22 Mar 2015

Perjalanan ke Calcuta


Prakash Patra menghempaskan kepalanya pada kursi berbusa kereta. Sengaja ia memilih sleeper claas walau harus dengan mengeluarkan lebih banyak uang. Bagaimana pun juga, perjalanan Haryana-Kalkuta akan memakan waktu yang cukup lama. Ia yakin, ia butuh istirahat untuk memulihkan tenaganya setelah perjalanan seharian dari Sirsa hingga Biwani. Mata cokelatnya menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam empat sore. Parakash Patra ingin tidur, tapi suara bising di sekitarnya tak bisa mendukung kantuknya. Seorang perempuan paruh baya menawarkan nasi box dan ayam biryani dengan suara nyaring. Dua orang kondektur dan petugas militer masuk ke dalam gerbong untuk memeriksa tiket setiap penumpang. Prakash mengambil tiket kereta dari saku celananya dan menyerahkannya. Dua petugas itu mengangguk pelan dan melanjutkan pemeriksaan kepada penumpang lainnya.
Prakash kembali termenung.  Kejadian kemarin sore kembali memenuhi benaknya dan membuatnya pening.
***
“Prakash!! Kamu benar-benar binatang! Apa ini?” bentak Purohit, sang kakak. Tangan kakannya yang kekar mengacungkan sebuah kitab. Kitab al-qur’an yang tempo hari ia dapatkan dari Emali sahabat sefakultasnya.
Parakash terdiam.
“Kamu sudah diracuni oleh orang-orang islam itu?!” cercanya lagi. Kali ini tangannya terayun dengan cepat. Al-qur’an itu hampir mendarat di mukanya jika ia tidak berkelit. Utungnya ia sigap merentangkan tangannya sehingga al-quran hadiah dari temannya itu tidak jatuh ke tanah.
Tiba-tiba ayah dan ibunya datang dari ambang pintu depan. Wajah ibunya menyiratkan kehawatiran yang begitu sangat.”ada apa Purahit? Kenapa kau bersikap kasar?”tanyanya sembari mencekal pergelangan tangan Purohit yang hendak menghantam Prakash.
“Dia hendak menghina kita. Dia menghina para dewa dengan mendukung orang-orang muslim.”terang purohit dengan tatapan nyalang.
“APA?!” Tanya ibu dan ayahnya hampir berbarengan. Mereka kini menatap Prakash dan Purohit secara bergantian. Seakan menimbang-nimbang, benarkah apa yang dikatakan anak sulungnya barusan?
Prakahs Patra mendesah,”Ya ibu, saya sudah menjadi seorang muslim.
Ayahnya terlonjak kaget. Ibunya menangis dan mengyusut butiran air mata yang mengalir di kedua pelupuk matanya.
‘PERGI!! PERGI DARI RUMAH INI!” bentak ayahnya dengan keras. Matanya senyalang mata elang. Merah laksana api yang berkobar.
Prakash menghela nafas.” Bahkan saya menduga hal ini akan terjadi, aku akan pergi saat ini juga!”ujarnya tegas.
Dan malam itu juga, ia pergi dari rumah disertai deraian air mata ibunya dan tatapan benci ayah dan Purohit kakaknya. Ia tak mau dan tak akan pernah menyesali keputusannya itu. Sesekali kekhawatiran menyelusupi hatinya. Tapi ia segera tepis jauh-jauh.
 Malam itu juga ia mendatangi rumah Emali di daerah Sirsa, teman yang menghadiahinya al-Quran. Tapi Emali merasa tidak enak menerima tamu teman lelaki tengah malam. Bagaimana pun juga, ia takut akan gunjingan tetangga-tetangga muslimnya. Akhirnya Emali menyerahkan secarik alamat untuk Prakash.”Ini maula saya di masjid. Kamu bilang padanya, kamu mualaf dari Haryana. Aku akan menelpon maula Ibrahim saat ini juga.”
****
Prakash terbangun dari tidurnya ketika kereta berhenti di stasiun kalkuta. Ia segera mengemasi ranselnya dan beranjak turun dan duduk di kursi panjang. Stasium begitu ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.”Prakash!”
Prakash menolehkan kepalanya dan didapatinya Emali dan seorang lelaki dengan wajah pakistannya yang khas. Ia tersenyum demi melihat siapa yang menepuk pundaknya barusan.
“Sudah lama menunggu?”
“Baru saja aku turun.”jawab Prakash Patra.
“Ini kakakku Abdullah. Untuk sementara kau bisa tinggal di apartemennya dan belajar islam di masjid terdekat.
Abdullah menjabat tangannya disertai tatapan hangat dan bersahabat. Tanpa ia sadari bahwa mata Prakash telah berlinang oleh air mata bahagia.
Parkash tersenyum lebar. Ia yakin, ia akan menemukan asanya yang hampir tenggelam dengan dikelilingi brother muslim yang baik hati. Benar, ia telah kehilangan cinta dari keluarga besarnya. Prakash telah kehilangan cita-citanya menjadi seorang pengacara setelah ia terusir dan tak bisa lagi masuk universitas. Tapi Allah punya cinta yang lebih agung dari semua itu. Kini ia telah mereguk kenikmatan cinta-Nya dan cinta teman seakidah. Prakash tak lagi peduli dengan cita-citanya. Tak lagi merasa kehilangan segala harapan dan mimpi yang ia bangun semenjak kecil.
“Bagaimana pun juga, cita tertinggi seorang muslim adalah keridhoan Tuhannya. kadang untuk mencapainya, harus mengorbankan segala yang kita harapkan dan impikan.” Begitu kata Abdullah padanya.
Biodata penulis
Nama lengkap husni mubarok. Beberapa tulisannya berupa cerpen, artikel, dan puisi telah di muat di beberapa media seperti majalah Annida, Horison, ar-Risalah dan voa-islam.com. Saat ini menjadi kontributor portal berita islam bersamadakwah.net
bisa dihubungi di akun facebook; Kang Uni Mubarok, email; husnimubarok5593@gmail.com dan nomor kontak 085315675774



Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

2 comments: