12 Feb 2015

MAUNG


Sontak Sukri terbangun demi mendengar apa yang dikatakan emaknya barusan. Apa yang dikatakan emaknya mampu membuat  kedua bola matanya yang masih terkantuk-kantuk ‘menyala’. Kedua telinganya seakan tegak berdiri.

“Apa? Maung masuk ke dapurnya bi Inah?” Tanya sukri untuk meyakinkan pendengarannya.

“Iya, kalau penasaran pergi saja sekarang kesana. Sudah banyak orang berkumpul disana.”jawab emaknya dan melengos pergi untukmembersihkan beras yang akan ditanak.
Sukri segera bangkit dari bale-bale bamboo yang biasa ia gunakan untuk tidur-tiduran setelah pulang shalat subuh dari tajug.atau biasa menjadi tempat rehat sejenak ketika ia lelah sehabis ngurek belut di sawah. Sarung masih melingkari bahunya yang lebar.
Setengah berlari sukri mengitari belakang rumahnya dan menerobos kebun pisang. Setelah itu ia bergegas menuju rumah bi minah yang hanya berjarak beberapa meter dari kebun pisang itu. Benar, disana sudah banyak orang yang berkumpul  untuk melihat kebenaran berita itu.
“iraha cenah maung asup ka dapurna si inah the?”
Cenah mah pas si inah ka walungan arek wudhu. ari balik-balik geus nyampak di dapur.”
“cenah mah eta the maung kajajaden.”
“saurna maung the hees dina tumpukan karung dina goah.”
Warga-warga itu ramai memperbincangkan soal maung yang masuk ke dalam dapur bi inah. Mereka banyak berspekulasi tentang keberadaan maung yang tanpa diundang itu.
Sukri segera bergegas menuju ambang pintu dapur bi inem. Sukri penasaran ingin melihat maung itu lebih jelas dalam jarak yang dekat. Ia penasaran, bagaiaman bentuk maung itu. Ia juga setengah tak percaya bahwa maung itu masih di dalam dapur,sementara diluar keramain begitu kentara.
Di ambang pintu banyak bapak-bapak berkumpul termasuk suaminya bi inah, mang utar. Sementara ibu-ibu banyak berkumpul di ambang pintu depan dan halaman.
Sukri semakin maju kedepan dan berusaha menggapaikan beberapa bapak yang menggerutu ketika dia berusaha melesak kedalam kerumunan.benar, sukri melihat maung itu tengah meringkuk di goah di pojok dapur. Tepat di atas tumpukan karung padi yang sarat padi hingga hamper mencapai langit-langit goah. Kondisi di dalam goah itu gelap tak tertembus cahaya matahari pagi. Oleh karenanya maung itu merasa tak terusik dengan keributan di luar.
“kok bias maung itu masuk dapurmu.”bisik sukri kepada mang utar.
“itu macan tutup dari gunung cipeundeuy sukri.”jawab mang utar. “akang juga tidakhabis piker,kenapa
“saya baru tahu bahwa di gunung masih ada maung. Kita mengiranya sudah tumpur.” Timpalseorang kakek dari arah belakang. Kakek yudan.
Tiba-tiba dari balik kerumunan muncul seorang pria tinggi besar dengan tubuh gempal.  Di tangannya terhunus parang yang berkilat-kilat tajam. Dia adalah udana, sang jawara kampong.
“daripada ngundang bahaya lebih baik kita bunuh saja maung itu.” Serunya dengan suara dingin.

“ya, kita bunuh saja maung itu.”kata seorang warga mendukung gagasan udana. Udana jumawa. Ia mengusap ujung parangnya yang tajam dan lebar.kono n katanya parang itu sering digunakan untuk melawan bagong yang beringas dan ganas di saat berburu. Udana dan kawan-kawannya senang berburu bagong digunung sipeundeuy. Biasanya merekamembawa serta najing-anjing mereka. Bila bagong buruuan mereka sudah terdesak oleh kejaran anjing-anjingnya,udana biasanya akan menghalau anjing-anjingnya dan emnghadapi sendiri bagong itu dengan berbekal parang tajamnya. Bagong di hadapannya sudah berancang-ancang menerjang dengan kedua taringnya yang menyembul dari celah-celah bibirnya. Taring kokoh bagong konon adalah taring terkuat diantar taring-tring hewan manapun. Taring babi hutan menyembul dari rahang bawah ke atas dan melengkung ke depan. Biasanya taring itu berguna untuk menggali tanah ketika bagong-bagong itu menjarah tanaman singkong milik warga.
“ketika bagong itu mulai menyerang, sekali tebas saja baong sudah mati.” Kata ujang, sahabat sukri suatu hari.ujang memang mengagumi udana sebagai jawara kampong yang sangat disegani.
Udana sudah siap-siapdengan parangnya.sementara orang orang hanya bias diam dan memperhatikan udana.menunggu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh pemuda kekar itu. Sebagian warga berbisik-bisik satu sama lain. Diantara mereka ada yang tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan udana termasuk sukri.
“kang tunggu! Sebaiknya akang tidak membunuh maung itu.”seru sukri mencegah udana yang sudah bersiap-siap masuk dapur.
“kenapa?”Tanya udana dengan  nada tak senang.ia merasa tak senang ada orang yang mencegahnya.
“akang jangan bertindak gegabah. Maung itu__”
“gegabah? Saya sudah belasan kali melawan bagong di gunung cipeundeuy. Piraku kalah dengan maung semacam itu.”ujar udana dengan nada sombong.
“bukan itu yang saya maksud. Alangkah baiknya kalau__”
Tiba-tioba mang adnan menyeruak kerumunan.”orang-orang dari kecamatan dan kebun binatang sudah dating.”
“oh iya, tadi mang tatang mengontak pihak kepolisian dan kantor kecamatan.”ujar ki omon kepada udana.
“huh! Harus manggilpihak kecamatan segala.” Seru udana tak senang.dia kembali menyarungkan parangnya.
Kerumunan orang menyeruak dan  muncul bebrapa orang dengan seragam hijau. Ada pula yang memakai pakaian biasa dengan membawa kerangking besi yang lumayan besar. Beberapa diantara mereka masuk denan membawa tali, semacam jerat dari kayu dan kerangkeng itu ke ambang pintu dapur. Bapak-bapak yang sedari tadi mendominasi ambang pintu menyingkir semua.
Beberapa saat kemudian terdengar suara menggeram dan auman dari dalam dapur. Suaranya keras dan nyaring. Tak membutuhkan waktu yang terlampau lama orang-oarang itu sudah kembali dari dapur dengan maung yang kini berpindah tempat di dalam kerangkeng. Maung itu tanpak terbaring dan terpejam. Mungkin dibiusoleh para petugas tersebut. Macan itu rencananya akan dibawa ke kebun binatang di kota.sukri menghela nafas dan pergi darikerumunannya.
****
Mata sukri belum juga mau terpejam.padahal jam diding tua di bilik bambunya sudah menunjukan pukul dua belas malam. Kejadian siang tadi masih membayangi benaknya. kenapa maung itu bias turun kampong? Apakah masih ada maung lainnya di puncakgunung cipeundeuy? Apakah masih ada binatang-binatang yang sudah dianggap punah disana?
Tiba-tiba sukri ingat dengan monyet dan lutung yang berkeliaran bebas di pinggiran jalan desa. Tepatnya di dekat pemakaman umum yang dekat dengan balai desa. Apalagi disana rimbun dengan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon besar. Tempat yang sangat disukai lutung-lutung. Konon,lutung dan monyet-monyet itu juga asalnya dari gunung cipeundeuy.
Binatang yang dianggap hama oleh para warga itu turun ke kampong sejakbeberapa tahun terakhir. Merusak kebun-kebun penduduk di sekitar pemakaman. Kacang tanah, pisang, dan mentimun habis digasak  sekawanan monyet dan lutung. Banyak pula diantara warga yang suka menembalki monyet-monyet tersebut.
Sukri masih ingat dengan kejadian dua minggu yang lalu.ketika itu dia tengah menziarahi makam neneknya di pemakaman umum tersebut. Dilihatnya monyet-monyet itu bergelantungan di pohon kiara, bungur dan beringin. Banyak pula yang meloncat-loncat di atas atapkantor balai desa. Beberapa monyet berkeliaran di jalanan desa.
Tiba-tiba suara lengkingan memecah keheningan. Sukri yang tengah berdoa di pusara terperanjat kaget. Dilihatnya seekor anak monyet tergilas truk yang barusaja lewat. Beberapa saat lamanya,kedua kaki mungil anak monyet itu masih bergerak-gerak.melemah dan akhirnya terdiam tak bernyawa. Sementara sang indukmonyet mondar-mandir dan melengking-lengking nyaring di seberang jalan. Menangisi nakanya yang barusaja tergilas truk. Dua anak monyetlainnya meloncat-loncat di seberang jalan. Rupanya induk monyet itu tengah menunggu anak-anaknya menyebrang jalan.

pagi itu sukri sudah siap dengan ransel berukuran sedang. dikedua kakinya telah terpasang sepatu jangelyang biasa ia gunakan ketika mencari kayu bakar.
"udah siap suk?" tanya seseorang dari luar.
"siap!"seru sukri dan bergegas keluar. tersenyum lebar kepada sahabatnya yang menunggu di luar.
"ayo kita berangkat."ujar satip. ia menggendong tasnya dan bangkit dari bale-bale bambu. 
"hendak kemana kalian?" tanya bibi annisa, bibinya sukri yang kebetulan sedang berkunjung ke rumahnya.
"kegunung cipeundeuy."jawab sukri.mereka pergi menyusuri jalan setapak menuju gunung cipeundeuy.
"ngomong-nomong kamu sudah lama tidak mendaki gunung cipeundeuy ya." kata satip.
"ya.kira-kira tujuh tahunan lah. semenjaksaya sekolah SMA dan kuliah di kota."jawab sukri.
"masih ingat waktu kita mencari lebah madu ke sini?"
"ya,aku masih ingat."
"sekarang tuh,mencarilebah madu disini susah sekali dapatnya. kecuali jika terus mencarinya samapi puncak bukit. itu pun tak sebanyak dulu."keluh satip.
mereka kini telah sampai di tanah datar yang ditumbuhi semak belukar dan alang-alang. sukri menjatuhkan ranselnya di atas tanah kering berdebu.
"kita makan timbel dulu suk." tawar satip sembari mengeluarkan perbekalan mereka dari ransel.
sukri tak menjawab. tatapannya menyapu dataran luas di hadapannya. inikah bukit cipeundeuy yang dulu ia kenal? tatpan matanya nanar. ia melihat pohon-pohon yang meranggas.ia juga membaui aroma kayu-kayu yang terbakar. ia melihat kayu-kayu yang menghitam dan teronggok diantara semak-semak belukar dan ilalang. ia juga mengenali bekas-bekas mesin pemotong kayu.
"satip, sejakkapan cipeundeuy seperti ini?"
"satip mengerutkan keningnya."maksud maneh?"
sukri menghela nafas dalam-dalam dan emngehembuskannya dengan perasaan berat."lihatlah satip. cipeundeuy yang sekarang sangat jauh berbeda deangan cipeundeuy lima belas tahun kebelakang. semuanya telah berubah dengan cepat."
"ya. tapi....sudahlah."

"pantas saja maung turun ke pemukiman. mngkin di sini maung itu tidak menemukan habitat yang ia inginkan.mungkin juga maung itu tidak mendapatkan apa yang ia bisa makan.pantas kan ada beberapa domba penduduk yang dicacah di kandangnya."
satip mengangguk."y."
"monyet dan lutung juga turun ke perkampungan. kemudian menggasak tanaman-tanaman penduduk karena tidak mendapatkan tempat yang memungkinkan mereka untukbertahan."
satip tersenyum."pidatomu mirip dengan kementrian kehutanan saja suk."

sukri tak menjawab.
"sehabis kuliah kamu makin pinter ya." lanjut satip sembari tersenyum.
'mulai besok aku mau ke balai desa. atau kalau bisa langsung ke kantor kecamatan."ujar sukri dengan penuh keyakinan.
"untuk apa?"tanya satip penasaran.
"untuk sosialisasi betapa pentingnya menjaga kelestarian gunung cipeundeuy sekalian sosialisasi tentang reboisasi."
satip tertawa terbahak-bahak. suaranya bergema terpantulkan bebatuan lembah dan jurang pegunungan."percuma suk. justru para penebang hutan itu beroperasi atas ijin dari pihak kecamatan."
sukri terbelalak kaget. tangannya terkepal.ada gejolak di dadanya yang sulit ia tafsirkan.
"dan jika seandainya mereka menyetujui reboisasi,ini memerlukan dana yang besar untuk pengadaan bibit-bibit tanaman itu sendiri."
"aku tahu."
"terus,apa yang akan kamu lakukan selanjutnya."
"bulan depan, bupati akan berkunjung ke kecamatan. aku akan ngomong langsung sama bapak bupati."
satip menatap sukri sangsi."kamu yakin?"
sukri tak menjawab. tatapn matanya tetap seperti semula. ia teteap menatap pohon-pohon yang menghitam terbakar dan bekas-bekas pemotong kayu. ilalang yang menguning dipermainkan angin semilir.sementara sukri tetap bergeming ketika satip menawarinya makan.
padaherang, 28 desember 212
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment