17 Mar 2015

Jomblo


Namaku edo. Ya, cukup edo. Tak ada nama tengah, apalagi nama belakang. Jadi edo adalah bukan nama depan. Tapi nama tunggal. Aku juga tidak tahu, kenapa kedua orangtuaku tidak berinisiatif memberiku nama belakang. Mungkin mereka kehabisan ide untuk nama anak pertama mereka. Mungkin sih.

Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Umurku sekarang tiga puluh tahun lebih tiga bulan dan…masih jomblo. Buktinya sama teman-temanku aku selalu dijuluki EDO JOMBLO. 
Alasannya, aku yang sudah menginjak umur kepala tiga ini belum kawin-kawin juga. 

Malu? Tentu saja tidak. Aku merasa enjoy dan merasa tenang menjalani masa-masa lajangku sepanjang waktu yang terus berlalu. Aku tak peduli dan bersikap masa bodoh dengan julukan yang mereka sematkan terhadap diriku. Bukan, bukan julukan. Lebih tepatnya mereka memposisikan julukan itu sebagai gelar. Eh, bukan juga. Biasanya gelar diletakan di depan nama, tapi ini dibelakang nama. Lebih tepatnya mereka menjadikannya sebagai nama belakangku. Edo jomblo. Hmmm, aku tak pernah berharap jomblo seumur hidup lho. Jadi, kapan pun itu, nama belakangku akan hilang pada saat waktu itu tiba.

Adikku adalah termasuk salahsatu bagian dalam cerita kehidupanku ini. Rina. Ia sekarang duduk di kelas sebelas SMA. Dia yang kadang menggodaku dan menanyaiku dengan hal-hal yang bersangkutan dengan kejombloanku. Seperti beberpa hari kemarin ketika di suatu sore aku dan rina berada di ruang tamu.

“eh, kak. Kayaknya kamu harus ikutan kontak jodoh yang di majalah ini deh.” Ujarnya sembari mengamati lekat-lekat majalah yang dipegangnya.

“apa?” kataku yang kurang tanggap. Rina mendekatiku dan menyodorkan majalah wanita yang sedari tadi ia pegang.

“nih pilih! Mana criteria yang cocok menurut kakak. Pengen yang jangkung, putih, merah…eh, sawo matang, hitam manis, pesek, mancung, wartawati, guru tk, desainer atau bla bla bla.”

Ia nyerocos bvak seorang pedagang yang menawarkan dagangannya. Laksana salesman yang merayu calon pelanggannya. Bagaikan guru yang mengabsen muridnya.
“eh rin, kamu kayak salesman aja sih. Kamu dapet gaji berapa nih mempromosikan jomblo-jomblo kece.”ujarku meledeknya.

“ye…bukannya begitu. Aku puny aide aja buat mengakhiri masa krisis ka edo sebagai jomblo tua. Siapa tau kakak pengen nikah. Mumpung muda,. Keburu tua.” Katanya membela diri.

“emangnya kalau kawin tua kenapa?”selidikku.

“hi….ngeri banget deh. Seluruh cewek ngacir. Amit amit jabang bayi.” Seru adikku sembari menggedikkan bahunya.

“sok perhatian aja kamu.:” kataku sembari meraih majalah dari tangannya. Bukan karena tertarik, tapi Cuma iseng-iseng aja. Rina mngambil alih remote tivi dan dengan kurang ajar mengganti siaran langung liga Indonesia –tontonan favoritku- ke saluran yang menayangkan kartun kesukaannya. Doraemon.

“eh rin, ko nggak ada foto-fotonya sih?” ujarku protes. Yang kulihat hanya deretan form dengan biodata lengkap. Di atasnya tertulis. Biro jodoh. Saatnya anda mengakhiri masa lajang anda. Saatnya anda menempuh hidup baru dengan kuntum-kuntum kebahagian yang selalu merekah.

Jiahhh…so puitis. Aku yakin. Biro jodoh itu hanya kedok untuk menjadikan oplah majalah itu menjadi melonjak dan banyak diminati.

“udah cukup di identitasnya kak.”jawab rina.”udah lengkap kan disana.”
“kalau nggak dengan foto bikin ragu kayaknya.”

Opps, nggak direspon. Rina malah asyik menonton film kartunnya. Idiiih, tega bener. Nggak didenger nih omonganku barusan.

“RIN! DENGER NGGAK!”

“hmmm, itu sih bukan salah rina. Tapi salah majalahnya.” Jawabnya tak lepas mlototin tivi. Huuu… dasar! Kalau sudah nonton kartun kayaknya dia lupa daratan. Kadang-kadang kau dibuat heran dengan kebiasaannya itu. Bayangkan, udah kelas sebelas dia masih kayak anak-anak es-de. Sukanya nonton kartun dan ngoleksi komik. Bukan kayak remaja kebanyakan yang biasanya suka nonton drama korea atau sejenisnya. Saat aku sindir, dia malah membantah dengan mengatakan.”kakak di sekolah dulu nggak belajar tentang hak asasi manusia ya.”

Saat aku aku duduk serius mengetik naskah tiba-tiba dating adam menghampiriku. Aku bekerja di sebuah perusahaan penerbitan majalah dan bertugas sebagai editor.
‘eh do. Tahu nggak. Minggu depan rehan mau merit.” Kata adam sembari duduk di sampingku.

“apa? Rehan mau merit? Syukurlah.”ujarku ikut gembira mendengar kabar itu.” Ngomong-ngomong sama siapa dia mau kawin?” tanyaku penasaran

“soal itu aku belum tahu sih. Tanyain aja entar sama si calon.”

“calon?”

“ya! Calon pengantin lah! Masa calon bupati.”

“rehan sekarang mana?”

“belum dating. Katanya masih dijalan.”terang adam.”oh iya, ada satu kabar lagi yang nggak seru, eh..nggak kalah seru. Kita bakalan ditraktir makan siang di restoran mewah di samping kantor kita ini.”ujarnya panjang lebar dan dengan nada senang.

“oh gitu. Asyik dong!restoran pasundan itu kan?”uajrku sembari menunjuk ke sebelah utara.

“eh, ngomong-ngomong. Kapan sih kamu mau kawin.” Tanyanya yang entah keberapa kalinya.”usia udah bangkotan gitu masih enjoy aja. Nggak gatel nih liatin teman kamu yang udah pada rumah tangga?”

Dia masih selalu mempropokasiku untuk cepat-cepat nikah. Mulai dari pamer kemesraan dengan istrinya di hadapanku. Hingga celotehannya seperti yang barusan terjadi. Dari rina, emak hingga adam adalah para propokator yang menginginkan aku supaya cepat-cepat nikah.

“ah, belum siap aku dam.’elakku padanya. Mencoba menghindari tatapan matanya yang tajam setajam silet.

“belum siap gimana? Pekerjaan udah dapet. Umur udah nyampe.”jawabnya tak kalah argument.”lagian kata ustadz saya nikah itu sunnah rosululloh lho. Dengan menikah kita bisa lebih terjaga. Kita tak akan terjerumus pada pandangan terlarang. Kehormatan kita terpelihara. Lagian perempuan itu bisa mendatangkan rezeki coy.”

Adam tak ubahnya seperti ustadz sekaliber yang suka ceramah di tivi-tivi pas bulan romadhon.

‘nikah tuh mengandung berjuta hikmah yang terkandung di dalamnya. Kita bisa ngerasainnya pas kita udah berumah tangga. Cobain deh.”ujarnya tak mau berhenti berkicau. Padahal aku mencoba untuk mengacuhkannya dengan terus focus  pada layar monitor di depanku.

Aku mengangkat bahu tersenyum.

“atau jangan-jangan kamu homo ya.”

“duh, kamu udah macem-macem gitu.”bantahku sewot.

“hu!! Dasar edo jomblo. Dinasihatin kagak mau!” celotehnya tak pernah berhenti sampai mataku menatapnya tajam. Artinya aku sedang tak mau diganggu.

Adam nyegir kuda dan melengos dari hadapanku. Huh! Sepagi ini pikiranku sudah dibuyarkan sesadis itu. Tapi nggak papa lah. Yang penting aku dapet berita bagus; rehan merit.

***

Siang itu aku pulang dari resepsi pernikahan rehan, teman sekantorku. Hari ini dia sudah berganti status dan siap mengarungi k=lembar kehidupan baru bersama istrinya. Namun mungkin kau tak tahu. Sepulang dari acara resepsi pernikahan itu hatiku gundah gulana. Selama ini aku yang enjoy menjalani masa lajangku menjadi gundah gulana layaknya arjuna yang tak memiliki cinta.

Aku jadi teringat bagaimana rehan dan pasangannya bersanding dengan anggun di pelaminan. Mendapatkan ucapan selamat dari keluarga besar, teman sejawat dankolega kerja. Dapat kado segunung. Saling melirik dan tersenyum satu sama lain. Aku tahu, hari ini adalah hari kebahagiaannya. Sorot mata rehan menggambarkan bagaimana  kebahagiaan itu memenuhi segenap rongga dadanya. Kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan dengan rangkaian kata-kata.

Oh indahnya….

Tiba-tiba aku teringat diriku. Akankah aku akan terus begini?

Malam itu aku sulit tidur. Mataku tak bisa kuajak kompromi. Walaupun mataku terpejam, itu tak lebih dari tidur ayam. Benakku melayang-layang.

Biro jodoh

             Pelaminan
                              Edo jomblo


Ah, pikiranku ngelantur kemana-mana. Semuanya memenuhi benakku.hatiku menjadi galau segalau lagu-lagu dengan lirik mendayu-dayu. Khas lagu yang sedang patah hati dan dirundung rindu yang tak pernah padam. Tiba-tiba aku ingat kata-kata emakku.

‘edo, sudah saatnya kamu akhiri masa lajangmu itu.’ujarnya suatu hari.’coba kau perhatikan teman-temanmu. Semuanya sudah pada berumahntangga.”

‘waktu masih panjang bu. Aku masih ingin focus sama karirku. Soal menikah gampang”jawabku berusaha mengelak dari tuntutannya.

Akhirnya emak terdiam dan menatapku sedemikian rupa. Mungkin ia kecewa karena bujangnya ini tak ada niatan untuk segera mengahiri masa lajangnya sebagai bujang lapuk. Sudah begitu sering ia menasihatiku, memberi saran dan dorongan supaya aku segera mencari calon mantunya. Maklum, aku anak sulung. Mungkin emak ingin aku bahagia dengan rumha tanggaku dan emak ingin segera menimang cucu. Hmmmh…maafkan aku mak…

Pun ketika aku bertemu ningsih. Teman kuliahku di fakultas sastra. Saat itu aku mencoba menjalin hubungan dengannya. Bukan apa-apa. Bukan karena aku ingin melanjutkan ke jenjang yanglebih serius. Karena aku tak pernah mau dan tak pernah berani membayangkan aku duduk di pelaminan. Aku ingin bebas dengan masa lajangku. Aku merasa, rumah tangga hanya bisa mengekang jiwa petualangku. Aku hanya sebatas memendam rasa kagum dan suka terhadap ningsih. Hanya sebatas suka. Tak lebih.

Tak dinyana, adikku rina mengetahui hubunganku dengan ningsih. Suatu hari dia memergokiku tenah berduaan dengan ningsih di warung bakso pak karno langgananku. Rina dengan mulut embernya yang dower nyerocos memberitahu emakku. Akhirnyaemak menyarankanku supaya melamar ningsih ke babehnya yang orang betawi asli. Apalagi emak tahu banyak semua tentang ningsih yang babehnya kebetulan sebagai ketua RW itu. Huh!  Saat itu aku pusing tujuh keliling. Ingin rasanya aku menjitak  kepala rina yang jenong dan melumatkannya dengan penggilingan tepung. Tapi tetep aja aku nggak tega. Adikku terlalu innocent untuk seukuran kakak baik hati sepertiku. Halah….

Sebulan setelah itu emak menawari Karin. Anak bu nani warga kampong sebelah. Gadis itu cantik dan cute sekali. Tapi karena aku merasa terlalu gengsi dijodoh-jodoh layaknya siti nurbaya, aku lebih memilih mengacuhkan tawarkan ibu. Wong, perempuan aja jengah dijodoh-jodoh. Apalagi aku sebagai lelaki. Dan kini, ningsih sudah berumah tangga dengan duda beranak dua. Adapun Karin akan menikah dalam waktu dekat ini dengan pengusaha asal kota. Menyesalkah aku dengan semua penolakan itu. Ah, lidahku merasa kelu untuk menjelaskannya.

Pun aku teringat masa-masa kuliahku dulu. Aku –yang bukannya kepedean-  menurut teman-temanku lumayan keren. Bahkan ada yang pernah bilang aku mirip Leonardo de caprio. Huhuy…aku tak tahu. Apa aku masih menginjak bumi saat mendengar pujian itu. Yang pasti hidungku kembang kempis dibuatnya.

Aku yang sudah terlanjur kepedean menggunakan kesempatan itu. Mengamalkan kata pepatah kuno, kesempatan tak pernah dating dua kali, aku mulai mendekati teman-teman perempuanku dan mengencaninya. Sudah banyak wanita yang pernah menjadi teman istimewaku. Sebanayk itu pula aku menorehkan luka di hati-hati mereka.

Ah, kepalaku serasa mau meledak. Semua bayangan masa laluku seakan menjadi palu godam yang menghantam kepalaku hingga berdenyut-denyut.

Tiba-tiba saja aku mebayangkan diriku memakai baju pengantin pria. berdiri gagah dengan wanita di sampingku yang memakai busana anggun layaknya pengantin wanita. Dan ia tersenyum tulus kepadaku. Lalu teman-temanku mengucapkan selamta kepadaku. Mata mereka memancarkan kegembiraan yang sama.

Kepalaku semakin berdenyut.

Pagi itu aku terbangun hamper kesiangan. Dengan serampangan, aku meraih handuk dan melesat ke kamar mandi. Tiba-tiba aku merasa perlu untuk melirik jam di dinding kamarku.

Hah!!! Dua puluh menit lagi aku harus masuk kantor. Masih untuk kalau jalanan nggak macet. Kalau macet? Bisa dua jam di jalan.

Aku melemb[-ar handukku dan beranjak menuju wastafel. Aku hanya mencuci muka dan menggosok gigi. Dengan kecepatan supersonic, aku segera memakai baju kerjaku dan meraih tas yang untungnya sudah aku siapkan malam tadi.

Emak hanya melongok di ambang pintu.” Kesiangan ya do.”

Aku hanya  mengangguk dan segera meraih setang motor ninjaku.
“nggak sarapan dulu do?”Tanya ibuku.

“nanti di kantor.”jawabku pendek dan mulai menstarer.  Aku melesat pergi dan membelah jalanan kota Jakarta. Dan keberuntungan tanpaknya berpihak untukku. Jalanan tidak macet seperti yang aku duga.

Setiba di kantor, aku beremu dengan anton, sang fotografer yang suka jepret sana-sini. Dia menghampiriku yang baru saja dating.”eh do, katanya staff redaksi mau nambah dua orang lagi. Pak angga merasa kurang efisien dengan staf yang ada selama ini. Katanya difisi redaktur dan promosi memerlukan tambahan orang.”katanya menyampaikan kabar.
“oh ya? Kapan orangnya mulai kerja di sini?”

“nggak tahu. Justru sekarang lowongan kerjanya lagi mau diiklanin di majalah..”

Akhirnya iklan lowongan kerja redaksi yang dipasang dua minggu yang lalu ada respon baik. Buktinya, hari ini  staff redaksi kami menerima dua personil baru. Yang satu wanita dan yang satu lagi laki-laki.

Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati Setelah mengadakan cara perkenalan dngan staff baru tersebut. Sepertinya aku pernah melihat wanita baru yang kini menjabat redaktur ahli di jajaran raedaksi. Jabatannya setingkat lebih tinggi dari diriku. Tapi aku tak tahu siapa. Mungkin aku salah orang, pikirku. Tapi tak terpungkiri, aku merasa familiar dengan wajahnya yang memakai kacamata min itu.

Tunggu dulu, sepertinya wanita itu juga merasakan hal yang sama.  Saat berkenala tadi, ia beberapa kali melirikku dan mengerutkan keningnya. Menatapku dengan tatapan penuh tanda Tanya.

Setelah aku memeras otakku dan mencoba mengobrak-abrik file-file yang mungkin masih mengendap di otakku yang setaraf Pentium itu, akhirnya aku mencapai suatu kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan. Aku ingat wanita itu. Dia nisa, teman masa SMP ku dulu. Tak da yang berubah dari dirinya selain jilbab lebar yang dikenakannya. Ia masih memakai kacamata lebar dengan tungkai tebal. Cara berjalan dan senyumnya masih sama seperti dulu. Sayangnya, dia sekarang sedikit kalem. Padahal nisa yang aku kenal sangat agresif dan selalu berceloteh ria. Ya, dunia saja berubah sesuai dengan perkembangan jamannya. Tentunya manusia juga bisa berubah kapanpun dia mau.

“kamu nisa ya?” tanyaku dengan kikuk. Suaraku tak lebih seperti bisikan yang mencoba bertahan di tenggorokan dan keluar dengan terpaksa.

“ya, anda tahu nama saya?”

Aku mengangguk  dan tersenyum lebar. Menunggu respon selanjutnya.

“saya juga merasa kenal anda.”katanya sembari memijit-mijit keningnya.”tapi saya ingat-ingat lupa.”

“kamu lupa sama saya?”

Nisa masih memijit-mijit keningnya.”maaf, aku tak ingat.”

“aku edo nisa. Kita kan teman sekelas pas kelas dua smp dulu. Kamu pindah pas semester satu kelas tiga.”

“oh ya?! Kamu edo yang suka ngejailin cewek-cewek dengan permen karet itu?”
Aku cengengesan mendengar apa yang nisa ucapkan.“nggak nyangka ya kita bisa ketemu disini.”

Diam-diam, aku merasa nisa sengaja dikirimkan tuhan untukku.

***

Dua hari nisa bekerja. Aku berusaha mendekati nisa. Mencoba menyelani kehidupannya. Bertanya ini itu dan aku merasa perlu untuk mendengarkan kisah hidupnya setelah lima belas tahun tidak bertemu. Aku kira nisa akan merespon baik pendekatanku. Tapi nyatanya ia tak sebaik yang aku duga. Ia lebih sering menunduk ketika aku menatapnya. Ia lebih sering menghindar ketika aku mencoba untuk duduk lebih dekat dengannya. Aku tak tahu kenapa dan bagaimana cara supaya keakraban itu muncul.

“nisa, apa ada yang salah dengan diriku?”

“maksud mas edo?”tanyanya dengan kening berkerut. Kedua alisnya hamper bertautan.
“kamu kok sering menghindar gitu?”

Nida menghela nafasnya dan menatap edo tajam.”abis mas edo agresif gitu. Saya Cuma menghindari khalwat aja.”

“apa? Gawat? Apanya yang gawat nis?”
“khalwat mas.”jelas nisa mempertegas suaranya. Matanya menoleh kiri-kanan. Kemudian kembali menghela nafas dalam-dalam.

“apaan tuh?”Tanya edo bingung. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Iyalah, sampoan tiap hari nggak mungkin ketombean.

Nisa kembali menghela nafas untuk yang ketiga kali nya.”khalwat itu adalah ketika laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom berduaan di tempat yang sepi.”terangnya.
Aku tercenung. Oh pantas, kemarin nisa tak mau menerima jabat tangannya. Sekarang nisa tak mau berduaan dengannya. Oke, aku bisa paham sekarang, nisa sudah menjelma menjadi gadis alim layaknya di film-film religi yang lagi booming di bioskop.

Nisa masih tertunduk dan memilah-milah file di meja kerjanya. Aku masih berdiri di sampingnya dan berusaha memahami dan menebak-nebak kedalaman isi hatinya.
Aku berdehem dan nisa mendongak. Menatapku.”ada apa lagi?”

Aku menggaruk leherku yang sejatinya tak gatal.”boleh saya ngomong sesuatu?”
Nisa mengangguk dan masih menatapku.

“maukan nisa menikah dengan saya?”

Nisa terperanjat dan hamper terlonjak dari kursi kerjanya.

Aku tiba-tiba seperti terserang demam dan banjir dengan keringat dingin. Seberani inikah diriku? Aku yakin, emak, rina, adam,mimpi-mimpiku, insomniaku bebrapa malam terakhir ini dan…julukan yang kadung melekat di belakang namamku menjadi semacam stimulus keberanianku barusan.

Aku melihat wajah nisa yang memerah dan menunduk dalam.

“nisa?”ujarku yang tak lebih dari sebuah erangan memuakkan.

Nisa mengangguk dalam diam.
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment