29 Mar 2015

Cinta yang Tak Sampai


Jika kau tanya, siapa lelaki yang paling bahagia di kampungku saat itu, maka akan aku katakana aku. Ya, bagaimana tidak bahagia, pagi tadi aku sudah menyambangi rumah Zakiah untuk  meminang sang kembang desa. Emak, abah serta kedua adik perempuanku ikut serta. Ibu Samsiyah dan Pak Harun menyambut kami dengan tatapan sumringah dan tawa bahagia. Pun dengan Zakiah, dengan malu-malu, ia menyuguhi kami penganan wajit dan opak ala kadarnya. Aku benar-benar terpesona dengan pribadinya.

Setelah itu, malam-malamku selalu berhias mimpi-mimpi yang sama. Zakiah. Ia menjelma ke dalam mimpiku. Menjadi seorang putri yang begitu sempurna dengan senyum yang sangat menawan. Sekali lagi aku katakana, akulah lelaki beruntung itu. Telah banyak pemuda desa yang mengajukan lamaran kepada orang tua Zakiah. Banyak pula yang secara langsung menyatakan cinta tulusnya di depan zakiah. Tapi tak satu pun yang tertambat di hatinya.

Hingga suatu hari, tanpa sengaja aku bertemu zakiah di pasar malam Jum’at. Bagaimana pun juga, aku tak pernah berpikir akan bertemu dirinya. Saat itu aku sedang pulang dari Bandung untuk menghadiri acara nikahan teman SMA-ku. kebetulan aku juga merasa perlu untuk pulang ke rumah. Merasa jenuh dengan rutinitasku sebagai mahasiswa. Sekali-kali bolehlah pulang kampung.

Saat itu aku tengah memilah kain untuk kado untuk Asep,temanku yang rencananya akan menikah esok hari. Aku membungkusnya dan setelah itu menitipkannya kepada Pak Haji Samsudin,si pemilik toko kain.

“Saya ada keperluan untuk membeli pesanan emak. Nitip dulu mang.”ujarku saat itu dan segera pergi dari hadapannya

Setelah merasa cukup dan tak ada kekurangan satu pun, aku kembali ke kios kain untuk mengambil belanjaan yang aku titipkan.

Sesampainya di rumah, aku segera membuka belanjaanku dan alangkah terkejutnya ketika aku mendapatkan bahwa kainku tertukar. Kain batik untuk baju nenek-nenek dan sebuah topi. Aku pikir, belanjaanku tertukar dengan belanjaan yang lain.

Tanpa pikir panjang, aku segera menemui tuan haji samsudin, si pemilik toko kain tersebut untuk menukar kain itu. Kebetulan ia juga masih kerabat jauh dengan uwakku.

“Pak Haji, belanjaan kemarin tertukar sama punya orang.”ujarku sembari menyodorkan kresek yang berisi kain batik nenek-nenek tersebut.

Tuan Haji Samsudin mengerutkan keningnya.”Benarkah?”tanyanya. Tangannya yang gemuk mengambil kresek yang aku sodorkan dan melihatnya.”Oh aku ingat, ini belanjaan si Zakiah anaknya Pak Harun itu.”serunya sembari menepuk jidatnya yang lebar.
Aku terlongok.”Kok bisa ketukar Pak Haji.”

Pak haji Samsudin tertawa lebar sehingga perutnya yang buncit ikut berguncang.”Hapunten Kasep, Ini kesalahan teknis. Hahaha.”

Aku merengut tak senang.

“Begini saja Ton, kamu bawa kresek ini ke rumah si Zakiah. Pasti dia terkaget-kaget juga ketika menerima pesanannya tak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Kebetulan ia belum ke sini.”

Teu purun pak Haji. Nanti juga dia datang kesini.”ujarku dengan enteng.

“Siapa tahu ini pertanda jodoh Ton. Kebetulan si Zakiah belum kawin. Sekalian aja kamu lamar dia.”ujar Pak Haji Samsudin diiringi derai tawa khasnya.

Aku tersenyum tipis mendengar selorohnya. Tapi tiba-tiba aku sadar dengan kebodohanku sendiri. Bukankah pernikahan Asep itu besok? Setidaknya aku harus mendapatkan kain itu hari ini juga.

“Saya mau kesana sekarang. Tapi saya tak tahu rumahnya pak Haji.”keluhku sembari meraih kembali kresek hitam yang tergeletak di atas meja kaca.

“Tunggu sebentar.”ujar pak Haji dan beranjak dari ruangan depan. Tak berapa lama ia membawa secarik kertas dan menyerahkannya kepadaku.”Ini dia alamatnya.”

Aku mengambil secarik kertas itu dan tanpa ba bi bu segera meluncur dengan Honda legenda kesayanganku.

Rumah dengan gaya arsitektur belanda itu mempunyai halaman yang luas dengan tanaman yang beraneka macam. Ada dua bangku panjang dan sebuah ayunan. Selain itu ada kolam mungil yang didalamnya terdapat ikan-ikan lohan berwarna merah. Di teras terdapat dua kursi dari karet ban yang dibentuk sedemikian rupa dan dua daun pintunya terbuka lebar.
Aku melangkah mendekati seorang tukang kebun yang kebetulan sedang memangkas tanaman teh-tehan di pekarangan depan.”Zakiahnya ada mang.”

Lelaki paruh baya itu tanpak terkejut dan menghentikan pekerjaannya. Matanya menatapku tajam.”Ujang siapa?”

“Saya Anton pak. Mau memberikan pesanan kain dari tuan Haji Samsudin.”jawabku kemudian.

Bapak tukang kebun itu meletakan parangnya dan tersenyum.”Oh, mari saya antar.”
Aku pun membuntutinya dan lelaki paruh baya itu pergi kea rah belakang rumah. Tak lama berselang seorang gadis datang dari pintu depan. “Silakan masuk Kang.”ujarnya dengan suara yang lembut.

Aku tergeragap. “I-iya.”ujarku terbata-bata. Aku segera masuk ke ruang depan. Aku kembali terhenyak dengan apa yang aku lihat. Perabotan dari keramik terpajang di lemari kaca. Selain itu beberapa lukisan minyak tampak menempel dengan anggun di dinding yang berwarna putih pucat. Tak ayal lagi,dengan apa yang aku lihat, aku bisa menyimpulkan bahwa Zakiah adalah anak orang kaya.

“Ini, saya teh membawa kain batik dari pak Haji Samsudin, neng Zakiah.”ujarku dengan suara yang bergetar. Bagaimana pun juga, aku merasa geumpeur ketika harus berhadapan dengan gadis secantik dan selembut zakiah.

Zakiah kembali tersenyum. Menampakan giginya yang putih dan rapi. Matanya menyiratkan kegembiraan yang susah ditebak.”Hatur nuhun kang.”ujarnya lembut. Tangannya yang lentik meraih kresek hitam yang sedari tadi teronggok di atas meja.”Mau minum apa kang. Teh manis atau kopi?”tanyanya dengan ramah. Dan saat itu juga aku tahu, ia tipe gadis yang pemuda mana pun tak akan menampik geletar kagum di hatinya.

“Gggak usah neng.”ujarku pelan. Suaraku nyaris tercekat di tenggorokan saking groginya.
Gadis ramah itu tak mengacuhkan perkataanku dan beranjak ke dapur. Aku tertegun dalam kekaguamn yang diam-diam menyelinap di hatiku. Tak berapa lama, Zakiah sudah muncul di ambang pintu dengan nampan yang berisi dua cangkir teh manis. Dengan pelan, ia meletakan dua cangkir di atas tatakan.”Silakan diminum kang.”ujarnya dan duduk di sofa. Berhadap-hadapan denganku dengan panas dingin yang menyerang dengan tiba-tiba.
“Kebetulan aku juga mau menukarkan kain yang hari kemarin ketukar.”ujar Zakiah mencoba membuyarkan lamunanku.

Aku tersenyum lebar.”Justru itu saya ke sini Neng Zakiah. Itu adalah pesanan saya. Pesanan kita tertukar.”

“Oo…”seru Zakiah dan menganggukan kepalanya dengan anggun.”Ngomong-ngomong, kumaha pengalaman kuliah di bandung?”

Aku tercekat kaget. Kenapa dia bisa tahu aku sedang kuliah di bandung?”Lumayan., kok Neng Zakiah tahu saya kuliah di bandung.”

“Ya tahu atuh kang. Kebetulan saya juga punya teteh yang kuliah di sana juga. Katanya dia sering lihat akang. Katanya akang aktif di organisasi BEM dan acara-acara.”

“Siapa tetehmu?”tanyaku penasaran.

“Rapiah.”jawabnya dan tatapan matanya seakan berharap aku mengenal kakaknya.
Aku mengerutkan keningku.”Kok aku tidak tahu ya.”

“Ya iya atuh. Tetah saya mah orangnya kuper. Pendiam.”terang Zakiah sembari tertawa kecil. Aku hanya mengangguk dan menyeruput tah manis yang hangat. Sehangat hatiku kala itu.

“Kamu masih sekolah?”tanyaku lebih lanjut. Bagaimana pun juga, aku merasa tertarik dengan kehidupan gadis di depanku.

“Sudah lulus setahun yang lalu.”

“Kenapa tidak dilanjutkan ke jenjang kuliah? Ke Unsil misalnya?”tanyaku lebih lanjut.
Gadis itu menghela nafas.”Maunya sih begitu. Tapi saya khawatir dengan kesehatan si ambu. Abah suka sibuk dengan bisnisnya. Tak ada orang yang mengurus si ambu yang sakit-sakitan. Biarlah si Teteh dulu yang kuliah.”

“Sakit apa?”

“Sakit asma. Si ambu teh sudah tiga tahun kena sakit ashma parah.”terangnya sembari mempermainkan rumbai-rumbai bantal duduk di sampingnya.

Aku menganggukan kepalaku. Mataku menatap jam dinding kuno yang menempel di dinding tepat di atas ambang pintu yang menghubungkan ruang depan dengan ruang selanjutnya. Entah ruang apa. Jam empat sore. Aku harus pulang sekarang juga. Domba-domba milik bapak pasti sudah berisik mengembik karena lapar. Belum lagi harus mengarit rumput selama setengah jam.

Aku berdehem.”neng zakiah, saya mau pamit.”

Sakiah tanpak kecewa.”kenapa rurusuhan kang?”

“Ada urusan.”terangku pendek.

 Zakiah mengangguk dan berdiri ketika dilihatnya aku berdiri.”sering-sering saja main ke sini kang tono.”

Aku mengangguk dengan hati yang berbunga-bunga.”Mari neng zakiah.’ujarku mengakhiri percakapan dan mulai menghidupkan motor hondaku. Sepanjang jalan itu aku bersiul gembira. Hatiku masih diliputi rasa gembira yang begitu membuncah. Diam-diam aku berencana mengajak emak dan bapak untuk “bersilaturahim” secepatnya. Lagi pula, skripsiku sudah selesai. Jadi apa salahnya jika aku memikirkan sebuah tahap baru kehidupan? Toh temanku Asep juga akan menikah besok.

Hanya dua minggu lamanya aku tinggal di kampung. Aku pun harus kembali ke bandung untuk mengurus  kepindahanku. Rencananya, aku masih akan menetap satu bulan lamanya untuk sosonoan di kota kembang. Bagaimana pun juga, begitu banyak kenangan-kenangan yang tercipta di kota varis van java ini. Kenangan bagaimana berharganya sebuah perjuangan untuk memperjuangkan pendidikan. Tak sekali pun aku meminta biaya kuliahku dari bapak. Kalau hanya mengandalkan biaya tunjangan dari program bidik misi saja pasti tak cukup untuk jajan dan makan. Maka aku nyambi berkerja di perusahaan sablon milik orang Bandung asli. Lumayan bisa menutupi kekurangan. Duh Bandung, bagaimana pun juga, engkau telah mengajariku arti dari sebuah perjuangan.

***
Tiba-tiba Handphonku bordering dengan nyaring. Aku yang hampir tertidur di depan televisi segera meraihnya. Sms dari emak. Segera aku buka.

Assalamualakum ton. Alhamdulillah ton, keluarga zakiah sudah menentukan tanggal pernikahan kalian. Katanya tanggal 24 september. Makanya, segera urus segalannya dan cepat pulang.

Aku tersenyum lebar. Kembali, wajah zakiah membayang-bayang di pelupuk mata. Senyumnya, tatapan matanya, derai tawanya….ah!

****
Saat itu aku tengah memilih-milih mushaf al-qur’an di took buku dekat kampusku. Aku berencana untuk membeli al-qur’an khusus perempuan yang cantik untuk zakiah. Aku mendapatannya satu. Sebuah mushaf dengan cover kulit berwarna pink. Aku rasa, zakiah pasti akan menyukainya. Aku segera memasukannya ke kantong belanja dan menyerahkannya ke kasir. Setelah membayar belanjaan, aku beranjak ke luar dari toko buku. Rencananya ingin membeli mukena dan sajadah. Untuk zakiah juga. Tahu sendiri lah, di kampung, aku tak akan menemukan barang-barang yang antik dan unik seperti di Bandung. Rencananya besok aku akan segera pulang. Pernikahanku dengan Zakiah empat hari lagi akan dilaksanakan. Aku hanya berdoa dan berharap kepada Allah, semoga Ia memberi kelancaran kepada aku, keluargaku dan keluarga Zakiah. Diam-diam, rasa harap dan asa yang membubung selalu membuat hatiku terbang mengangkasa..

Aku sampai di rumah tepat waktu ashar tiba. Walaupun rasa lelah mendera tubuhku, tapi aku puas dengan acara belanja kali ini. Kutaruh belanjaanku yang berisi al-qur’an dan seperangkat alat shalat untuk Zakiah di atas ranjang bututku dan beranjak hendak mengambil air wudu. Tiba-tiba handphone ku berbunyi. Ada panggilan masuk. Aku meraih hp-ku. rupanya emak memanggilku.

‘Assalamualaikum mak.”

‘Iya. Tono baru saja habis belanja. Ya beli buat mahar Zakiah.”

“Ada apa mak. Serius banget.”

“Apa?”

Tanganku gemetar dan handphone jatuh dari peganganku. Kau tahu apa yang baru saja emakku katakan? Zakiah telah membatalkan pertunangan secara sepihak. Entah apa alasannya. Aku tak tahu Emakku juga tidak tahu. Katanya, kemarin ibu Samsiah dan Pak Barun mendatagi emaknya dan meminta pertunangan dibatalkan saja. Aku tersedu sedan dalam diam. Kudengar emak menyut namaku berkali-kali. Aku mencoba tegar dan berusaha berpikir rasional. Kembali kugenggam Hp-ku. emak menasihatiku dan menasihatiku. Meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Walau aku yakin, tidak ada yang bisa dibilang baik-baik selama yang kutahu emakku juga sedih. Bahkan mungkin sedih dari diriku. Suaranya yang serak terdengar ditegar-tegarkan. Justru aku yang kasihan pada emakku. Aku tahu, ia juga sakit hati atas pembatalan sepihak ini.

Ah emak, ini semua gara-gara tono. Maafkan tono yang telah menyeret emak dalam pusaran kesedihan ini.

Kutatap kresek belanjaanku yang masih teronggok di ranjang. Al-qur’an, mukena, dan sajadah itu… aku berusaha untuk tidak memikirkan hal lain selain hanya memberikannya untuk kedua adik perempuanku tercinta.

****
Hari-hariku terasa begitu hampa dan hambar. Tak ada lagi gairah yang mengisi hatiku. Karena gairah itu telah terhapus oleh kenyataan pahit yang harus aku hadapi. Rencananya aku akan membatalkan kepulanganku. Aku ingin mengobati luka hatiku dengan menyibukan diri di perusahaan sablon tempatku bekerja.

Aku selalu yakin atau lebih tepatnya meyakinkan diriku sendiri bahwa Gusti Allah tahu yang terbaik untuk hambanya. Setidaknya, dengan apa yang aku alami, aku bisa bersikap lebih dewasa.

“Tak ada yang sia-sia dari semua prahara kehidupan yang kita alami Ton, itu tergantung bagaimana menyikapinya. Kalau kita menyikapi hal itu dengan hati yang kosong dan putus asa, maka boleh jadi itu sia-sia. Tapi jika kita menyikapi segala masalah dengan takwa dan tawakal. Sepahit apa pun, itu akan sangat berarti bagi kita. Allah tak akan pernah menyia-nyiakan kesabaran hambanya.”terang temanku Saif, salah seorang aktifis LDK yang beberapa bulan terahir ini aku kenal dari pertemuan teman-teman sefakultasku.

Benar, Allah akan menunjukan keajaibannya. Aku diajak Saif mengaji di tempatnya bekerja. Dia juga memperkenalkanku kepada teman-temannya yang biasa ia panggil akhi. Tak lama berselang, aku mulai merasa enjoy berteman dengan Saif dan ikhwan yang lainnya. Tak ada lagi bayang-bayang kesedihan yang tersisa di hatiku. Hingga suatu hari Saif berseloroh dan berbisik di telingaku,”Ton, Siapa tahu kamu berminat mengkhitbah salah satu akhwat yang biasa mengikuti kajian kita.”

Aku tersenyum dan menonjok bahunya.”Insya Allah.”ujarku dengan senyum lebar.

------
Wajit, opak : penganan khas sunda
Hapunten Kasep : mohon maaf, ganteng
Teu purun : males
Ujang :panggilan untuk anak laki-laki
Geumpeur :grogi
Hatur nuhun kang :terimakasih kak
Eneng, neng : adik (panggilan untuk anak perempuan/gadis)
Kumaha : bagaimana
Akang, kang : kakak (panggilan untuk lelaki yang lebih tua atau panggilan untuk suami)
Teteh : kakak (panggilan untuk perempuan yang lebih tua)
Ambu : ibu
Abah : ayah
Rurusuhan  : tergesa-gesa
Sosonoan : melepas kerinduan
LDK : Lembaga Dakwah Kampus
Unsil : Universitas Siliwangi. Salahsatu universitas swasta terkemuka di kota Tasikmalaya
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment