22 Mar 2015

DOA SUMI

Oleh : Husni Mubarok
Sumi berjalan menyusuri trotoar jalan. Kakinya yang mungil tanpa alas kaki begitu lincah menapaki pinggiran jalan. Beberapa meter lagi dia akan sampai di perempatan lampu merah yang selalu padat dengan kendaraan.  Di tangannya yang legam terdapat kecrekan yang terbuat dari tutup sprite dan kaleng minuman yang disatukan dengan paku pada sepotong kayu.
Langkahnya semakin dipercepat ketika dilihatnya beberapa temannya sudah berkumpul dan menghampiri jendela mobil-mobil yang berhenti saat lampu merah menyala. Mereka adalah maryam, cipto, asep, saripah dan Euis. Anak-anak pinggiran bantaran kali Citarum yang sama seperti dirinya. Pengamen lampu merah.
Tak menunggu lama, sumi menghampiri sebuah sedan berwarna merah metalik. Memukul-mukul kecrekan dengan tangannya yang mungil dan mulai menyanyi. Sebuah tangan terjulur dari jendela mobil dan menjatuhkan recehan di telapak tangannya. Ini sebuah tanda keberuntungan, begitu pikirnya. Baru saja turun, sudah ada yang menjulurkan tangannya. Biasanya, para pemilik mobil sedan mewah itu lebih memilih menutup kaca jendelanya. Mungkin mereka tak punya receh yang tersimpan di dompet tebalnya.
Tak lupa mulut kecilnya mengucapkan terimakasih dan tersenyum dikulum. Kemudian ia melangkah beberapa langkah menuju mobil jazz putih di belakang mobil sedan itu. Melantunkan lagu yang sama dengan memukul-mukul kecrekan dengan kedua tangannya.
Sumi melihat jam yang bertengger di tembok halte, tak jauh dari lampu merah diaman ia berdiri saat itu. Jarum jam meunjukan pukul empat tepat.
Sumi memandang teman-temannya yang masih asyik mencari recehan dari mobil-mobil yang terjebak lampu merah.”Asep,Euis, Saripah! Kita ke bawah jembatan hayu…”
Teman-temannya menoleh ke arahnya.
“Mau apa Sumi.”Tanya Euis.
“Lho, kamu lupa ya. Kan kakak-kakak mahasiswa mengajari kita tiap hari kamis.”terang Sumi dengan setengah berteriak.
“Oh iya ya.” Jawab eusi. Dan Euis pun mengajak teman-temannya yang lain. Mereka mengikuti sumi dan Euis kecuali Asep.”Kenapa harus sekolah. Lebih baik disini. Kita bisa dapat banyak duit recehan.”
Memang, setiap sore mobil-mobil akan semakin memadati jalan dan mengular. Macet adalah sebuah ritual sore yang harus dilewati oleh masyarakat urban yang pulang dari kerja. Hal itu menjadi kesempatan emas bagi sumi dan teman-temannya. Tapi saat itu sumi lebih tertarik mengikuti pelajaran dari kakak-kakak mahasiswa yang biasa mengajari mereka di bawah jembatan layang. Beberapa temannya banyak yang mengikuti ajakan sumi dan euis. Tapi tak sedikit juga yang lebih memilih terus di jalan hingga adan maghrib tiba.
***
Mereka beriringan menyusuri gang-gang sempit yang membatasi perumahan. Sumi dan teman-temannya harus melewati dua blok perumahan untuk bisa tiba di bawah jembatan layang, tempata belajar mereka. Tak menunggu lama, mereka sudah sampai di temapat yang dimaksud. Benar saja, sudah banyak teman-temannya yang lain yang membentuk lingkaran. Kakak mahasiswa sudah berdiri di tengah-tengah mereka.
Pelajaran pun dimulai. Mereka membentuk beberapa kelompok berdasar dengan kemampuan masing-masing. Ada kelompok yang belajar menulis dan membaca, ada kelompok yang bercerita, ada juga kelompok yang belajar bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Sumi  langsung bergabung dengan kelompok bahasa. Lagi pula, kak mawar, salahsatu dari kakak mahasiswa itu, sudah menentukan kelompok-kelompok mereka setelah dites kemampuan membaca dan berhitung dua minggu yang lalu.
Sumi merasa senang belajar dengan kakak-kaka mahasiswa. Ada kak rio yang mengajarkan bahasa inggris. Ada kak Mawar yang mengajarkan berhitung, membaca dan menulis, kak Arum yang mengajari menggambar dan bernyanyi. Ada juga kak Santi yang baiki hati. Setelah pelajaran usai, kakak berkulit putih itu selalu membagi mereka permen dan kue. Setiap dua minggu sekali, kakak yang baik hati itu membawa beberapa potong pakaian dan membagikannya kepada mereka. Jika tidak dipakai oelh mereka, mereka memberikannya untuk adik-adik mereka. Kakak-kakak mahasiswa itu selalu terseyum ketika melihat mereka dating ke bawah kolong jembatan itu.
“Nah, kak mawar sekarang akan mengajak kalian bercerita. Tapi, sebelum kakak bercerita, kalian juga harus bercerita ya.”Ujar kak mawar membuka percakapan. Sumi dan teman-temannya terdiam. Sementar kelompok lain terdengar ramai berhitung dan mengeja huruf latin.
Beruntung sumi sudah bisa membaca dan menulis. Dulu, dia sempat sekolah sampai kelas dua SD. Tapi semenjak emak sakit, sumi lebih memilih keluar dari sekolah dan mengurus ibunya dengan penuh perhatian bersama sarno, abangnya yang berprofesi sebagai tukang penjaja kue surabi keliling komples.
Sumi masih ingat. Saat itu ia pulang dari sekolah ketika didapatinya emak demam tinggi. Hingga dua minggu lamanya demam emak tak juga kunjung turun. Akhirnya emak dibawa ke puskesmas dengan membawa uang seadanya. Entah sudah berapa kali bolak-balik ke puskesmaas hingga akhirnya emak sembuh dari sakitnya. Tapi siapa yang menduga, di situlah awal semua penderitaan menjadi begitu purna. Kedua tungkai kaki dan tangan emak perlahan menajadi mengecil dan kering. Layaknya orang yang terkena penyakit folio. Sumi dan sarno menjadi sangat sedih melihat kondisi emak yang sedemikian rupa. Dan kesedihan itu semakin bertambah ketika bapak minggat entah kemana. Meninggalkan mereka pada pusaran kehidupan dan takdir yang penuh misteri. Tak ada lagi sosok yang selalu mereka banggakan. Sarno kalap. Kakak sumi satu-satunya itu melontar sumpah serapah kepada bapak. Bahkan membakar semua barang-barang yang tak sempat bapak bawa.
Tapi, sepahit apa pun derita yang emak rasakan, ia selalu tersenyum di hadapan kedua anaknya itu. Emak selalu membuat mereka tabah dengan kata-katanya yang selalu mengalir. Mengajarkan mereka tentang keikhlasan, ketabahan dan ketawakalan kepada gusti allah. Tak berapa lama setalah itu, sarno meminta emak mngajarinya membuat ranginang dan surabi untuk ia dagangkan. Sementara sumi mengikuti euis, anak tetangganya yang sudah seatahun lamanya mengamen di perempatan lampu merah dan perlimaan jalan kota.
Setiap maghrib, sumi dan sarno menyerahkan recehan hasil jerih payah mereka kepada emak. Emak selalu tersenyum dengan mata yang berembun.”Semoga Gusti Allah selalu member kalian kebahagiaan dan umur panjang. Yakinlah sum, no! Gusti Allah akan menunjukan jalan kepada kalian. Gusti Allah melihat anak-anak emak yang berbakti dengan penuh cinta.”
****
Sore itu ada yang beda. Kak Santi dan kak Rio tanpak sibuk menurunkan beberapa kardus dari mobil mereka. Sumi dan anak-anak lainnya harap-harap cemas. Kira-kira apa isi kardus itu. Apakah itu hadiah untuk mereka? Apakah itu pakaian-pakaian seperti dua minggu yang lalu mereka menerimanya dengan wajah penuh suka cita.
Kak Mawar tersenyum. Bak dewi penolong yang bijaksana, ia berdiri di hadapan Sumi dan teman-temannya. Matanya yang cokelat itu mengedarkan pandangannya, menyapu setiap wajah dengan tatapan yang meneduhkan.”Oke, hari ini kakak-kakak mau ngasih kalian hadiah yang sangat istimewa.”ujarnya dan pandangannya beralih ke arah kak Santi dan kak Rio.” Coba kak Santi, buka kardusnya.”
Kedua tangan kak Santi yang putih mulus itu membuka lakban yang menutup kardus dan mengeluarkan isinya. Begitu juga dengan kak Rio, ia membuka kardus yang sama.
“TARAAA!!!”teriak kak santi dan kak rio bersamaan. Di kedua tangannya kini terdapat beberapa pak buku tulis, pensil, pensil berwarna, dan buku-buku bacaan.
Sumi terlongo. Sudah lama ia tidak punya buku tulis. Apalagi buku bacaan. Semenjak dia putus sekolah, ia hanya menyibukkan diri dengan mengamen. Tapi walau pun begitu, Sumi selalu berharap, suatu saat nanti ia bisa sekolah. Gusti allah seakan mengabulkan keinginannya dengan hadirnya dewa penyelamat yang memperkenalkan diri mereka sebagai mahasiswa. Semenjak itu, Sumi selalu rajin menyisihkan uang recehannyadi botol aqua yang ia bolongi atasnya. Sumi ingin membeli buku tulis dan buku pelajaran membaca. Kadang sumi juga membaca majalah dan buku-buku kak sarno yang biasa di beli di lapak buku loak di perempatan lampu merah. Antara sumi dan sarno punya hobi yang sama, mereka suka membaca. Lagi pula, umur mereka hanya terpaut dua tahun saja.
“Nah, sekarang berbaris rapi ya.”ujar kak Santi dan membagikan buku-buku itu kepada sumi dan teman-temannya.
Dan sumi bahagia karena Allah sudah menjawab doa-doanya. Ia berjanji, sehabis shalat maghrib nanti, ia akan bersimpuh di atas sajadahnya dan berdoa kepada-Nya. Doanya sangat sederhana, semoga Dia selalu mengirimkan kepadanya orang-orang yang baik hati. Sebaik kakak-kakak mahasiswa yang selalu mengajarinya di bawah kolong jembatan.



Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment