10 Jan 2015

Nurani yang Terkoyak >>> Part 05

Kepala Nur terasa Pening luar biasa. Nurani berjalan dengan kepala yang terasa begitu berat. Kakinya berjalan sempoyongan. Tante Viola mengerti keadaannya. Tante Viola meraih tas dari pundak Nur.”Biar Tante yang bawa.” Ujarnya.
Nur mengangguk senang. Ia mengikuti langkah lebar tante Viola. Mereka baru saja turun dari bus yang membawa mereka. Di perjalanan tadi Nur mengalami mabuk perjalanan. Sepanjang perjalanan ia telah mengalami tiga kali muntah. Dan ia hampir menambahnya menjadi empat kali muntah jika saja bus tidak segera sampai. Utungnya saja itu tidak terjadi. Bus tiba di terminal Lebak Bulus tepat ketika Nur bersiap-siap akan muntah. Tapi Tante memberitahunya bahwa bus telah sampai terminal Lebak bulus

Jam di terminal menunjukan pukul sepuluh malam. Mereka berjalan ke luar area terminal. Tak jauh dari sana terdapat beberapa taksi. Tante menghampiri kumpulan taksi dan seseorang supir taksi dengan sigap mendatanginya.”Mau kemana bu?”
“Kebayoran Lama.”
“Silakan.”ujar sopir taksi dan meraih bawaan mereka, kemudian memasukannya ke dalam bagasi di belakang. Taksi melaju meinggalkan terminal.
Nur benar-benar takjub. Inilah pertama kalinya ia melihat malam di langit Jakarta. Ribuan warna cahaya seakan dimuntahkan di udara. Dari tower-tower tinggi, bangunan, warung-warung dan tempat-tempat hiburan. Ia melihat keramaian seakan seekor sapi yang tersesat di keramaian pasar.

Taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah megah yang lumayan besar.
“Kita sudah sampai Nur.”ujar tante Viola. Ia bersiap-siap hendak turun dari taksi. Sebelumnya Nur tak pernah membayangkan dan menyangka tante Viola punya rumah sebesar itu. ia hanya pernah melihat rumah bak istana itu di sinetron-sinetron televise yang biasa ia tonton di rumah tetangganya.
“Ayo bawa barang bawaanmu.”ujar tante Viola setelah membayar ongkos. Kemudian mereka turun dan gerbang besar yang terbuat dari besi dengan sepuh warna keemasan terbuka lebar.
“Oh, ternyata nyonya. saya kira Hendi yang datang.”ujar seorang lelaki dengan jambang lebat. ia membungkuk hormat kepada tante Viola.
“Oh ya, bagaimana? apakah Hendi pernah datang ke sini selama aku tak ada?”
“Ya, dia menanyakan kepergian nyonya. saya kira nyonya sudah memberitahu prihal kepergian nyonya ke kampung.”
Tante Viola yang dipanggil nyonya oleh lelaki itu tersenyum kemudian ia berpaling ke   arah Nur.”ini bapak Heri, satpam disini.”ujarnya.
Pak satpam yang bernama Heri itu mengulurkan tangannya.”oh ini yang keponakannya nyonya?”ujarnya mengerling ke arah tante Viola.
Tante Viola mengangguk.”ayo Nur masuk.”
Nur mengikuti tante Viola. mereka menyusuri jalan setapak berbatu melewati taman yang lumayan luas.
Semegah inikah rumah tante Viola? beruntung aku ikut bersamanya. mungkin aku akan senang tinggal di istana seperti ini.
Mata Nurani jelalatan melihat setiap sudut taman. Lampu taman yang bundar besar menerangi di seatiap penjurunya. air mancur dengan patung seorang perempuan setengah telanjang menghiasi kolam yang berai jernih. di dalamnya ada ikan-ikan hias yang berkecipak merdu.
Mereka telah sampai di depan pintu. dua daun pintu dengan ukiran jepara menjulang dihadapan Nur. Tingginya mungkin dua meter lebih. furniturnya bagus dan mengkilap.Tante memencet bel tiga kali. Tak menunggu lama pintu besar itu terbuka dan seorang gadis seumuran Nurani berdiri disana. Rambutnya berwarna pirang dengan rok super mini.
“Eh tante. aku kira pelangganku yang mau datang malam ini.”serunya tanpak sedikit kaget.
Tante Viola tersenyum datar,”Sudah berapa pelanggan yang kau dapat selama tante pergi.”
“Biasa tante, yang datang bulanan. kalau yang baru cuman dua orang.”jawabnya tersenyum jail. “Tapi duitnya lumayan.”
“Ya sudah, tante mau istiraha dulu.”kata tante Viola dan beranjak pergi. Tapi kemudian ia berbalik lagi.”oh iya, kenalin. ini Nur, dia mau kerja di sini juga.”
Gadis itu tersenyum.”Bagus dong tante, aku gak bakalan kewalahan ngelayanin para pelanggan.”
Nur membalas senyumnya dan mengulurkan tangannya.”Nurani Hasanah.”
“Ninon Bunga Lestari. aku dari Tegal.”jawabnya meraih uluran tangan Nur.
"Ayo, biar aku bantu bawa barang-barangmu ke kamar." ujar Ninon menawarkan pertolongan."Tante udah nyiapin kamarmu di lantai dua."
 Nur mengangguk sopan. mengikuti langkah kaki Ninon menyusul Tante.
Nur mengitari ruangan itu dengan pandangan yang takjub. jelas kamar yang disediakan tante Viola untuknya terlalu besar untuk ditempati satu orang. Ia jadi berpikir, apakah semua kamar di rumah ini ukurannya sebesar ini. Yah, setidaknya ukurannya sama dengan rumah kecilnya di kampung. kamar itu lengkap dengan kamar mandi, wastafel, televisi dan AC.
Nur merebahkan tubuhnya di kasur yang tebal dan empuk. Bahkan tubuhnya setengah terbenam di kasur busa itu. Ah...terlalu berlebihankah? seumur hidup ia tak pernah tidur sampai terbenam seperti itu. Ia bangkit dari kasur empuknya. meraih tas mendongnya dan mengeluarkan semua barang bawaannya. baju-baju ia susun rapi di rak dekat televisi dengan layar yang lebar.
Beberapa saat lamanya ia hanya terdiam. Tiba-tiba pintu diketuk dari luar."Nur, ayo kita makan malam."
"I...iya tante."jawab Nur dan ia segera beranjak ke arah pintu. membukanya. Tante Viola tersenyum merekah."ayo, kita makan diluar saja. di restoran langganan tante."
"Tapi saya belum mandi tante."
"Ya sudah. Mandi dulu sana. Tante tunggu di ruang tamu yah."ujarnya sambil berlalu dari hadapannya.
Nur tersenyum senang. Ini benar-benar surga dunia yang tak pernah terbayang sebelumnya. Ia segera meraih handuknya dan beranjak ke kamar mandi.

Nur menuruni tangga dan berbelok ke koridor ruang tamu. Disana tante Viola dan Ninon serta seorang gadis yang lain sudah duduk atau lebih tepatnya menunggunya disana. gadis itu menatap Nur dengan tatapan syok.
"Wah...kamu besok harus ikut aku untuk belanja baju di butik." ujarnya dengan tanpa beban. Matanya seakan menatap setiap inci baju panjang berwarna merah marun dan rok lusuh coklat pucat yang dipakai Nur saat itu. Tentu saja Nur tahu maksudnya, Gadis itu tak senang dengan apa yang dipakainya.
Tante Viola mendelik tak senang pada gadis di samping kanannya itu. Tapi kemudian segera menatap Nur dengan senyuman yang tetap merekah."Ini Sekar. akan menjadi temanmu juga. Dia memang suka belanja. Besok bolehlan kamu ikut dengannya ke butik kakaknya."
Gadis itu tersenyum." Tenang, tante ola akan membelikanmu baju-baju yang lebih menawan dan modern." sekilas ia melirik ke arah tante Viola.
Ninon berdehem dua kali."Sudah jam sembilan lho, ayo kita segera berangkat.
“ayo."seru tante Viola dan ia segera mengamit lengan Nurani."Kamu pasti akan senang tinggal disini bersama mereka."bisiknya di telinga Nur.
Nur mengangguk pelan.
semoga saja apa yang dikatakan Tante Viola benar. Ia akan merasa kerasan tinggal disini.
"Barusan jangan dianggap ya. Sekar emang orangnya cuplas-ceplos kalau ngomong."  tante Viola khawatir Nur  tersinggung dengan apa yang diucapkan sekar tadi.
"Tidak. biasa saja."jawab Nur pelan. padahal sejujurnya dia sempat tersinggung tadi. yah, dia memang gadis kampung sih.
Mobil mercedes ben tante Viola berhenti di sebuha restoran mewah di pusat kota. Mereka turun dan langsung menuju ke dalam. tanpak beberapa kursi telah penuh oleh para pengunjung. Kebanyakan adalah anak-anak muda, dan kebanyakan dari mereka selalu saja berpasangan di mejanya masing-masing. muda mudi itu tanpak asik dan menikmati suasa restoran itu. musik mengalun dan terkesan mendayu-dayu. resto mewah itu penuh dengan dengungan-dengungan pengunjung.
"Seperti biasa, malam minggu selalu ramai." ujar tante Viola.
"Sepertinya meja di pojok itu nyaman untuk kita berempat."kata Ninon menunjuk pada salahsatu pojok yang kosong. mereka mengangguk dan mendekati kursi yang ditunjuk Ninon.
Seorang pelayan pria berwajah indo datang tepat beberapa detik setelah mereka duduk di kursi."Mau pesan apa nona-nona cantik."ujarnya sembari menyodorkan buku menu.
"Eh, Gerald, kamu ganteng banget malam ini."celetuk Sekar dengan tatapan menggoda."Aku suka potongan rambut barumu."
"Sekar payah, minggu lalu kau bilang kau tak suka baju kemejanya. sekarang berbalik__"
"Kau terlalu ikut campur sayang."potong Sekar. Laki-laki pelayan yang dipanggil Gerald itu nyengir kuda."Sekar memang selalu begitu Ninon."
Sekar menatapnya dengan senyuman --yang Nur yakin-- setiap lelaki akan menyukainya."Yeah, seperti biasa. pesanan kita tak pernah berubah."kemudian ia melirik kepada Nur."kamu mau pesan apa anak baru.?''
Nur tersipu."aku ikut menu kalian saja."
Sekar mendengus malas."pengekor sejati ya. oke Gerald, ngomong-ngomong, kau belum pernah berkunjung ke rumah kita. Padahal aku sudah memintamu dua kali lho."
Gerald tersenyum dan mencolek dagu Sekar."Aku tak punya waktu luang sama sekali gadis manis."
Tanpaknya mereka sudah saling mengenal satu sama lain. dan tante Viola hanya tersenyum mendengar celotehan mereka."Cepat Gerald, kau akan banyak membuang waktumu jika meladeni celotehan Sekar."
Gerald membungkuk lucu."Siap nyonya. pesanan akan segera saya antar."
Kira-kira perlu menunggu selama dua puluh menit lebih sampai pesanan itu datang ke meja mereka. Kini bukan gerald yang bawa. melainkan seorang pelayan wanita dengan seragam yang sama.
"Selamat menikmati."ujarnya datar. tangan mungilnya meletakan mangkuk-mangkuk porselen berwarna biru laut di atas meja. kemudian kembali dari hadapan mereka.
kini di hadapan mereka terhidang empat porsi onigiri lengkap dengan shoyu, dan tofu. Mereka mengambil satu persatu jatah masing-masing. Nur bahkan tak tahu nama masakan itu. Yang ia tahu itu adalah masakan restoran Jepang. Mereka mulai menikmati makan malam mereka.
"Sekar, kau suka pada Gerald ya."tanya tante Viola diantara suapnya.
"Sudah dari dulu malah."jawab sekar. ekor matanya melirik ke arah Gerald yang tanpak sibuk melayani pengunjung di ujung yang lain. Sepertinya dia masih tak bisa untuk melewatkan matanya.
“Tapi kau tanpak terkesan sinis dan meledeknya pada minggu-minggu yang lalu."tanya Ninon setengah protes.
"Bodo."seru sekar pendek dan terkesan acuh tak acuh.
Tante Viola terenyum dan menatap Ninon "itu karena supaya Gerald merasa tertarik dan tertantang untuk bisa mendekati Sekar. betul kan sekar?"
kali ini sekar lebih berkonsentrasi pada onigirinya.
"Ngomong-ngomong. siapa yang duluan. kamu apa gerald." tanya tante Viola.
"Tentu saja Gerald. Aku hanya menyapanya dan dia malah semakin berusaha mendekatiku."
Ninon mengerutkan keningnya."Itu berarti kamu yang mulai bodoh. jadi kamu berharap bisa menggiring dia ke kamarmu ya."
Sekar tersenyum. ekor matanya melirik Nur.
Nur pura-pura tak melihat. Bagaimana pun juga ia meyakini apa yang diaktakan Ninon barusan sangat tidak pantas untuk diucapkan seorang gadis belia.
 untuk saat ini Nur cukup hanya mendengarkan celotehan-celotehan mereka. Setidaknya dia tak punya topik pembicaraan. Lagi pula dari tadi pembicaraan selalu mengenai Gerald dan Gerald.
Beberapa saat lamanya pelayan perempuan yang tadi membawa onigiri kembali di hadapan mereka. membawa nampan berisi es puding almond jeruk. Meletakannya dengan hati-hati di atas meja.
"Ninon, kau sepertinya tak selincah Sekar dalam menjerat laki-laki." kata tante Viola. kali ini ia telah menandaskan onigirinya.
"Ingat jangan sampai kamu juga kalah sama anak baru ini."timpal Sekar sembari melirik Nur. Nur merasa jengah. Bagaimana pun nur tak mau meladeni pembicaraan murahan itu. Bayangkan, kau seakan mengikuti sebuah kontes untuk mendapatkan laki-laki sebanyak-banyaknya untuk dikoleksi menjadi kekasih--barangkali--. dan layaknya mengoleksi gelang-gelang jika kau menganalogikan hal itu dengan gadis desa semacam Nur
"Sombong! lihat saja nanti."seru Ninon tak terima.
Tak terasa malam semakin larut. Tante Viola menatap arloji mewahnya dan berkata."Saatnya pulang sayang." katanya sembari merogoh tas tangannya."Gerald!"serunya.
yang dipanggil datang degan tergesa-gesa."Berapa semuanya?"
Gerald menyebutkan nominal yang harus dibayar. Tante menghitung uang di dalam dompet kemudian menyerahkan beberapa lembar sesuai nominal yang disebutkan Gerald.
Untuk terakhir kalinya Sekar masih menggunakan tatapan genitnya sebelum beranjak dari kursinya."Besok malam kau bisa berkunjung jam berapa pun kau mau."
Nur benar-benar sesak. benar apa yang dikatakan bibi Santi. Kehidupan anak muda kota tak akan pernah sama dengan kehidupan anak muda di desa. Tentu saja di desa sangat tabu ketika seorang wanita mengajak berkunjung seorang pria. Malam-malam pula. Tapi untuk kesempatan ini Nur mencoba untuk tidak berburuk sangka terhadap Sekar, Teman barunya yang agak pongah itu. lagi pula ada tante Viola di rumah. jadi --mungkin-- Sekar tak akan berulah di luar batas.
Gerlad bersiul."Oke, aku biasanya selesai dari sini jam sebelas malam. apakah kau masih belum tidur pada jam-jam seperti itu?"
"Oh, tentu tidak. karena aku sudah punya janji denganmu."jawab sekar."Bilang saja kepada pak Dendi bahwa kau ingin menemuiku."
"Siapa Dendi?"
"Satpam kami."kali ini tante Viola yang menjawab."Lagi pula tanpa kau bilang dia pasti sudah mengerti."
Gerald tersenyum lebar."terimakasih."dan berlalu pergi masih dengan siulannya. tanpaknya dia sangat senang malam ini.
mereka beranjak dari kursi masing-masing.
"Kau yakin dia tipe pemuda yang banyak uang?"tanya tante Viola.
"Kalau aku tak yakin, aku tak akan pernah menggodanya tante." jawab Sekar pasti."Lagian pelayan restoran mewah dan besar gajinya lumayan gede lho."
Tante Viola tersenyum dalam diam. Nur semakin tak mengerti dengan apa yang dibicarakan mereka



Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment