12 Jan 2015

PROTES PARA PENAMBANG

Pak camat wira menyeruput teh hangat yang baru saja di angsurkan istrinya.’’bagaimana pak, apakah urusan dengan para penambang pasir itu sudah kelar?’’tanya istrinya memecah keheningan.
Pak wira hanya menghela nafas panjang.’’sejauh ini, bapak sudah mencoba menempuh cara dialog dengan mereka.tapi tetap saja mereka ngeyel.’’
‘’pak…lebih baik bapak nggak usah  ngelarang mereka, yang repot kan…’’
‘’bu, ini tanggung jawab yang bakal ditanyain gusti allah kelak.’’ Pak wira memotong ucapan istrinya yang masih menggantung.’’sudahlah, jangan ngomongin hal itu lagi.’’
Bu wira hanya terdiam. Tak berapa lama kemudian perempuan paruh baya itu beranjak dari ruang tamu. Pak wira masih saja asyik menghisap sebatang rokok yang dikepit jemarinya.tatapan matanya menerawang. Pikirannya benar-benar kalut jika mengingat peristiwa di kantor kecamatan siang tadi.
Suasana di kantor kecamatan semakin panas. Para penambang pasir dan pengusaha kayu gelondongan terus berkoar dan berteriak-teriak tanpa henti tepat di depan kantor kecamatan.
‘’jangan ada larangan penambangan dan penebangan.karedna itu sama artinya dengan melarang mata pencaharian kami’’
BETUL! BETUL!!’’timpal yang lain serempak.
‘’pak camat, jika bapak tetap bersikukuh menutup pertambangan cilember dan penebangan di bukit ciawi itu, kami tidak peduli!!’’
‘’kami akan tetap beroperasi!’’timpal yang lain lagi.
Pak camat hanya bias geleng-geleng kepala.ia dan para pejabat kecamatan lainya keluar menemui para demonstran.
‘’tenang bapak-bapak. Saya mamahami kekecewaan bapak-bapak. Tapi penambangan dan penebangan di gunung ciawi yang bapak-bapak  operasikan itu illegal. Apalagi ini sangat merusak lingkungan.’’
‘’KAMI NGGAK PEDULI!!’’
‘’KAMI NGGAK MAU TAHU HAL ITU!!’’
Terpaksa para aparat desa dan satpol PP dari kepolisian yang sedari tadi sudah siap siaga berusaha menghalau mereka dengan satu tembakan peringatan. Para pendemo tetap membandel. Hingga akhirnya gas air mata berhasil menghalau mereka. Membubarkan kerumunan diiringi hiruk pikuk dan teriakan yang semakin melengking.
Di dalam ruangan pak camat terlibat perdebatan dengan para bawahannya.mereka mendebatkan masalah para penambang yang masih tetep bertahan di depan gedung pemerintahan kecamatan.
‘’daripada menimbulkan ekses buruk lebih baik kita cabut pelarangan tersebut.’’ujar salahseorang staf.
‘’justru ekses buruk timbul karena penambangan dan illegal loging tersebut.’’timpal pak camat wira.’’kerusakan lingkungan sangat merugikan masyarakat sekitar.’’
Sekrertaris kecamatan berdehem dan mengangkat tangannya.’’iya, saya sangat setuju dengan pendapat pak camat. Dengan penambangan tersebut bias menyababkan berbagai permasalahan lingkungan dan berpeluang menyebabkan banjir dan longsor di daerah tebing perbukitan ciawi.’’
‘’ya!kita harus tetap dengan pendirian kita!’’ seru pak camat lebih lanjut.’’ Saya tidak ingin mengkhianati janji saya  di saat pemilihan camat tahun kemarin. Kalian tahu kan aku sudah berjanji akan menuntaskan masalah dan polemic penambangan di perbukitan ciawi.’’
Semua staff terdiam.
Pak camat wira menghela nafas panjang. Sementara tangannya mengetuk-ngetuk ujung meja.beberapa saat kemudian ia berdiri di tengah-tengah para staffnya dan menatap mereka satu persatu.’’ Sampai kapan pun saya akan tetap melarang penambangan itu. Apapun resiko yang akan saya hadapi.’’
Semua staff masih tetap terdiam.
‘’saya mengharapkan dukungan dan doa dari semuanya.’’
v      
‘’pak, ada surat buat bapak.’’ujar bu wira pada suaminya.’’tadi saya baca, katanya pak tohang dari cisaranten minta ijin untuk pembangunan vila dan pemondokan di puncak gunung ciawi.’’
Pak wira mengerutkan keningnya.
Bu wira membetulkan letak jilbabnya yang sebenaqrnya sudah rapi.’’kata pak tohang kalau pembangunan vila itu udah selesai kita akan dikasih dua kamar apartement gratis di daerah cimahi.lumayan lho pak. Nanti si neni kita suruh tinggal disana. Biar dekat ke tempat kuliahnya.’’
‘’Apartement?’’
‘’iya. Pak tohang itu kan membawahi pembangunan tiga proyek apartement di daerah kota bandung. Belum lagi yang di Jakarta.’’
‘’tidak bias bu, pembangunan di perbukitan cisewu kan sudah kita larang sejak setahun yang lalu.’’
‘’tapi mpak, bagaimana dengan penawaran apartemen tersebut?’’
‘’masa saya akan melegalkan pembangunan villa. Sementara di sisi lain  saya melarang par a penambang dan illegal loging di sana?’’bantah pak wira.’’itu tidak adil namanya.’’
Bu wira hanay menundukan kepalanya.’’ Ya ibu juga bisa ngerti hal itu pak…’’
‘’saya harus memegang prinsip dan konsisten bu’’ujar pak wira lebih lanjut.’’lagian dengan rumah kita ini juga sudah nyaman dan cukup untuk kita berdua. Nggak perlu punya apartemen segala.’’
  
KRIIING…KRIING….KRIING…
Suara dering telepon dari ruang tamu terdengar nyaring.bu wira tergopoh-gopoh mengangkatnya.’’assalamualaikum…ini dengan siapa?’’
Beberapa detik ia menunggu tapi tak ada respon. Bu wira kembali menanyakan,’’ini dengan siapa? Ada perlu apa?’’
Kembali tak ada respon. Bu wira hanya bias mengernyitkan dahinya dan sejurus kemudian ia kembali ke ruang belakang.
Tak berapa lama telepon bordering. Bu wira segera mengangkatnya dan mengucap salam. Nsmun lagi-lagi tak ada jawaban.justru yang pertama kali memutuskan sambunga dari penelpon itu.
Kini bu wira memmrasa resah. Kekhawatiran tergambar jelas dari raut wajahnya. Bagaimana tidak, ini merupakan yang ke empat kalinya telpon misterius itu mengusiknya.
Bu wira masih sibuk di dapur dengan adonan kue di tangannya ketika suara motor bebek   menghampiri halaman rumahnya. Ia tahu bahwa itu suara motor bebek suaminya. Walaupun tidak biasanya pak wira pulang sehabis ashar,tapi ia sudah familiar dengan suara motor bebek suaminya itu.  Buru-buru ia melepaskan adonan di tangannya dan segera ke ruang depan.
Pak,telpon itu selalu saja…’’
p-ak wira hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Ia sudah tahu perihal telpon misterius itu ketika tempo hari istrinya itu menceritakan padanya.’’sudahlah, itu orang iseng kali bu..’’
bapak itu gimana sih, ibu takut ini ulah oknum penambang itu.’’
‘’emang kenapa?gitu aja kok repot.’’ujar pak wira sembari memasukan motor bebeknya ke teras depan.
‘’ini namanya namanya terror pak…’’sergah bu wira masih tak mau kalah.’’gimana kalau mereka ingin mencelakakan kita! Gimana kalau m,ereka punya niat gak bener sama bapak.bisa jadi membunuh kita sekeluarga!’’seru bu wira dengan nada yang tinggi.ia mulai kesal karena ketakutannya terhadap telpon misterius itu malah dianggap hal yang biasa oleh suaminya.
‘’astaghfirullah….istighfar bu. berfikir lah secara jernih.’’
Bu wira hanya menggelengkan kepala.’’saya takut terjadi apa-apa sama bapak…’’
‘’percayalah…kita serahkan semuanay pada gusti allah.semoga tak terjadi apa-apa dengan bapak.’’
Bu wira hanay menghela nafas. Kemudian menuntun suaminya menuju sofa.’’ada sesuatu yang aneh selama lima hari belakangan ini.’’ujarnya kemudian.
Bu wira menceritakan segalanya. Ia selalu melihat seorang pria berbadan kekar dengan memakai jaket hitam di seberang halaman rumah.lelaki itu selalu berdiri di tikungan jalan sebelah utara rumah. Lebih tepatnya sejajar dengan halaman depan. Bu wira selalu memergokinya saat pria itu mematung di seberang halaman rumahnya. Menatap tajam padanya. Atau kadang dilihatnya pria itu mondar-mandir di sekitar rumahnya. Mata pria itu selalu menyelidiki setiap sisi rumah. Dan bu wira tak pernah tahu apa maksud dari pria itu. apakah dia seorang pencuri yang sedang survey dengan kondisi rumahnya.
‘’itu sudah yang kelima kalinya lho pak bahkan pernah juga malam-malam saya lihat laki-laki itu berdiri di dekat pagar belakang rumah kita.’’
‘’sudahlah kita serahkan semuanya pada allah.allah tempat berlindung dari orang-orang yang hendak berbuat zalim.’’
‘’tapi ibu khawatir pak, ini terror namanya.’’sergah bu wira dengan nada yang masih penuh dengan kekhawatiran.
‘’berdoalah pada gusti allah.sudahlah, bapak cape, mau istirahat dulu.’’jawab pak wira
Bu wira mengangguk lemah. Di benaknya masih berkelebat wajah pria berjaket hitam itu dan tatapan kebencian itu

Pagi masih diselimuti kabiut tipis. Puncak gunung ciawi masih berbalut dengan kabut-kabut tipis
 situ.hingga akhirnya beranjak pergi ketika mentari pagi perlahan meninggi.
Di rumah yang berukuran sedang itu terlihat seorang gadis belia tengah menyiram bunga yang tumbuh subur di halaman yang tak terlalu luas.di belakangnya tanpak wanita paruh baya tengah termenung.sejurus kemudian berdiridan beranjak ke dalam rumah. Tapi tak lam kemudian ia kembali lagi ke ruang tengah dengan wajah yang terlihat resah.
‘’sudahlah bu, nanti juga bapak pasti bakalan pulang.’’ujar gadis itu kepada wanita paruh baya yang ternyata bu wira.gadis itu adalah anak keduanya.
‘’rahmi, ibu khawatir terjadi apa-apa sama bapakmu itu.’’ujar bu wira lirih .memang sangat beralasan jika bu wira merasa khawatir dengan suaminya. Sudah dua hari ini pak wira tidak pulang ke rumah setelah sebelumnya pamit untuk menghadiri acara rapat di kantor kabupaten. Ia telah dua hari ini mengontak nomor suaminya namun nomor suaminya tak bias dihubungi. Biasanya pak wira pulang paling lambat  jam sebelas malam. Keresahannya semakin menjadi ketika ia mencoba menghubungi nomor kantor kecamatan untuk menanyakan suaminya.
‘’saya juga tidak tahu bu.siang tadi bapak sudah pergi ke kabupaten buat rapat. Katanya malam bias pulang.’’ujar pak hadi salahseorang pegawai kecamatan.
‘’sejak kemarin bapak belum pulang kerumah pak hadi.’’terang bu wira.’’ Saya kira bapak pulangnya ke kantor dulu.kebetulan sebelumnyqa dia juga pernah bilang masih ada urusan administrative yang belum selesai di kantor.

Seperti biasanya rahmi menyiram tanaman-tanaman hias dan koleksi anggrek miliknya saat seseorantg muncul di halaman depan rumahnya.orang itu ternyata pak hadi yang sore kematin ditelpon ibunya.
‘’assalamualikum…’’
Wa’alikum salam…silakan masuk pak.’’jawab rahmi.
‘’duduk di luar saja neng.’’jawab pak hadi. ‘’ibunya ada neng?’’
‘’ada di dalam. Saya panggil dulu.’’jawab rahmi dan kembali ke dalam. Tak berapa lama kemudian ia muncul dengan membawa nampan berisi segelas the dan diiringi dengan bu wira di belakangnya.
‘’pak hadi mau ketemu sama bapak ya.’’tanya bu wira kepada tamunya. Sementara rahmi menghidangkan the di meja kecil di hadapannya.
Bapak sejak kemarin belum pulang juga.’’ Terang bu wira lebih lanjut.
Pak hadi menekuk wajahnya dalam-dalam . dengan helaan nafas ia menatap anak-beranak itu satu persatu dengan tatapan yang sulit ditafsirkan.
‘’bu…maksud saya dating kesini…saya ingin menyampaikan sesuatu hal mengenai…’’pak hadi tidak melanjutkan kata-katanya. Hatinya bimbang.
‘’apa itu pak.?’’tanya bu wira penasaran.
‘’saya ingin menyampaikan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.’’
‘’maksud pak hadi?’’ Tanya bu wira dengan wajah yang penuh tanda Tanya dan wajahnya terlihat tegang.
‘’saya harap ibu sekeluarga sabar. Tabah dan tawakal sama gusti allah…’’
Bu wira dan rahmi terdiam dan menunggu pak hadi melanjutkan kata-katanya.
‘’bapak…pak wira.. sudah berpulang ke rahmatullah…’’
Kalimat terakhir yang diuycapkan pak hadi bagai p[etir di siang bolong.bu wira dan rahmi terkejut bukan alang kepalang.
‘’TIDAK MUNGKIN! BAPAK MASIH HIDUP!!’’seru rahmi sembari memeluk ibunya. Bu wira berusaha menguasai keadaan dan menegarkan hatinya.’’dari mana pak hadi dapat berita itu?’’ujarnya lirih dan berurai air mata
Mobil bapak ditemukan beberapa warga di kecamatan ciendah di tepian jalan yang sepi.bapak dibuynuh dengan luka tusuk di dada dan di lehernya. Saya harap ibu sabar dengan semua ini…’’
‘’bapak,astaghfirrullah…’’ujar bu wira lirih. Tubuhnya menggelosor di sofa. Ia tak sadarkan diri.

Gerimis turun dengan perlahan diantara semburat jingga.senja belumlah begitu tua saat jenazah pak wira diiring ke komplek pemakaman umum.langit seakan-akan ikut menangis seperti tangisnya para pengantar jenazah pak wira.keranda tertutup kain hijau dengan kalimat tayibah itu dengan perlahan menyambangi tanah pemakaman umum yang lenggang.keranda diturunkan di samping liang lahat yang sedari tadi sudah digali. Tubuh berbalut kain kafan itu segera diturunkan dari keranda. Pak hadi dan beberapa pejabat kecamatan membawa jenazahnya ke liang lahat.perlahan tanah merah menguruk liang lahat itu.

Ini minggu kedua setelah kematian pak wira.orang-orang masih ramai membicarakan perihal kematiannya. Banyak yang tak menyangka pak wira akan mati terbunuh. Maka bermunculanlah opini-opini mengenai kematiannya. Banyak yang memprediksi kalau kematian pak wira karena di bunuh oleh perampok yang biasa beraksi di jalanan yang sepi.banyak pula yang beranggapan bahwa pak wira di bunuh oleh para penambang dan pengusaha kayu gelondongan perbukitan ciawi. Selama ini merekalah yang memusuhi pak wira karena pelarangan tambang pasir dan illegal loging tersebut.
Sore itu langit mendung. Awan-awan tebal hitam bergerombol memenuhi bumantara.  Angin kencang menampar  reranting dan dedaunan menimbulkan bunyi keksiut yang tak berkesudahan. Sesekali halilinytar menggelegar seperti akan segera turun hujan besar.
Orang-orang mulai menutup jendela-jendela rumahnya ketika hari mulai gelap.saat azan maghrib berkumandang, saat hujan turun menghujam tanah-tanah yang semakin basah merekah.hujan tiada henti mengguyur hingga jauh malam. Sementara orang-orang semakin rapat dengan selimut dan buaian mimpi

Beranjak siang orang-orang sekampung ramai berdatangan menuju kaki perbukitan gunumg ciawi.mereka melihat pinggang bukit ciawi yantg longsor.tampak sangat begitu jelas dengan tanah merah merekah yang menghujam sungai cibadak sepanjang tebing dan pinggang bukit di bagian bawahnya. Rupanya hujan semalam menyebabkan  longsor dan sungai-sungai meluap.bahkan beberapa pohon tumbang dari pangkalnya.
Yang lebih mengejutkan, tenda-tenda perkemahan milik para penambang tampak mencuat diantara batu-batu berukuran besar dan tanah longsor di sepanjang pinggang bukit tersebut.
‘’kita harus segera mencari para penambang tersebut.’’ Ujar seorang tim penyelamat relawan sembari menyiapkan peralatan.
‘’sepertinya diantara mereka ada yang terbawa arus sungai cibadak.’’timpal relawan yang lain.’’mencari korban diantara batuan sebesar  kerbau itu sepertinya akan sulit bagi kita.’’
‘’kita perlu alat berat semacam backhoe’’
Para tim relawan dan penanggulangan bencana dari kabupaten sudah bersiap-siap di seberang bukit.warga semakin ramai berkerumun.
‘’tak ada penambang yang selamat semuanya terbawa arus dan tertimbun longssor.’’ujar salahseorang warga kepada rekan di sampingnya.
‘’mereka celaka karena ulah tangan mereka sendiri.’’timpal temannya sembari menghisap rokok dalam-dalam
Padaherang 2 februari 2013

Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment