5 Apr 2015

Bukan Pernikahan Cinderella


Sebelum menikah kadang kita berpikir dan menimbang-nimbang. Sebenarnya enakan mana ya, hidup sebelum nikah atau setelah menikah? Pertanyaan itu berangkat karena adanya kenyataan jawaban yang fariatif dari orang-orang yang sudah menikah pada umumnya.


Sebagian ada yang bilang begini,”ya enak hidup setelah nikah lah. Kita jadi ada yang merhatiin (maksudnya istri). Ada tempat berbagi dan berlekuh kesah. Menjadi sandaran dari segala duka dan asa.” Aih, angan kita pun melambung pada kehidupan rumah tangga yang sangat-sangat sempurna. Dan kita pun memimpikan hal itu terjadi pada kehidupan rumah tangga kita kelak. Namun kita dibuat bingung ketika ada sahabat kita yang lain mengatakan sebaliknya,”siapa bilang nikah itu enak. Konsentrasi kita jadi pecah dua. Waktu lajang dulu, aku hanya ngurusin diri sendiri. Eh pas udah nikah, aku harus ngurusin istri dan anak. Mereka juga perlu makan dan pakaian. Nikah nggak hanya bermodal cinta dan semangat saja.”



Nah lho. Jadi mana sih pernyataan yang benar. Jangan sampai, niatan kita menikah menjadi down gara-gara kebingungan tersebut. Kalau menurut hemat saya, kedua-duanya benar. Kenapa? Yang namanya kehidupan itu dinamis dan selalu berubah. Mau itu hidup sebelum nikah atau pun sesudah nikah, tetap peluang kebahagiaan ada. Pun sebaliknya, peluang trouble juga ada. Jadi, tergantung kita menyikapinya.  selama kita hidup, suka dan duka akan selalu mewarnai kehidupan kita. Sebelum menikah kita bisa jadi galau karena jomblo misalnya. Tak menutup kemungkinan setelah menikah kita juga merasakan galau dengan kasus yang berbeda. Begitu juga sebaliknya.



Lalu bagaimana cara menyikapinya? Bersikaplah dewasa. Kita dituntut untuk selalu siap menghadapi berbagai keadaan yang mungkin terjadi. Jangan terlalu semangat di awal jika memang kita belum benar-benar siap menikah. Jangan pula terlalu pesimistis dan takut melangkah ke jenjang pernikahan. Karena yakinlah, peluang kebahagiaan dan kesusahan itu sama. jika seandainya harus memilih, maka pilihan yang terbaik adalah menikah. Dengan menikah kehormatan kita terjaga. Selain itu, menikah adalah jalan rasulullah yang sangat dianjurkan untuk para umatnya.



Bukan pernikahan Cinderella



Sekali lagi saya yakinkan, bahwa kehidupan rumah tangga itu dinamis dan memerlukan sikap yang bijak dan dewasa dari kedua pihak( suami dan istri). Karena banyak diantara kita yang terjebak Cinderella syndrome. Kita selalu membayangkan pernikahan yang sempurna. Membayangkan sang pangeran pujaan hati melamar kita. Di mata kita, sang pangeran adalah sosok yang begitu sempurna. Tak ada cacat yang Nampak. Segalanya serba indah dan melenakan.



Setelah masuk jenjang pernikahan, Cinderella syndrome itu masih menguasai pikiran kita. Tak ayal, kekurangan-kekurangan pasangan menyesakan dada. Tak ada lagi kemesraan. Dan sedikit demi sedikit rasa cinta akan memudar. Naudzubillahi min dzalik.



Kesimpulannya, dalam mengarungi kehidupan rumah tangga, kita dituntut untuk bersikap bijak dan dewasa. Selama kita masih bernafas, selama itu juga masalah akan selalu ada.

Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment