17 Mar 2015

Antara Dendam dan Cinta


Dengan mati-matian ia menghalangiku supaya tidak sampai meraih daun pintu. Aku sudah siap dengan ransel besar berisi pakaian-pakaian yangsudah aku siapkan semalam. Ia menghalangiku untuk pulang setelah sebelumnya berlutut memeluk kakiku. Memohon maaf dan menguras air matanya sampai tak tersisa.

“Kumohon jangan pergi dari rumah Vin.”

“Aku sudah muak melihat wajahmu  Raf. Jangaqn halangi kemauanku.” Ujarku penuh kebencian. Sesaat aku menatap Syifa yang bermain di samping Rafkhan. Aku menghampirinya.

“Jangan coba-coba kau bawa Syifa.”cegah Rafkhan. Ia segera meraih syifa dan menggendongnya sebelum aku berhasil mendekati anak semata wayangku itu.
“Aku lebih berhak membawanya karena aku ibunya.”

“Tidak juga.”bantahnya tak mau kalah.

Aku mendengus kesal.

‘Vin, sekali  lagi aku memohon jangan pergi dari sini. Kasihan Syifa.”

Aku tertegun menatap Syifa lama.

“Aku bermaksud membawanya ke rumah orang tuaku.”

“Tak akan kubiarkan kamu membawanya.”

Aku menghela nafas. Ada beban berat yang menggelayuti pikiranku. Tapi itu tak akan menyurutkan keinginanku untuk pisah dengan Rafkhan. Aku sudah terlanjur benci dengan semua pembodohannya terhadapku. Aku tak pernah didustai sedemikian rupa kecuali oleh Rafkhan. Dia kira aku akan memaafkannya begitu saja. Setelah dengan mudahnya mengoyak-ngoyak segenap perasaan dan harapan.

“Baiklah, aku akan pergi tanpa Syifa. Selamat tinggal.” Aku melangkah pergi dengan mata yang berkaca-kaca. Yang  terberat adalah karena aku harus berpisah dengan anakku, bukan karena perpisahanku dengan lelaki pendusta itu.

Aku melangkah meninggalkan rumah. Rumah yang telah mengukir sejuta kenangan dan harapan selama berumah tangga. Aku yakin, aku tak akan pernah merasa menyesal dengan keputusan yang aku ambil sekarang ini. Aku ingin belajar melupakan Rafkhan. Bukan, bukan belajar. Tapi ini sebuah tuntutan. Kenyataan pahit itu menuntutku untuk menghapus Rafkhan sebagai bagian dari hidupku. Rasa cintaku berubah menjadi sebuah kebencian yang tiada berujung. Karena ia telah mengkhianati  kesetiaan.


Saat itu aku menemukan foto wanita muda yang cantik di hape Rafkhan. tak sedikitpun merasa curiga. Hari demi hari aku biarkan dan tak pernah menanyakan hal yang macam-macam kepada rafkhan. Mungkin saja foto itu adalah foto artis idolanya. Walau aku merasa bahwa hati terdalamku merasa cemburu karenanya.

Tapi kecurigaan menjadi sesuatu hal yang mutlak dan kebencian mencapai titik kulminasinya. Kudapati rafkhan bercakap-cakap mesra dengan seorang wanita di telepon. Rafkhan tak menyadari kedatanganku sehabis pulang dari kantor di suatu sore. Mungkin ia tak menyangka aku akan pulang secepat itu. Biasanya aku baru pulang jam tujuh malam. Hmmm. Rafkhan leluasa mengobrol dengan seorang wanita keatika aku tak ada di rumah. Selingkuhkan?

Dan bisa kau tebak. Rasa cemburu dan benci itu mendominasi seluruh relung hatiku.

Beberapa hari kemudian telpon di ruang tamu bordering nyaring. Saat itu rafkhan tengah mandi. Aku pun segera mengangkatnya dan terdeangarlah  seorang wanita dengan suara mendayu kalsana angin. Ia mendesis dan berhalo saying. Bah, kena kau!

‘siapa kamu!’tanyaku galak.

‘oh maaf. Apakah bapak rafkhan ada. Aku shinta, teman kantornya.”jawabnya dengan nada terkejut. Bagaimana tidak terkejut.  Ia mungkin menyangka telpon itu akan diangkat oleh rafkhan.

“teman kantornya apa selingkuhannya?”tanyaku masih dengan nada yang ditekan.”aku istrinya!!”

Tak ada respon. Aku tahu,wanita yang bernama sinta itu pasti shok mendengar kata-kataku. Kututup telpon dengan hati dongkol.

Rafkhan keuar dari kamar mandi dan masih mengeringkan rambut dengan handuk di pundaknya. Aku menatapnya dengan berurai air mata.

Rafkhan mengerutkan kening. Dua laisnya yang tebal saling bertautan.”fin, ada apa saying.”ujarnya lembut. Ia menghampiri dan kmenghapus air mataku dengan tangannya.

Tiba-tiba aku merasa mual. Palsu. Semuanya hanya kepalsuan yang menjijikan.
“kau benar-benar suami yang tak tahu diri!!”
Rafkhan terperanjat. Matanya terbelalak kaget.”apa-apaan sih fin. Kamu bercanda ya.”
“selama ini kau menyembunyikan kebusukanmu dihadapanku, rafkhan.”
“maksudmu.”tanyanya dengan mimic bingung. Aku menangkap perubahan dan kekhawatiran dari seraut wajahya.
“jangan kau anggap aku ini bodoh! Aku sekarang sudah tahu semua kebusukanmu. Aku tahu, cintamu palsu! Palsu raf. Aku tak membutuhkan semua perhatianmu. Kau tak lebih dari seorang lelaki munafik!”cecarku dan mulai terisak-isak.
Rafkhan tertegun. Ia masih menatapku dengan tatapan shok.
“siapa wanita yang bernama sinta itu?”tanyaku dengan mata yang mulai berlinang air mata.
“mak-maksudmu apa sih fin.”
“jangan pura-pura bodoh! Aku menemukan foto perempuan cantik di hapemu. Itu pasti sinta. Asal kau tahu. Wanita jalang itu baru saja menelpon. Sayangnya, aku yang mengangkatnya. Rupanya ia sudah pintar bersayang-sayang sama kamu ya.”
“kau jangan ngawur fin. Itu teman sekantorku.” Bantah rafkhan dengan suara bergetar.
“teman? Teman kok pake sayang-sayangan segala!”
Rafkhan tak bisa berkata-kata. Ia tediam dan mematung di hadapanku. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Sementara aku tak lagi bisa membendung air mata yang seakan tumpah dari kedua kelopak mata.”aku muak melihatmu!”
Rafkhan mulai terisak-isak di hadapanku dan mencoba untuk meluluhkan rasa benciku. Tidak rafkhan. Luka yang kau torehkan sangatlah dalam dan sulit untuk disembuhkan. Kau terlanjur mengotori semua keihkasanku selama ini.

Inilah dunia baruku. Kini, aku merasa bebas mengarungi hidup baruku. Berusaha melupakan semua kenangan tentang rafkhan dan sedikit demi sedikit aku mencoba untuk menghilangkan luka hatiku. Tak peduli aku harus menanggung predikatku sebagai janda. Masa bodoh, apa bedanya aku yang janda dengan aku yang sebelumnya.
Aku mencoba melupakan semua kepedihan yang telah menenggelamkanku dalam keputus asaan dengan mengikuti ajakan safia, teman kecilku dulu. Suatu sore ia mengajakku ke pub dan memperkenalkanku dengan banyak pria yang mendominasi bar yang biasa ia kunjungi. Aku merasa senang dengan sahabat-sahabat baruku. Ada sensasi baru dengan berkenalan dengan lelaki-yang rata-rata hampir seusia denganku.
Awalnya, safia membujukku untuk berkencan dengan salah seorang lelaki yang aku kenal
“lumayan, buat ngobatain sakit hati lu fin.” Ujarnya usatu hari. Aku diam saja. Tapi di dalam hati aku mengiyakan dan aku berjanji bahwa mala mini aku akan melaksanakan apa yang safia sarankan. Impas sudah semua kepedihan yang diciptakan rafkhan.
Seperi biasa, malam itu safia menjemputku dengan Honda jazz putihnya. Aku sudah bersiap-siap dengan pakaian baruku. Kau tahu, safia punya selera berpakaian yang menantang. Dan sekali lagi, safia menyarankan untuk mengikuti jejaknya. Ia mengajakku unutk belanja tank-top dan belasan stel pakaian lainnya di butik langganannya. Aku tak peduli dengan nasihat mama dan adikku. Mereka mengatakan aku terlalu norak. Bahkan mila adikku marah ketika ia tahu aku menggalkan baju muslimahku. Aku tahu, aku berbaju muslimah setelah menikah dengan rafkhan. Dan aku tak ingin semua dominasi rafkhan tersisa di tubuhku. Itu hanya membangkitkan kenangan-kenangnan bersamanya. Aku merasa tertipu dengan kealimannya. Untuk apa ia menyuruh istrinya ini berhijab jika ia sendiri tidak becus menghijabi hatinya dari perselingkuhan yang sangat memalukan? Bukankah itu tak masuk akal?
Malam itu aku sedang bersuka ria di pub malam. Tiba-tiba seseorang muncul dan merenggut tanganku dengan tiba-tiba. Hamper saja gelas yang aku pegang terlepas dan menghempas lantai. Aku terkejut bukan alang kepalang. Rafkhan muncul di pub malam. Bagaimana bisa dia dating kesini? Apakah ia mencariku kesini? Bagaimana mungkin ia tahu keberadaanku?bisa jadi ia kesini untuk mencari wanita murahan untuk menemani malam-malamnya seteleh berpisah denganku. Dan tanpa sengaja dia melihatku. Kadang aku tak mengerti, ini mirip sebuah sandiwara yang benar-benar sangat menyebalkan. Tiba-tiba saja asa dendam itu terbit dan menyeruak di dadaku.
Tanpa piker panjang, aku menggandeng seorang pria yang baru saja kuajak kencan. Sayangnya, kondisinya setengah mabuk. Dengan sengaja aku mendekati rafkhan dan mulai melantai; berdansa menigiringi irama  music yang mengentak hingga relung kesadaran. Aku menautkan diriku dengan pria itu. Pria itu terkekeh senang dan menggenggam tanganku. Kemudian tangan kasarnya menyusuri wajahku hingga dagu. “kau mau bercumbu denganku sayang?”Bau alcohol menyeruak dari mulutnya.
Aku melirik rafkhan yang berdiri satu meter dari tempatku berada. Ia menatapku tajam. Bagus, rencanaku sukses. Aku hanya ingin ia merasa marah dengan semua adegan ini. Berusaha membuat panas hatinya dan aku yakin, ia tengah merana melihatku bermesraan dengan lelaki lain.
“Sudahlah raf, kali ini kita impas. Aku sudah melupakan kesalahanmu. Bersenang-senanglah.”ujarku dengan tatapan sarkastis.
Rahangnya mengatup kuat. Mata coklatnya masih menatapku dengan tatapan tajam.
“kenapa kau tidak ajak sinta dan melantai disini? Aku janji, aku nggak bakalan marah lagi.”
“terlalu kau vina!”bentaknya sambil mendekatiku. Kemudian ia merenggut tubuhku dari dekapan lelaki itu dan…
BUKK!!
Rafkhan menghadiahi wajah lelaki itu dengan bogem mentah. Aku tercekat kaget.
Belum habis rasa kagetku, rafkhan mencengkram kerah baju lelaki setengah mabuk itu dan menamparnya beberapa kali. Beberapa teman wanitaku mulai histeris dan memanggil-manggil satpam bar. Ia benar-benar beringas kali ini. Tanpa menunggu lama, rafkhan mencoba menyeretku keluar pub. Ia tak mempedulikan aku yang terus mencacinya. Rafkhan mendorongku dengan paksa ke mobilnya yang terparkir beberapa meter di depan pub. Kemudian menstarternya sebelum satpam dan beberapa lelaki menghampiri mobilnya. Hamper saja mereka terserempet. Sumpah serapah keluar dari mulut satpam dan beberapa lelaki itu. Mereka melemparkan botol minuman ke kap mobil.
“gue mau keluar raf! Apalagi maumu!!”bentakku. rafkhan mencoba menahan tangan mungilku yang berusaha membuka pintu mobil.
“DIAM VINA! DIAM!!” bentaknya tak kalah sadis dan menambah kecepatan laju mobilnya. Sorot matanya menggambarkan bahwa ia sedang marah besar.
“aku tak percaya bisa melihatmu di klab malam vin.”

‘apa urusan lu?!”jawabku.”lu nggak usah ikut campur. gue bukan siapa-siapamu lagi.”

rafkhan tersenyum pahit.
“dari mana lu tahu gue ada di klab malam?”kataku dengan kasar. Padahal jarang aku berkat elu dan gue keculai ketika marah seperti sekarang ini.
“dari adikmu mila. Ia tahu, kamu setiap malam ada disini.”jawabnya enteng.”apa kamu nggak merasa rindu sama sifa.”ujarnya dengan nada lebih akrab.

Aku mengerling padanya.”memangnya kenapa?”

‘syifa selalu menanyakanmu.”

“sudah aku katakan biarkan syifa ikut denganku. Tapi kau ngotot mempertahankannya.”

‘percuma aku berikan padamu. Syifa akan terlantar dan kau akan asyik dengan dunia barumu di pub.”ujarnya dengan nada merendahkan.
“sama halnya denganmu. Sifa akan terlantar dan hanya diasuh sama bi ijah. Sementara kau sibuk mengurus jadwal kencanmu sama wanita bernama sinta itu.”
“DIAMM!!” bentak rafkhan. Rupanya ia tak tahan mendengar kata-kata pedasku.
“KAU JUGA DIAMM!!”bentakku takmau kalah.
Rafkhan mendengus kesal. Aku merasa jijik melihaatu berpakaian seperti itu.” Ujarnya sembari melirik tubuhku.

“gue udah bilang. Lu nggak usah ikut campur urusan gue raf.”

“siapa pula laki-laki kurang ajar tadi?!”tanyanya dengan nada kecewa.”kau masih dendam sama aku vin?”
“hmmm…lu cemburu ya? Baguslah kalo begitu. Berarti kita impas. Gue udah ngerasain cemburu duluan sebelum elu.” Ujarku penuh kemenangan.’asal tahu aja, perasaan lu saat ini persis perasaan gue saat liat foto cewek itu di hape lu. Ditambah telpon mesranya. Gue nggak tahu pasti, sudah berapa kali lu telpon-telponan dengannya.”
Rafkhan terbelalak tak percaya. Ia tak berhenti menatapku. Aku sama terbelalaknya. Tapi bukan menatap rafkhan. Aku terbelalak melihat mobil yang meluncur deras kea rah pohon besar di pinggir jalan.
“TIDAKK!!!”teriakku sekuat tenaga. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Gelap.

Yang trakhir kali kuingat adalah ketika aku berdebat hebat dengan rafkhan di dalam mobil. Dan aku tak bias mengingat apa yang terjadi setelah itu. Gelap. Ya, gelap. Seakan-akan aku tak bias menikmati sisa hidupku semenjak kejadian itu. Kamu tahu? Aku kini telah menjadi seorang waniata buta yang tak tahu apa-apa selain gulita. Tak dapat melihat dunia dengan warna-warnanya yang begitu meriah. Tak dapaat melihat anakku syifa, bahkan hingga dia telah mencapai usia dewasa nanti.

Vonis dokter telah mengatakan bahwa saraf-saraf mataku terganggu dan rusak total setelah  terbentur jok mobil. Bahkan beberapa minggu lamanya aku mengalami gegar otak ringan. Itu masih untung dibanding dengan serpihan kaca yang masuk dan menancap di bola mataku.

Setelah itu aku tak merasakan bahwa hidupku ini adalah kehidupan yang sebenarnya. Aku ingin mati.

Ibu dan saudara-saudaraku yang bias membuat batinku merasa kuat. Mereka selalu memotivasiku untuk bias optimis dan bangkit dari keaterpurukan ini. Satu hal lagi, mereka selalu membuatku menangis dengan hanya satu kalimat;”vina, kamu harus ingat sama Allah.”

Rafkhan jauh lebih beruntung. Laki-laki pengkhianat itu hanya mengalami lecet-lecet dan sedikit jahitan di kepalanya. Seminggu yang lalu dia sudah diijinkan pulang dari rumah sakit. Sebelum dia benar-benar pergi dari sini, ia memasuki kamar rawat inapku dan entah yang keberapa kali meminta maafku.

Pagi itu aku berdiri di bibir jendela kamar rumah sakit. Pagi yang sejuk. Sayangnya aku tak bisa melihat mentari pagi. Hanya bisa merasakan kehangatnya saja. Aku tersenyum kecut. Untuk apa aku berdiri di pinggir jendela jika tak ada sesuatu yang bisa kulihat. Hmm, kebiasaanku setiap pagi itu masih saja menggerakanku untuk berdiri di bawah jendela. Aku tahu, mulai besok tidak seharusnya aku berdiri di pinggir jendela.

Tiba-tiba pintu kamar berderit. Langkah-langkah kaki terdengar mendekatiku.
“pagi vin.” Ujarnya perlahan. Dari suaranya aku tahu ia rafkhan. Lelaki itu kini berdiri di sampingku.”vin, maukah kamu kembali ke rumah?”
Aku tersenyum kecut mendengar kata-katanya barusan. Menganggapnya tak lebih dari sebuah ejekan. Sarkastis.

“aku tak mau kembali. Bahkan aku tak bisa menduga apa yang akan terjadi sesudah ini. Bisa saja kamulebih leluasa menyimpan foto-foto wanita lain di hapemu. Bisa saja kamu memasukan wanita lain ke kamar kita tanpa pernah aku tahu. Aku tak lebih dari seorang buta yang tak tahu apa-apa. Wanita bodoh yang tak lebih suatu apa pun. Atau mungkin kau akan malu mempunyai istri seperti diriku. Lupakan saja. Aku juga belajar untuk melupakan dirimu.” Tak terasa iar mata kembali menganak sungai di kedua belah pipiku.

Rafkhan terisak di sampingku.”jangan berkata begitu vin. Aku tak suka mendengarnya.aku tahu, kamu menyimpan dendam dan sakit hati gara-gara semua ini. Tapi, bisakah kau memaafkanku vin?”

Aku mendengus kesal dan mengibaskan tangan. Memberi isyarat untuk membiarkanku sendiri.

‘aku tak tahu, harus dengan cara apalagi supaya rasa benci itu hilang dari dadamu vin.”

Rafkhan menghela nafas dan beranjak pergi.

Aku berada di lapangan luas dan datar. Batu-batuhitam dan tanah kering kerontang mendominasi padang tiada batas itu. Tapi, aku bisa melihat? Allah, aku kembali bisa melihat? Bukankah aku buta? Aku merasa mual dan pening. Kemana aku harus melangkah. Kenapa aku bisa berada di sini? Tiba-tiba saja seseorang memanggil namaku.

Aku menoleh dan kulihat rafkhan. Ia menunggang seekor kuda putih dan tersenyum kepadaku. Aku menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.”rafkhan, kita dimana?”

Rafkhan takmenjawab. Tapi senyumnya tak pernah hilang.
“bawa aku dari sini raf. Aku tak mau sendirian disini.”pintaku dengan nada memelas.

Rafkhan menggeleng lemah.”kemarin kau sudah menolakku. Padahal aku sudah memintamu untuk kembali ke rumah bukan?”

Aku tercenung. Rafkhan segala memacu kudanya membelah padang gersang.

“RAFKHAN!!”

‘RAFKHAN TUNGGU!!”



Aku berteriak sekeras-kerasnya. Suaraku serak dan taenggorokan serasa mau putus. Tiba-tiba bahuku terguncang dan lamat-lamat seseorang memanggilku.”kak. kak vina! Kakak mimpi ya.”

Mila meraih pundakku dan menyandarkanku di dipan. Ia menyodorkan segelas air putih. Hamper saja tumpah karena aku terlalu teragesa meraihnya.
“kakak memimpikan kak rafkhan?”tanyanya lagi. Aku terdiam. Bahkan aku tak tahu, kenapa aku bisa memimpikan rafkhan.

Ini adalah hari terakhirkudi rumah sakit.nanti sore aku bisa pulang. Rencananya kedua orang tuaku akan menjemputku. Sepanjang hari itu aku hanya bercengkrama dengan mila. Mila benar-benar adik yang bisa diandalkan. Dia begitu perhatian terhadap kakaknya ini. Ia yang selalu menuntunku ke toilet, membawaku bermain ke taman rumah sakit-walau itu tak berguna sama sekali karena aku buta dan tak bisa melihat indahnya bunga dan kupu-kupu.
“yang penting, kakak bisa berjalan. Biar sirkulasi darahnya lancar.”terang mila ketika aku mengatakan hal itu padanya.
Seperti pagi itu, mila asyik bercerita tentang kegiatan kuliahnya ketika pintu kamar kembali berderit dan sekonyong-konyong aku mendengar teriakan si kecil sifa.”MAMA! AKU DATANG!”

“syifa…’lirihku. Sepasang tangan mungil meraih tanganku yang pucat. Aku meraih tubuhnya yang kurasakan semakin berat.”kamu cepat besar sifa.”
“cium sifa dong ma.”

Aku tersenyum bahagia dan mencium kedua belah pipinya yang berisi.
Sifa tertawa dan balik mencium kedua pipiku.”mama, aku datang sama papa.”
Kini baru aku sadar, ada rafkhan di kamarku.

“vin,  aku berjanji. Mulai saat ini aku tak akan mengusikmu lagi. Karena kau selalu meminta sifa, terpaksa aku relakan untuk bersamamu saja. Tapi aku ingin barang seminggu sekali kau mengijinkanku untuk bisa mengunjungi sifa.”ujarnya dengan suara bergetar. Tanpa aku minta dia beranjak pergi dari kamar.

Aku terkesiap dan berteriak memanggil namanya.”RAFKHAN!!”
Aku berusaha bangkit dari dipan. Mila sigap memapah tubuhkuyang masih lemah. Kemudian mengantarkanku menuju sosok rafkhan yang berdiri di ambang pintu.

“ada apa lagi vin.”ujarnya lirih.

Aku menunduk dalam.”aku juga sama berdosanya. Bahkan mungkin kesalahanku lebih besar daripada semua kesalahanmu terhadapku. Raf, aku tahu, selama ini aku terlalu sibuk mengurus bisnisku dan menelantarkanmu. Aku sadar, kau tak merasa bahagia beristrikan seorang perempuan yang hanya menjadikan rumah sebagai tempat pulang kerja. Tak lebih dari itu. Aku juga sadar, kau jenuh dengan segala kesibukanmu. Tak ada funsi lain dari diriku selain sebagai mesin uang.”

Rafkhan terdiam.

“aku berjanji raf. Mulai saat ini aku_”aku menangis dalam sedu sedan panjang.
Raf meraih pundakku dan menghela nafas panjang.”aku tahu vin.”

“jangan tinggalkan aku raf. Maafkan semua kesalahanku. Aku akan belajar menjadi istri yang baik untukmu. Dengan semua kekuranganku” Air mata kembali membanjiri kedua pipiku.

Terimakasih fin.”ujarnya lirih. Walau aku tak bisa melihat, tapi aku yakin bahwa rafkhan tersenyum bahagia.
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment