22 Mar 2015

NURANI YANG TERKOYAK >>>PART 11

Mobil melunjur menuju kawasan yang dijejali dengan pusat-pusat perbelanjaan, kafe, bar dan butik-butik mewah. Kemudian berhenti di depan sebuah kafe. Dari luar terdengar entakan music yang begitu kentara. nur bisa merasakan ingar binger dari lampu disko yang menyoroti depan kafe. Mereka bertiga turun dari mobil. Satu hal yang menjadi kesulitan tersendiri bagi nur; memakai high heels di kedua kakinya yang lebar. Tante viola tak pernah menyuruhnya memakai high heels ketika ia bekerja di kafe siang. Tapi saat ini beda, tante mewajibkannya memakai sepatu tak tahu diuntung itu.
“nanti lama-lama kamu juga bakalan terbiasa kok,”ujar tante viola enteng ketika nur mengeluh betapa sulitnya berjalan dengan memakai sepatu seperti itu. Gerak kakinya merasa cukup terakekang oleh rok ketat di atas lutut. Dan itu diperparah oleh sepasang sepatu high heels.
“oke, tante ada urusan lain. Kalian nanti pulang pake taksi saja ya.”ujar tante viola sembari memutar mobilnya dan meninggalkan mereka bertiga. Sekar sudah pergi duluan ke dalam kafe.
“ayo.”ujar ninon sembari menarik tangan nur. Mereka berjalan beriringan. Semakin ke dalam, suara entakan music semakin keras terdengar. Loud speaker ditempatkan di setiap atas sudut ruangan. Lampu disco membuat nur merasa silau dan pusing.
Langkah nur hamper terseret-seret ketika ninon menggenggam pergelangan tangannya. Perempuan itu begitu lincah menerobos kerumunan dan berjalan anggun dengan high heelsnya. Padahal nur harus berjalan tertatih-tatih dan meringis ketika hamper terjatuh.
“ninon, kamu mirip polisi nyeret penjahat. Bias nyantai dikit nggak?”
Ninon menatap nur dan tertawa geli.”sorry.”
Beberapa lelaki yang sedang asyik dengan botol-botol bintang bersuit dan memanggil ninon dengan mesra. Tapi ninon hanya memasang senyum tipis. Bahkan beberapa orang ada yang menjawil lengannya. Huh, untungnya tak satu pun yang menyentuh nur. Mungkin mereka masih merasa asing dengannya. Mereka hanya menatap dan bersiul saja. Itu juga cukup membuat nur jengah.
Tak berapa lama mereka telah sampai di meja bartender. di sana tampak seorang lelaki dengan wajah indo sedang asyikmengisap rokoknya. Beberapa botol bir dengan merek bintang dan wine berjajar rapi di depan dan disampingnya. Ninon menghampiri dan menyapa pria berwajah indo itu.” Hai fernandes, apa kabar.”
“fine, nona manis.  Dia rekan kerja baru kita?”tannya sembari melirik kea rah nur. Nur tersenyum.
“ya.”jawab ninon dan beralih menatap nur.”perkenalkan nur. Ini fernandes. Dia juga pelayan disini.”
“nurani.”nur menyebutkan namanya dan mengulurkan tangannya.
“Sebastian fernandes.”jawabnya dan menyambut hangat uluran tangan nur.
“oke, aku akan mengantarkan pesanan dulu ya.”ujar fernandes masih dengan senyuman kahsnya. Tangan kekarnya cekatan mengambil beberapa botol bir bintang dan menyusunnya di atas nampan dengan glas-gelas berkaki tinggi. Kemudian pergi dari hadapan mereka berdua.
“kamu belum pernah cerita ninon.” Seru nur. Disini, bicara harus dengan urat leher. Jika tak berteriak, suaramu akan tertelan suara ingar binger music.
‘cerita tentang apa?”
“cerita tentang fernades. Aku kira Cuma kamu dan sekar yang bekerja disini.”
Ninon tersenyum.” Ia, kita biasa malam nyampe sini. Adapun fernandes, dia biasa sudah stand by disini sejak jam lima sore.”
Nur menatap sekitarnya. Suasana yang begitu meriah dengan lampu disko yang menyoroti setiap wajah pengunjung. “lumayan juga ya pengunjungnya.”
“iya dong, saya sama sekar biasa kerja sampe jam tiga dini hari.”
“pantes aja kalian mirip vampire. Suka tidur siang.”
Ninon tertawa lebar mendengar gurauan nur. “begitulah orang-orang yang mengabdikan hidupnya dengan kehidupan malam nur. Ngomong-ngomong, kamu udah ngantuk ya.”
Nur mendengus.”aku belum terbiasa dengan kerja seperi ini. Taku tak bias membayangkan, bagaimana aku bias bertahan sampai jam tiga dini hari ninon.”
“nyantai aja kali, nati juga adaptasi.”jawab ninon enteng. Ia mengalihkan pandangannya kepada sosok fernandes yang sudah kembali duduk bersama mereka.”gimana saying, udah banyak laku birnya?”
Fernandes kembali mengambil sebatang rokok sampoerna dari atas meja. Gayanya tak ubahnya seperti pria borjuis mettropolitan. “lumayan.”
Ninon mengamit lengan fernandes dan mengambil rokok yang sama.” Rokok nur?” tawarnya.
Nur tertawa sarkastis.”sejak kapan aku suak rokok ninon. Habiskan saja sama kekasihmu.”
Mereka bercengkrama hingga para pengunjung bar semakin meamdati ruang utama.
“oke, sekarang giliran kamu untuk mengantarkan pesanan bintang ini kea rah sana nur. “ujar fernandes sembari menunjuk kerumunan orang di pojok kafe. Pojok gelap yang tak terlaluterusik keramaian.
Nur mengambil nampan di samping fernandes dan mengambil beberapa botol dan gelas. Kemudian pergi menyusuri meja-meja yang terlihat berantakan. Tak berapa lama, ia sudah sampai menuju meja di sudut kafe. Disana terdapat tiga orang pria dengan pakain perlente sedang asyik bercengkrama satu sama lain. Nur tersenyum kepada mereka dan menyimpan botol dan gelas di atas meja.
“kalau kurang bias pesan lagi di meja bartender tuan.”ujar nur dan kembali tersenyum.
“kurasa tiga botol cukup.”ujar salah seorang dari mereka sembari menatap nur sedemikian rupa.
“kau baru disini?”
Nur mengangguk dan hendak kembali pergi. Tapi salah seorang dari mereka mencekal pergelangan tanganya.”jangan dulu pergi manis…”
Nur terperanjat kaget.”iya tuan.”
“apakah nona manis punya waktu malam ini. Kebetulan saya merasa kesepian.”
Nur terperanjat dan hamper saja terjatuh dari tumpuan high heelsnya. Tapi dia segera sadar. Ini sebuah tuntutan. Ia ingat kata-kata tante viola semalam. Lagi pula, bekerja disini atas kemauaanya sendiri. Kembali, wajah dani membayang di kedua pelupuk matanya.
“oh, tentu saja bias tuan. Tapi tunggu sampai satu jam kedepan. Aku ada perlu dengan pelanggan yang lain. Jika tuan mau, tinggal memanggil saya di meja bartender.”
Lelaki bertubuh kekar itu tersenyum dan mengangguk puas. Nur kembali dari hadapan mereka. Air mata hampir mengalir di kedua pelupuk matanya jika ia tak segera menahannya. Malam ini ia harus berperan lain. Ya, nur terpaksa haarus menanggalkan semua batasan-batasan norma yang ia pegang dari desa. Ia hanya butuh uang.
 Tuhan, aku hanya butuh uang untuk operasi kanker dani. Maafkan aku tuhan. Berilah aku kelonggaran.
Ninon menyambutnya dengan wajah sumringah. “Tampaknya kamu tadi ngobrol sama mereka. Apa yang kalian bicarakan?”
Nur tersenyum kecut.”pesanan.mereka butuh beberapa botol lagi. Tapi nanti.”
Fernandes bangkit darikursinya.”oh iya, aku sudah janji untuk menemani temanku main billiard. Tunggu disini ya saying.”ujarnya dan mengecup pipi ninon. Ninon bersemu merah dan melirik kea rah nur. Nur pura-pura asyik memutar-mutar jam tangannya hingga fernandes pergi dari hadapannya.
“oke, sebetulnya salah seorang pria tadi memintaku untuk menemaninya mala mini.”ujar nur lirih. Hamper tak terdengar oleh suara music yang membahana.
Ninon tersenyum.”bagus dong, baru beberapa menit, kamu sudah ada yang pesan.”
Nur tersenyum hambar.”semoga aku tak menyesal.”
Ninon menghela nafas panjang. Kali ini dia hanya diam.
“kemana sekar?” Tanya nur. Matanya celingukan mencari kawannya yang arogan itu.
“mungkin sudah ada yang bawa. Tadi aku sempat melihatnya merayu seorang bule.”
“kamu sendiri kenapa tidak berkeliling meja dan mencari__”
Ninon menutup mulut nur dengan tangan mungilnya.”please nur. Aku tak ingin mengkhianati fernandes. Aku berjanji akan mencintainya sepenuh hati.”
Nur terdiam dan paham apa yang dimaksud ninon. Ninon menurunkan tangannya dan kembali menikmati sisa rokoknya.
“lalu, kamu dapat duit darimana?”
Ninon melepaskan asap rokok dari mulutnya sedemikian rupa. Membentuk gumpalan-gumpalan berbentuk lingkaran.”kau belum tahu. Fernandes bekerja disini bukan demi uang. Tapi demi diriku. Ia anak orang kaya nur. Bapaknya seorang menteri dan ibunya sebagai dokter spesialis jantung.”
“bagaimana mungkin ia bias terdampar di kafe ini?”
“ceritanya panjang.” Jawab ninon. Tatapannya menarawang.
***
malam sudah begitu larut. Seorang gadis berwajah oval tampak duduk di meja bartender dan menatap sekeliling kafe. Hmm, sudah sepi rupanya. Hanya ada beberapa gelintir orang yang masih bertahan di mejanya masing-masing. Beberapa botol minuman tampak berserakan di atas meja yang sudah tidak bertuan. Gadis itu menunggu sampai pengunjung benar-benar pulang semua dan membayar bir nya.
Satu jam berlalu ketika dia sudah benar-beanr yakin bahwa kafenya sudah kosong dari pengunjung. Kemudian tangan mungilnya mulai mengambil botol-botol kosong dan menumpuknya dalam keranjang plastic. Pekerjaan tambahan adalah harus membersihkan sisa-sisa makanan dan puntung rokok yang berserakan di setiap meja. Begitulah, kondisi meja-meja kafe tak ubahnya seperti kapal titanic yang menabrak gunung es. Tapi gerakan tangannya berhenti ketika ia melihat seseorang teronggok di sudut ruangan. Mulutnya mengeluarkan erangan atau lebih mirip igauan tak jelas. Disampingnya terdapat tiga botol bir yang sudah kosong melompong. Gadis itu mengerutkan keningnya, rupanya masih ada seorang lelaki di kafenya. Ah, padahal ia ingin segera pulang dan membenamkan kepalanya di atas bantal yang empuk. Dan lelaki ini membuatnya kembali frustasi dan mendengus kesal.
Gadis itu menghampiri lelaki yang terduduk dengan botol-botol yangberserakan disampingnya. Dua bungkus rorok juga tergeletak tak jauh dari kakinya. Kemudian jemari tangannya yang lentik menyentuk bahu lebar pemuda itu,”maaf bang, kafenya mau tutup”
Pemuda itu membuka matanya yang memerah. Ia menyeringai dan seketika bau alcohol menyeruak dari mulutnya.”tunggu sayang, aku lagi fly.” Dan serta merta ia tertawa keras.
Kemudian tangannya merogoh sesuatu dari jaketnya.sebuah jarum suntik dengan cairan warna kuning kini bertengger di lima jarinya yang panjang.”kau boleh coba.”
Gadis itu kembali mendengus.”aku tidak butuh jarus suntik sial itu.”
Lelaki yang tengah dimabuk cairan suntikan itu bangkit dari duduknya dan mencoba merengkuh tubuh gadis itu. Tabi gadis itu berkelit dan mencoba menghindar dari berat tubuhnya. Tangannya dengan lincah menghempaskan punggung pemuda malang itu hingga terjatuh.
Pemuda itu merasa terhina. Ia semakin beringas dan mulai menarik tangan gadis itu dan mendekapnya. Gadis itu mengap-mengap. Ia begitu ketakutan melihat sorot mata birunya yang begitu misterius. Bau alcohol semakin menyeruak dari kedua celah bibirnya yang tipis.” Kau akan takluk dalam pelukanku.”
Tak menunggu lama, gadis itu tahu apa yang harus ia lakukan. Kaki kanannya ia angkat beberpa centi dan ujung high heelsnya yang runcing tepat mendarat di atas jemari kaki pemuda itu. Lelaki itu berteriak kesakitan. Ia kembali sempoyongan dan melepaskan tangannya. Kini gadis itu terbebas dari cengkeramannya. Namun naas bagi pemuda itu, ia limbung .Sejurus kemudian tubuhnya yang tinggi besar itu menghantam beberapa botol dan gelas di belakangnya. Gadis itu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kepala bagian belakang dan kedua lengan pemuda itu terkena pecahan kaca dan berlumur dengan darah. Dan lebih parah lagi, pemuda itu tak bergerak sama sekali. Pingsan.
Gadis itu mendesah dan mengurut keningnya.”bangsat!! apa yang harus aku lakukan dengan pemuda sialan ini.”
Beberapa saat lamanya ia masih tertegun dan berdiri dengan hati yang diliputi keresahan. Percikan darah semakin melebar dan membuat kedua lengan jaket pemuda itu kuyup.
Rasa marah dan iba bercampur jadi satu. Bagaimana pun juga, lelaki itu celaka dengan tangannya sendiri. Dan selama ia menjadi pelayan bari disitu, tak pernah sekalipun ia menemukan pemuda onar seperti pemuda yang kini pingsan di hadapannya.
Tak menunggu lama, akhirnya ia menyeret pemuda tak berdaya itu. Peluh mulai membanjiri keningnya dan ia yakin, ia akan kehabisan tenaganya hanya dengan menyeret pemuda itu dari pojok hingga pintu bar. dua puluh menit kemudian, ia bias mengeluarkannya dari bar. Kakinya yang mungil kembali ke dalam bar. Mematikan lampu disko dan music. Kemudian mengunci pintu dan jendela. Ia tak peduli dengan botol-botol dan gelas yang berserakan. Toh, besok ia akan kembali kesana. Paling tidak, rekannya akan membersihkan kafe itu besok pagi. Tak peduli jika nanti ia kena damprat tante viola, sang pemilik kafe.
Tangannya yang ramping kembali menyeret tubuh pemuda itu dan menghempaskannya di bagian belakang mobil. Ia tak peduli lagi dengan apa yang bakalan terjadi. Gadis itu kembali mengusap keringat yangberleleran di kening dan lehernya. Ia menutup pintu mobil dengan perasaan tak menentu. Kemudian meluncur menuju rumah sakit terdekat.
Ketika menyetir, pikirannya kembali kacau.
Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa membawa lelaki brengsek ini ke rumah sakit.
****
Ninon sudah memakai pakaiannya dengan rapi. Semalaman  ia tak bisa tidur sama sekali. Pikirannya dipenuhi oleh bayang-bayang kejadian semalam. ia juga merasa ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada tante viola.
Setelah sarapan pagi, ninon mendatangi tante viola dan menceritakan kejadian semalam. tante viola tampak terkejut mendengarnya.
“kenapa kau tak membiarkannya?”ujar tante viola. Matanya menatap tajam kea rah ninon.
“aku sudah lelah tante. Waktu itu aku ingin pulang dan istirahat di rumah.”
“bodoh! Seharusnya kamu melayani semua pelangganmu dengan baik. Bukankah lelaki itu juga memintanya kepadamu?”
Tapi dia dalam keadaan mabuk tante. Saya tidak suka melayani orang yang mabuk.” Bantah ninon mencoba membela diri.
Tante viola mendengus kesal.”ya sudah, tante sama sekar mau berangkat ke kafe siang jam delapan. Kamu tengok lelaki itu ke rumah sakit.”
Ninon merasa ragu.
Tante viola seakan tahu jalan pikiran ninon.” Tak perlu  berpikir macam-macam. Aku yakin, lelaki itu kaya. Dia bisa membayar semua biaya rumah sakitnya. Kau hubungi saja keluarganya.”
Tante viola berlalu dari hadapannya. Tiba-tiba ninon ingat bahwa handphone milik pemuda itu ada di tasnya. Ia masih diliputi keraguan, bagaimana mungkin ia mengatakan hal ini kepada keluarganya. Ah, biarlah.
Ia melangkahkan kakinya denagan perasaan bimbang.
***
Pemuda itu mengerjapkan matanya. Penglihatannya samar-samar dan perlahan bisa melihat dengan jelas. Ia meringis menahan sakit dan baru menyadari ada perban yang membelit kepala dan kedua pergelangan tangannya. Tubuhnya terasa kaku. Ia edarkan pandangannya. Ruangan itu dicat putih sempurna. Ia tengah berbaring di ranjang dengan kasur dan selimut dengan warna sama putihnya. Otaknya mulai menyimpulkan bahwa ia sedang berada di rumha sakit. Saat itu juga ia kembali teringat apa yang dialaminya semalam. lalu siapa yang membawanya kesini? Gadis itukah? Atau bisa saja gadis itu membuangnya di tepi jalan, kemudian ada orang lain yang menemukannya dan membawanya ke rumah sakit? Atau bisa saja mamanya menelponnya tapi tak ada jawaban. Kemudian mamanya pergi ke kafe itu. Karena mamanya tahu setiap tempat yang menjadi tempat tongkrongan anak tunggalnya. Lalu mamanya menemukan dirinya tergeletak pingsan. Saat itu juga ia dibawa ke rumah sakit. Dan rupanya mustahil gadis itu membawanya langsung ke sini. Bukankah gadis itu yang membuatnya celaka? Tapi mungkin saja gadis itu tidak sengaja mencelakakan dirinya dan merasa menyesal dengan apa yang telah terjadi  kemudian membawanya ke sini? Ah, kepalanya berdenyut memikirkan itu semua.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seorang perawat membawa nampan berisi bubur dan meletakkannya di meja. Seorang dokter perempuan paruh baya mengikutinya dari arah belakang.
Lelaki itu berusaha bangkit dan menyandarkan bahunya di atas bantal. Tahu apa yang diinginkan pasiennya, perawat itu membenahi letak bantal sehingga nyaman untuk dijadikan sandaran.
Dokter itu tersenyum dan berdiri di sampingnya.”jangan khawatir, anda akan baik-baik saja. Besok pun anda bisa boleh pulang. Tapi harus berobat jalan.”
Pemuda itu tersenyum.”kalau boleh tahu, siapa orang yang membawa saya kesini dok?”
Dokter itu mengerutkan kening.”lho, memangnya anda sendirian ketika kecelakaan?”
Pemuda itu menghela nafas panjang. Bingung dengan apa yang harus ia katakan.” Aku bersama seorang perempuan?”
“oh iya, perawatku mengatakan semalam kamu dibawa oleh seorang gadis. Apakah dia adikmu? Atau pacarmu?”Tanya dokter itu penuh selidik.
Pemuda itu kembali menghela nafas panjang. Bertepatan dengan itu, terdengar ketukan di pintu. Si perawat bergegas membuka pintu. Seorang gadis muncul dari pintu dan tersenyum tipis.
”selamat pagi…”sapanya dengan agak canggung. Kemudian ia mengulurkan tangannya untuk menyalami dokter dan perawat yang berdiri di tepi ranjang.
 “Pagi juga.”jawab dokter itu. Tangannya menyambut uluran tangan si gadis.
Pemuda itu terhenyak. Ia menatap gadis yang baru datang tampa berkedip. Gadis yang menyebabkannya terluka semalam.
“bagaimana keadaannya dok?” Tanya gadis tersebut sembari menatap pemuda itu dengan senyum merekah.
“lumayan bagus. Tidak perlu membutuhkan perawatan lanjutan. Di kedua tangannya ada luka sayatan sepanjang sepuluh centi. Adapun dikepalanya ada dua luka yang cukup dalam. Jika tidak segera dibawa kesini, mungkin dia akan kehabisan darah.”
Gadis itu terdiam.
“apakah dia kakak anda?”Tanya dokter lebih lanjut.
“teman”jawab gadis itu  pendek. Pemuda itu terperangah mendengar apa yang dikatakannya barusan. Dokter itu kembali tersenyum dan berlalu dari hadapan mereka. Sementara si perawat membuntutinya dari belakang.
Pemuda itu menatapnya tajam. Tapi sejurus kemudian tersenyum lebar.” Kau gadis yang aneh.”
“kau juga pria yang aneh dan brengsek.”jawab ninon sengit.”bikin repot orang lain saja.”
Pemuda itu tertawa dan berkata,”lalu kenapa kau membawaku kesini? Padahal bisa saja kau membuangku di jalan.”
Ninon tersenyum sarkastis.” Aku tidak setolol yang kamu duga. Masih untung kalau kamu mati. Tapi aku yakin, kamu masih hidup, makanya aku membawamu kesini. Jika kau hanya pingsan dan aku membuangmu dijalan, bisa saja kau kembali ke kafeku. Kemudian kau akan membalas dendam dengan membunuhku. Sederhana bukan?”
“serius?”
Ninon tertawa. Ia merasa senang bisa mempermainkan lelaki brengsek itu.”tentu saja aku bercanda. Aku tak pernah berpikiran sekejam itu.”
“terimakasih sudah membawaku ke sini.”ujarnya dengan wajah memerah.
“ya. Tapi ingat. Aku nggak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit. Jadi, ditanggung sendiri ya. Kamu anak orang kayak an?”
Pemuda itu tertawa mendengar candaan ninon. Ia tak menyangka gadis bartender kafe bisa bertingkah  itu sekocak ini. “tentu saja. Aku pemuda kaya.”
“siapa namamu?”Tanya ninon. Ia melangkah menuju jendela dan meraih kursi plastic dan memindahkannya ke pinggir ranjang. Kemudian ia duduk disana.
“kamu?”
“ditanya balik nanya!”serunya tak senang.
Pemuda itu tersenyum.”fernandes! kamu?”
“nanti juga kau akan tahu sendiri.ngomong-ngomong, aku nggak habis piker. Kenapa kamu bertingkah kurang ajar semalam.”
Fernandes tertunduk malu.” Maafkan aku. Aku lagi teler semalam.”
“kamu juga bawa suntikan juga kan? Kamu orang yang suka ngobat ya. Masih untung aku membawamu ke sini. Bukan ke kantor polisi. Bisa mampus kamu.”kata ninon dengan nada mengejek.
“aku lagi frustasi!!”seru fernandes dengan memasang muka masan.”kata-katamu barusan juga bikin aku semakin frustasi.”
Ninon terperanjat dengan perubahan sikap fernandes.”maaf, aku bercanda.”
“nggak papa. Jika bukan kamu yang membawamu ke sini mungkin aku sudah menampar mulutmu.”
Ninon tersenyum kecut.” Maaf. Aku yakin kamu punya banyak masalah.”
Fernandes menghela nafas dalam-dalam dan mendesah.”kamu gadis sok tahu.”
Ninon mengaduk-ngaduk tasnya. Mencari hape milik fernandes. Setelah menemukannya, ia mengulurkannya.”ini hapemu. Aku menemukannya dari jaketmu.”
Pemuda itu menatapnya tajam.”tanganku susah digerakkan.”
“apa perlu aku telpon orang tuamu?”ujar ninon.
“tak perlu.”
“tapi setidaknya ada orang yang akan menungguimu disini. Orang tuamu pasti khawatir dan menunggumu sejak semalam.”
Fernandes tertawa. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.”mereka tak akan pernah mengkhawatirkanku. Mereka membuatku bebas. Bahkan aku jarang pulang ke rumah. Orang tuaku terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya. Ketika aku tak pulang, papa mungkin mengira aku pulang ke rumah mama. Begitu juga sebaliknya.”
“kedua orang tuamu cerai?”
Fernandes kembali menghela nafas.”ya begitulah.”
Rupanya dia korban broken home. Pantas saja dia urakan begitu, pikir ninon.”tapi harus ada yang menungguimu disini.”
“aku ingin kamu yang menungguimu!”ujar fernandes dengan tegas. Matanya menatap ninon dengan tajam.
“memangnya aku mamamu apa. Aku juga punya banyak urusan. Lagi pula, siapa yang akan membayar biaya rumah sakit jika orang tuamu tak ada yang tahu dengan kondisimu saat ini.”
“tolong telpon temanku. Namanya jack. Cari di kontak ha-peku.”
“jangan sampai kau menelpon teman sesama pengobat. Aku nggak suka liat kamu ngobat.”
Fernandes tersenyum jahil.”kamu perhatian banget. Padahal kamu mamaku kan?”
Ninon mendengus kesal.” Siapa pun aku tak suka ketika melihat orang ngobat. Lebih mending teler gara-gara alhkohol.”
“sama saja kan?” timpal fernandes tak mau kalah.
Kali ini ia terdiam. Ninon merasa malas melayani perkataan fernandes barusan. Kemudian ia mencari nama yang dimaksud dan setelah ketemu, menekan tombol memanggil dan mendekatkannya kearah fernandes.
Setelah beberapa saat lamanya terdengar seseorang menyapa. Dan seketika itu juga fernandes terssenyum sumringah.” Jack, gue di rumah sakit. Iya. Lu nggak usah nanya kenapa gue bisa di tempat sialan ini. Iya, iya. Pokonya lu ke sini. Bawa duit sekitar…..berapa?”fernandes mengalihkan pandangannya kea rah ninon.
“mana aku tahu!”jawab ninon menggedikkan bahu.
Fernandes kembali berkata.”oh iya, sekitar……tunggu! Sekitar tujuh juta. Ya, kamu sendiri. Nggak usah bawa-bawa yang lain. Iya. Gue ngerti. Lu nggak usah bilang ke bokap gue.” Klik. Ha-pe mati.
Ninon beranjak dari kursi dan kembali menyampirkan tas tangannya. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.” Aku harus pergi sekarang.”
“Tunggu.”seru fernandes. Kedua tangannya bergeraklemah. Tampaknya dia merasa gemas dengan segala keterbatasannya. Tubuhnya bergerak-gerak tak nyaman. Ia menjejakan kakinya ke lantai dan duduk di samping ranjang.
“apa lagi?”Tanya ninon. Mata cokelatnya menatap curiga.
“kamu nanti kesini lagi kan?” ujarnya penuh harap.
“kukira urusanku selesai. Lagi pula ada temanmu yang akan menungguimu dan membayar tanggungan biaya rumah sakit.”
“bukan masalah itu.”
“lalu apa?”Tanya ninon masih dengan tatapan curiga.
Fernandes tersenyum simpul.”aku merindukanmu.”
Ninon mendengus dan beranjak pergi.
“Hei tunggu. Kau belum menyebutkan namanu.
“ninon”jawab ninon dan menutup pintu kamar.












Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment