah yang terbaik untuk dirinya sendiri. Lagi pula, orang tua mana sih yang tidak sayang terhadap anaknya.
Selang beberapa bulan kemudian pernikahan Aminah dan Ahmad terselenggara dengan meriah. Maklum, orang tua Ahmad orang terpandang sebagai juragan pengepul hasil panen cengkeh dua desa. Sementara orang tua Aminah juga sama terpandangnya, bapak Aminah adalah seorang kades yang sangat disegani.
Apatah lagi, pernikahan itu adalah pernikahan pertama bagi keluarga Aminah. Kedua orang tua Aminah sangat bahagia ketika mereka melihat putri semata wayangnya bersanding di pelaminan. Padahal, Aminah sudah berumur dan melebihi standar umur nikah bagi masyarakat kampungnya. Maka, siapa yang mau anak gadisnya dijuluki perawan tua?
****
Sudah dua tahun lamanya Aminah dan Ahmad menjalani kehidupan rumah tangga mereka. Benar apa yang dikatakan emaknya dulu, Aminah kini merasa hidup bahagia mendampingi suaminya. Ia tak kekurangan suatu apa pun selama mengabdi untuk Ahmad. Semua yang ia mau dan pinta seakan bisa langsung menjadi kenyataan. Dari rumah gedongan, mobil keluaran terbaru, ladang dan sawah, serta para khodimah yang selalu melayani mereka berdua menjadikan Aminah dan Ahmad hidup bagai tanpa kendala apa pun. Satu tahun setelah pernikahannya, Aminah melahirkan seorang anak lelaki yang menggenapi kebahagiaannya.
Tapi tak dinyana, selang dua tahun setelah kelahiran putranya, Aminah harus menanggung kenyataan yang ia sendiri tak yakin akan sanggup memikulnya. Ahmad menikah lagi dengan janda kembang di kampung sebelah.
Sebenarnya, bukan masalah kawinnya yang Aminah permasalahkan. Toh banyak pula lelaki yang poligami tapi juga tetap hidup rukun dan akur. Tapi beda dengan Ahmad, setelah pernikahannya dengan  Yeti, si janda kembang itu, perhatian dan cinta kasihnya hanya tercurah untuk Yeti seorang. Ahmad lupa akan kehadiran Aminah dan anak lelakinya.
“Kang, kamu sudah dua minggu tidak pulang ke rumah. Kamana wae atuh. Piraku hanya ngurus si Yeti, sementara anak sendiri terlantarkan!”seru Aminah suatu hari. Ia sudah tak tahan dengan sikap suaminya yang memuakkan. Kebahagiaan dan asa yang ia rajut selama tiga tahun rumah tangganya, kini harus hancur lebur oleh sikap Ahmad yang tak lagi mempedulikannya.
Ahmad menatap Aminah dengan tatapan tak senang.”ya ajar lah, akang mengutamakan Yeti. Kan kamu sudah tiga tahun mendapatkan kasih sayang akang. Sementara Yeti, baru dua bulan dinikahi akang.”
“Tapi itu kan tidak adil!”seru aminah dengan mata yang mulai berair.”Seharusnya akang bisa memperlakukan istri dengan sikap yang sama.”
Ahmad mendengus tidak senang.
Akang sadar, setelah pernikahan akang dengan Yeti, perilaku akang telah berubah terhadap eneng dan si ujang. Akang selalu menggerutu dan bermuka masam.”
“Itu hanya perasaanmu saja!”bentak Ahmad dan berlalu dengan membating daun pintu. Tinggalah Aminah yang menangisi nasibnya. Diam-diam hatinya menyesal telah menikah dengan Ahmad. Tapi segera ia tepis rasa penyesalan itu. Aminah sadar, Gusti Allah sudah menakdirkan kehidupannya di lauh mahfuz-Nya. Aminah hanya berharap kebaikan dan ketabahan dari Gusti Allah saja.
***
Bukan main menyebalkannya tingkah laku Yeti. Ia tak pernah sekali pun menyapa Aminah atau sekedar bertandang ke rumahnya. Bahkan dengan tega, Yeti menyebarkan api fitnah, ia mengatakan bahwa pernikahan Ahmad dengannya karena kekecewaan Ahmad terhadap aminah. Ia mengatakan bahwa aminah telah berbuat serong dengan seorang pemuda mantan kabogoh semasa SMAnya.
“Makanya Kang Ahmad merasa sakit hati dan menikahi saya.”selalu begitu Yeti memungkas fitnahnya. Ada orang yang percaya dengan kata-katanya. Ada pula yang tidak percaya, dan tak sedikit yang tidak peduli dengan masalah rumah tangga orang lain. Tapi bagaimana pun juga, Aminah merasa sakit hati luar biasa. Apalagi Ahmad semakin menjadi adat iblisnya. Kini, suaminya yang dulu menjadi tambatan hatinya semakin membuatnya sakit tiada kentara. Bukan hanya sakit hati, tapi juga sakit raga. Ahmad mulai berani menyakiti tubuhnya ketika aminah berusaha melawan segala kedzoliman suaminya. Tamparan dan pukulan kerap mendarat di tubuhnya.
Karena tidak kuat lagi dengan laku suaminya, Aminah menggugat cerai. Dan selang setelah itu, Aminah resmi bercerai dengan ahmad dengan hak asuh anak berada di tangannya. Bukan main lega hatinya, meski rasa perih masih saja tersisa. Aminah selalu berharap kepada Gusti Allah untuk dirinya dan anak semata wayangnya.
Gusti Allah seakan tahu akan derita hati Aminah. Dengan kekuasaannya, Ia berkenan menghilangkan rasa perih dan sepi Aminah dengan mengirimkan seorang lelaki tampan dan soleh untuk menjadi suami keduanya.
Tanpa sengaja, suatu hari Aminah ditawari Ustadzah Khodijah untuk menikah dengan adiknya yang baru lulus S1 dari al-Azhar mesir. Katanya, adik lelakinya itu tak mempermasalahkan gadis atau janda yang akan mendampinginya untuk melanjutkan study di kairo.
“Tapi saya sudah punya anak bu Ustadzah. Apa kang Farhan mau menerima anak saya?”Tanya Aminah sangsi.
“Tentu saja dia mau. Farhan itu sangat menyayangi anak-anak Min. lagi pula, mana mungkin dia tidak mau menikah sama janda secantik kamu.”puji ustadzah Khodijah dengan senyum lebar.
Pipi Aminah bersemu merah mendengar pujian ustadzah khodijah kepadanya.
Tak perlu menunggu waktu lama, setelah melalui proses khitbah dua minggu kemudian Aminah dan Farhan menikah. Sesuai dengan janji dan keinginannya sebelum menikah, farhan membawa aminah dan anaknya ke Kairo untuk menemaninya belajar di negeri nabi Musa tersebut. Rencananya, Farhan ingin melanjutkan program S2 di universitas yang sama.
“Sebagai hadiah pernikahan kita, aku ingin mengajakmu umrah Aminah. Kita akan mengikrarkan janji cinta kita di jabal rahmah.”bisik Farhan ketika pesawat mulai take off dari bandara.
Aminah terbelalak tak percaya. Tak terasa air mata bahagia mulai mengalir di kedua pelupuk matanya. Ia menyandarkan kepalanya ke dada lelaki  yang kini menjadi muara harapan dan asa yang sempat tertunda.
*****
Aminah adalah perempuan beruntung mendapat cinta seorang ustadz muda. Keberuntungan itu semakin berlipat ketika ia menjalani kehidupan barunya di Kairo untuk mendampingi Farhan menempuh masa tholabul ilmi hingga tuntas dengan hasil yang memuaskan.
Semenjak mendapatkan gelar S2-nya, Farhan  bergabung dengan lembaga relawan kemanusiaan di Syiria yang menjalankan misi bantuan untuk para mujahidin.
Akang ingin turut andil dalam menegakan kemaslahatan untuk saudara-saudar kita aminah. Jadi, akang minta Aminah rela.”ujar Farhan suatu hari ketika melihat ada gurat keberatan di wajah aminah yang ayu.
Aminah menghela nafas panjang dan menatap wajah suaminya yang teduh dengan penuh keyakinan.”Apa pun yang akang tempuh, selama itu baik maka aminah akan dukung sepenuh hati.”
Farhan tersenyum lebar dan memeluk aminah dengan sepenuh cinta.”kau memang istri yang telah Allah pilihkan untukku. Terimakasih Aminah. Ana uhibbuki fillah..”lirih Farhan di telinga kanannya.
Selang beberapa hari setelah itu, suaminya berangkat ke Suriah. Farhan meyakinkan Aminah, bahwa ia akan selalu mengontaknya di Mesir. Tapi nyatanya, Farhan tidak bisa dihubungi dua bulan lamanya. Sesibuk apakah suaminya sampai ia lupa memberi kabar istrinya? Apakah farhan lupa dengan janjinya? Terkadang Aminah merasa was-was dan cemburu terhadap Farhan. Tapi segera ia tepis perasaan itu. Tak seharusnya ia mencurigai lelaki sesaleh Farhan. Tak ada cela dan cacat yang pernah ia temukan selama mendampinginya dari awal malam pertama hingga detik akhir perpisahannya mengantarkan hingga bandara. Tidak sama sekali.
Maka setelah itu, hanya kerinduan dan pengharapan yang selalu menemani hari-hari Aminah. Cintanya yang tulus terhadap farhan membuat ia kuat dan bangun dari segala keputus asaan. Cintanya pada anak semata wayangnya dan jabang bayi yang ia kandung, benih cinta Farhan padanya, membuatnya bahagia menjalani hari-hari di kairo meski tanpa kehadiran suami tercinta.
Pun ketika ia harus melahirkan si jabang bayi tanpa Farhan di sisinya. Aminah tegar dan berusaha tersenyum melewati masa-masa sakitnya. Dengan air mata bahagia, ia menimang bayinya dan mengabarkan kelahiran anak keduanya kepada emak dan bapak di Indonesia. Ia bahagia dan tak pernah meminta hal yang aneh-aneh kepada Gusti Allah selain kepulangan suaminya.
“Pasti abi senang melihat si adek sudah keluar dari perut ummi.”ujar anak sulungnya dengan senyum polosnya. Ia merebahkan kepalanya di dada aminah.
Aminah mengelus kepalanya dan mengangguk pelan. Kerinduan kembali menyeruak di dada. Tapi justru kerinduan dan kesetiaan itulah yang membuatnya bangun dari segala keterpurukan dan ketidak pastian. Dan malam itu, aminah membuktian kekuatan cintanya ketika ia menerima telpon dari yayasan lembaga kemanusiaan suaminya.
“Saya harap nyonya sabar menerima kenyataan ini. Kemah relawan kami menjadi sasaran rudal rezim pemerintah. Belasan relawan kami syahid termasuk akhi Farhan, suami nyonya di dalamnya,”ujar sebuah suara bariton dengan dialek arab khas Mesir.
Aminah hanya termenung dan menghela nafas panjang. Air mata mengalir di kedua pipinya. Ia menangis tanpa suara. Sementara ditatapnya kedua anankya yang sudah tertidur sejak isya.
“Kang, saya bangga kau telah menjadi salah satu yang Gusti Allah pilih dengan keistimewaan itu. Kini, akulah yang akan meneruskan perjuanganmu dalam mendidik anak-anak kita.”lirih Aminah dalam tangisnya yang diam. Aminah yakin, cinta dan kesetiaanlah yang membuatnya selalu kuat dari keterpurukan. Tiba-tiba saja ia ingat kata-kata suaminya di malam pertama mereka.”Akang ingin, cinta kita berlandaskan cinta Allah, Aminah. Jika cinta kita adalah celupan cinta-Nya, maka tak ada lagi perpisahan hingga negeri akhirat nanti.”
****
Aminah menghela nafas panjang. Semburat jingga semakin kentara memenuhi garis lengkung cakrawala. Tak berapa lama, kumandang adzan bersahutan dari setiap penjuru kampung. Sementara, burung-burung yang semupama noktah hitam sudah menghilang secara perlahan dari kanfas langit jingga.
“Ayo Aminah, sudah maghrib.”seru emaknya dengan senyum sumringah. Di belakangnya tampak kedua buah hatinya tengah tersenyum kepada Aminah. Si kakak sudah bersarung dengan kopiah hitam di kepalanya. Sementara adiknya, anak dari Farhan memakai mukena yang sebulan yang lalu baru ia beli.
“Ayo, Aminah mau ambil mukena dulu mak.”jawab Aminah sembari melangkah ke dalam. Tak berapa lama ia sudah kembali dengan sajadah yang tersampir di pundak. Mereka pun berlalu untuk melaksanakan sembahyang maghrib di surau kampung.
                                                                                                                Tasikmalaya, 07 April  2015
KETERANGAN
Eneng : panggilan sayang seorang suami terhadap istri. Panggilan untuk adik perempuan
Khodimah : pelayan, pembantu (b. arab)
Kamana wae atuh : kemana aja
Piraku : masa
Akang : kakak, panggilan seorang istri untuk suami
Ujang : panggilan saying untuk anak lelaki
Kabogoh : kekasih
Khitbah : lamaran (b. arab)
Ana uhibbuki fillah : aku mencintaimu karena Allah
Akhi : saudara /untuk lelaki (arab)



Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment