10 Jan 2015

Nurani yang Terkoyak >>> Part 03


Pagi-pagi sekali Nurani sudah bangun. Semalam suntuk ia tak bisa tidur sama sekali. Pikirannya terus menerawang dalam kebimbangan yang semakin membenamkannya dalam kebingungan. Nurani tertarik dengan tawaran tantenya sekaligus merasa khawatir untuk meninggalkan kampung dengan waktu yang belum ditentukan masanya. Namun dipenghujung malam tadi, Nurani telah membuat sebuah keputusan. Ia akan ikut Tante Viola ke Jakarta dan –tentu saja- ia harus menjelaskan semua rencananya kepada adiknya. Setidaknya mereka harus merelakan kepergiannya sekaligus tidak merasakan kehilangan dirinya. Nurani juga akan mendatangi Paman Salim dan Bibi Santi sebagai kandidat tunggal pengasuh kedua adik yang dicintainya.
Pagi itu hati Nurani ketar ketir. Bagaimana pun juga ia tak akan tega mengucapkan kata perpisahan kepada adik-adiknya dengan mendadak seperti itu. Ia berpikir, kira-kira apa yang ada di pikiran adik-adiknya ketika ia menyebutkan bahwa ia akan meninggalkan mereka  untuk masa yang tak bisa disebutkan.
Nurani tengah menanak nasi ketika Arti datang dari dipan dan berlutut di depan tungku. Beberapa saat lamanya Dani menyusul dan melakukan hal yang sama; berlutut di samping kakaknya.
Nurani menoleh ke dipan dan didapatinya Tante Viola masih berkemul selimut. Dadanya turun naik diantara dengkuran yang sangat pelan. Tanpaknya ia masih pulas. Hmm… selama dua hari ini Nurani tak pernah melihat Tante Viola shalat subuh. Oh,bukan. Bukan hanya salat subuh saja. Setidaknya Nurani belum pernah melihat Tante Viola salat sama sekali. Ah…kenapa aku harus repot-repot memikirkan hal itu, pikir Nurani.
Nurani menyimpan nasi dibakul setelah itu ia menumbuk rempah bumbu di coet tembikar. Sesekali ia menatap kedua adiknya
“Ah, baiknya kalian sekarang mandi dulu. Habis itu sarapan.”
Arti segera beranjak pergi menuruti kata-kata kakaknya. Dani-seperti biasa- terlihat malas dan ogah-ogahan untuk ninggalkan kehangatan tungku perapian. Tapi tak ayal mengikuti kakaknya ke belakang.

Nur merangkul pundak Arti. Di depannya Dani tengah menghabiskan suapan terahir di piringnya.
“Teteh mau berbicara sama kalian berdua.”
“Bicara apa teh. Biasanya juga tidak perlu bilang dulu. Bicara ya bicara.”ujar Dani. Kini ia telah selesai menandaskan sarapannya.
Nurani menghela nafas panjang,”Teteh mau ikut Tante Viola ke Jakarta.”
Arti menatap tajam kedua mata kakaknya. Pun dengan Dani, tangannya yang hendak menyambar segelas teh tawar ia urungkan demi mendengar kata-kata kakaknya.
“Lalu kami tinggal sama siapa?”
“Kalian teteh titipin di paman. Nanti sore teteh mau berkunjung ke rumah paman Salim untuk membicarakan hal ini.”
Beberapa saat lamanya mereka bertiga hanya membisu. Berusaha menyelami kedalaman hati masing-masing. Bertepatan dengan itu Tante Viola terbangun dan beranjak dari dipan.
Dani menatap Tante Viola.” Benarkah Teteh mau ikut sama Tante ke Jakarta.”
Tante viola tersenyum dan menatap Nurani. Ia tahu, Nur telah mengutarakan rencana ‘besarnya’ kepada kedua adiknya.
“Lalu siapa yang ngasih saya jajan teh?” Tanya Dani.”Paman?”hatinya masih belum menerima rencana kepergian kakaknya. Ia sudah merasakan bagaimana pahitnya kehilangan kedua orang tuanya dan ia tak ingin merasakan kehilangan itu untuk yang kedua kalinya; kehilangan teteh semata wayangnya.
“Kalian gak usah khawatir. Nanti Teteh ngasih uang jajan setiap bulan buat kalian.”Tante Viola berusaha menghibur Dani kemudian mengalihkan pandangannya kepada Arti.”kamu juga bisa lanjutin sekolahmu ke SMP. Teteh sama Tante yang akan membiayai sekolahmu.
Arti tersenyum senang. Di benaknya muncul kembali imajinasi tentang seragam, gedung sekolah dan buku-buku yang ia tenteng. Nur tahu bahwa mimpi terbesar adik pertamanya itu hanya satu; melanjutkan sekolah ke SMP.
Sore itu juga Nur dan Tante Viola menyambangi rumah Paman Salim. Beruntung dia dan istrinya sedang ada di rumah. Biasanya Paman Salim ada di rumah dari pagi sampai pagi besoknya lagi pada hari Jum’at saja. Karena di hari-hari biasa –selain hari jum’at--  paman Salim baru pulang tengah malam sebagai buruh pemanggul di perusahaan kayu. Pekerjaan yang ia lakoni sebagai buruh angkut kayu cukup menyita waktunya. Hanya bibi Santi yang biasa Nur temui di rumahnya.
Sore itu Paman Salim tanpak terkejut melihat siapa yang bertamu ke rumahnya bersama Nur.”Aih, aku kira kau siapa Viola.”
Tante Via tersenyum.”Bagaimana kabarmu, Salim.”
“Baik, Alhamdulillah. Tak menyangka kamu bakalan datang ke sini.”jawab paman Salim sumringah.”Ayo, silakan masuk.”
Bibi Santi tanpak tengah menyulam sebuah kain di ruang tengah. Ia mendongakan kepalanya ketika didapatinya kami beriringan menuju ruang tamu. Roman mukanya tanpak seperti roman muka paman Salim ketika ia melihat Tante Viola datang bersama Nur. Maklum tante Viola sudah lama tidak berkunjung ke kampung Sarimukti. Kampung asal almarhum suaminya.
“Subhanallah. Teh Viola!”seru bibi Santi dan segera berdiri menyambut kedatangan tante Viola.”Ayo silakan duduk. Biar saya buatkan teh manis dulu.” Dan beberapa saat lamanya ia sudah pergi ke dapur untuk membuat minuman.
Seperti pertemuan keluarga yang biasa terjadi. Mereka berbasa basi dan menanyakan kabar masing-masing. Tanpaknya Paman Salim dan bibi Santi sangat senang dengan kedatangan Tante Viola ke kampung. Namun tanpaknya Tante Viola tidak mau pembicaraan terjebak pada basa-basi yang tak berkesudahan. Ia langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Lebih tepatnya maksud kedatangannya ke kampung Sarimukti.
“Sengaja saya datang ke sini karena ada hal yang harus saya utarakan kepadamu.”ujarnya yang lebih ditujukan kepada paman Salim.
Paman Salim mengangguk.”Apa itu Viola.”
Tante Viola menatap Nur beberapa saat lamanya.”Saya bermaksud membawa serta Nur ke Jakarta untuk bekerja di kafe saya. Saya kekurangan pelayang kafe, sementara pengunjung semakin bertambah dari hari ke hari. Sementara dua pelayan saya selama ini kiranya tidak cukup untuk meladeni para pengunjung di setiap harinya. Apalagi bulan depan saya mau buka kafe baru di sekitar monas.”
Saat itu Nur baru menyadari, bahwa tante Viola sengaja datang ke kampung untuk mengajak dirinya ke Jakarta. Bisa jadi tante Viola tidak akan berkunjung ke kampong bila tidak membutuhkan dirinya. Terlepas dari semua itu ia merasa bahagia. Baginya, kedatangan Tante Viola adalah anugerah tersendiri. Toh dia sudah bertekad untuk bisa membantu adiknya untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Jadi, ini suatu kebetulan yang datang tak terduga.
Paman Salim kembali mengangguk-anggukan kepalanya.”Yah…gimana bagusnya. Saya pribadi sangat mendukung keberangkatan Nur ke Jakarta.”
“Kamu harus tetap menjaga tingkah lakumu dan pola kehidupan yang beradab. Katanya orang kota suka maningkah hidupnya. Kamu jangan ikut arus, harus pegang adat dan agama.”sambung bibi Santi. Ekor matanya sempat melirik kea rah tante Viola. Bagi bibi Santi dandanan Tante Viola sudah cukup membuktikan bagaimana orang kota berpakaian. Rok ketat di atas lutut, lekbong, dan make up tebal. Lebih dari itu bibi Santi sudah sering melihat tampilan-tampilan infoteiment lewat televisi hitam putihnya.
Tante  viola hanya tersenyum kecut dan memalingkan muka. Nur tahu, apa yang dikatakan bibi Santi sedikit banyak menyentuh satu hal yang paling urgent dalam perikehidupannya: prinsip hidup adat budaya ketimuran. Dan hal itu sudah tergerus oleh arus globalisasi khususnya di kota-kota besar dan daerah-daerah transisi lainnya. Dan hal itu secara tidak langsung mampu menyindir tante Viola.
Bagaimana tidak,sebelum paman Karim meninggal tante Viola tak pernah atau lebih tepatnya tak berani berdandan dan bertingkah seperti layaknya artis-artis di FTV. Rok beberapa senti di atas lutut, anting-anting sebesar gelang tangan, pewarna rambut blonde, gincu  merah merekah yang tebal sudah melekat tak terpisahkan dari pribadi tante viola selama dua hari di kampung ini. Dan sekali lagi Nur tak mau peduli dengan hal itu. Yang ia tahu tante Viola sangat baik kepada dia dan adik-adiknya. Siapa yang tidak bahagia diperhatikan orang-orang sedermawan tante Viola disaat membutuhkan kasih sayang dari emak-bapak tercinta.karena mereka adalah yatim piatu yang masih butuh kasih sayang dan kehangatan cinta.
Bibi Santi menghela nafas.”Saya pribadi masih ragu-ragu. Lantas siapa yang akan memperhatikan Arti dan Dani. Jika seandainya mereka tinggal disini, saya merasa ragu, apa saya mampu membiayai mereka.” Ujar bibi Santi seakan mengetahui jalan pikiran tante Viola dan Nur selanjutnya.
Tante Viola menjentikan jari telunjuknya yang kurus.”Tepat sekali. Nur sangat berterimakasih jika paman dan bibi bisa menampung Arti dan Dani selama Nur berada di Jakarta nanti.”
Paman salim hanya diam saja.
Dan Nur sekarang yang mencoba untuk bicara,”Paman dan bibi gak usah khawatir. Paman tak usah risau tak bisa membiayai Arti dan Dani. Karena saya juga sadar bahwa dengan mengurus dan membiayai anak paman sendiri sudah kerepotan. Insya Allah, Nur akan mengirimi paman wesel untuk biaya hidup Arti dan Dani.”
Air muka bibi dan paman Salim sudah jelas terbaca; lebih santai dari bebepa menit yang lalu.
“Selain itu nanti saya harap paman bisa mendaftarkan arti ke Tsanawiyah al-Anshariyah. Doakan saja semoga saya bisa membiayai sekolahnya.”
Tante Viola menatap Nur bangga.”Tentu saja kamu bisa, Tante bisa ikut membantu mewujudkan kemauan adikmu.” Kemudian mengalihkan tatapannya kepada paman Salim.”syukur-syukur bisa sekalian membantu paman salim.”
“Alhamdulillah…”lirih bibi Santi hampir tak terdengar.”saya juga ikut senang mendengarnya. Dengan senang hati Bibi bisa menampung Dani dan Arti disini. Tapi keputusan tetap ada di paman.”ujar bibi Santi sembari manatap suaminya.
Paman tersenyum lebar.”Paman juga tidak keberatan. Dengan senang hati paman mengizinkan kamu ikut Tante Viola. Kamu tak usah memikirkan Arti dan Dani. Semoga kamu sukses di perantauan nanti.
Nur tersenum senang. Begitu juga dengan tante Viola. Kepuasa tanpak terpancar dari rauat wajahnya.
Sementara benak Nur kembali melanglang kota Jakarta seperti malam-malam tadi ia memimpikannya. Baginya ini akan menjadi hal pertama dalam perjalanan sejarah hidupnya.



Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment