20 Jan 2015

Korban Belalang

Fina dan Reni berselonjor  di saung ranggon tepian sawah. Menikmati semilir angin pesawahan. Emak Reni dan Wak Sarmi sedang memanen padi di bawah teriknya matahari. Sesekali terdengar cericit burung meningkahi suasana hening yang melenakan.

“Kita bantu Emak dan Wak Sarmi yuk.” Ajak  Fina kepada Reni kakaknya.

“Percuma, kita tak akan pernah diijinkan.”jawab Reni santai,”bukannya membantu tapi justru kita akan menggangu pekerjaan mereka .”

“Benar juga ya…”sahut Fina.

Fina dan Reni sudah seminggu ini berkunjung ke desa Wak Sarmi. Kakak ibunya. Dan kebetulan bertepatan dengan musim panen padi di desa. Tentunya emak akan dengan senang hati membantu wak Sarmi memanen padi di tiga petak sawah warisan kakek tiga tahun yang lalu. Sebenarnya emak juga kebagian warisan sawah sebanyak tiga petak di samping petak sawahnya Wak Sarmi, tapi sudah lama dijual untuk mencicil pembelian rumah di kota.

Reni dan Fina sangat senang ketika diajak ke sawah bersama-sama. Apalaagi ditemani inayah, anak wak sarmi satu-satunya. Usia  inayah tidak jauh berbeda dengan reni. Mereka sama-sama duduk di kelas lima SD.

Tiba-tiba Inayah melambai-lambaikan tangannya dari seberang saung ranggon. Tampaknya dia mengajak Reni dan Fina untuk menghampirinya.

“Ada apa?”Tanya Reni dengan malas.

“Kesini!” seru Inayah agak keras. Ia menunjukan kantong plastik yang entah berisi apa. Mengaacung-acungkannya kepada reni dan Fina. Namun mereka berdua tak mengetahui apa yang dimaksud Inayah. Mereka pun beranjak menghampiri Inayah di kebun talas milik Wak Sarmi.

“Ada apa teh Ina?” Tanya Fina.

“Kita nangkepin belalang yuk.” Ajak Inayah kepada sepupunya.”Nih, aku sudah mendapatkan banyak.”inayah kembali mengacungkan kantong plastik yang berisi belalang-belalang hasil tangkapannya. Kemudian ia mengeluarkan dua koantong plastik dari saku roknya dan menyerahkannya kepada kedua sepupunya itu.

“Dari mana teh Ina mendapatkan belalang-belalang itu?” Tanya Reni sembari meraih kantong platik yang disodorkan inayah.

“Dari kebun talas ini.”terangnya.”Coba lihat, banyak belalang hijau dan coklat berterbangan di sekitar sini.”tangannya menunjuk beberapa belalang yang mencoba bersembunyi di balik daun-daun talas. 

Benar, banyak belalang di kebun talas tersebut. Reni dan Fina saling bersitatap dan koor berseru.”Ayoo!”

Mereka mulai menangkapi belalang-belalang yang hinggap di daun-daun talas. Sebagian dari daun talas itu tanpak bolong-bolong diamakan belalang.

“Hati-hati, jangan sampai merusak tanamannya ya.” Inayah memperingatkan fina ketika sepupu kecilnya itu hampir merebahkan satu bonggol talas disampingnya.

“Teh inayah sudah dapat berapa banyak?”Tanya Reni, sementara tangannya sibuk menagkapi dan menyibakan daun-daun talas. Sesekali punggung tanganya menyeka keringat yang berleleran di dahinya. Pipi tembemnya memerah karena kecapaian.

“Tuh!”inayah kembali mengacungkan plastik punyanya.” Ayo, tangkap yang banyak.”

Tak perlu menunggu lama mereka sudah mendapatkan belalang lumayan banyak. Bahkan kantong plastic milik inayah sudah hampir penuh.
“Teh inayah dapat banyak. Aku Cuma dapat lima ekor lho.”ujar fina sembari tersenyum

“Memangnya sejak kapan kamu pinter dalam hal seperti ini.”ledek reni kepada adiknya.” Yang betul, kamu pintarnya dalam hal main game seharian.”
Fina hanya melelatkan lidahnya.”wee.”

Inayah tersenyum geli.”habis ini kita panggang belalang-belalang ini di tungku.”

“Hah!! Dipanggang?”seru reni kaget.”belalangnya kita panggang?!”

“Iya dipanggang. Emangnya kita menangkap belalang mau diapain selain buat dipanggang.”

“Aku kira Cuma iseng doang.”terang reni.”memangnya belalang enak dimakan?”
“Kamu belum pernah mencobanya ya.”ujar inayah.”enak lho, apalagi kalau digoreng.ayo kita bikin tungkunya.”

Mereka berjalan beriringan menuju saung ranggon. Reni dan fina mengumpulkan belalang-belalang tersebut dan memanggangnya dengan lidi yang telah diserut sebelumnya. Sementara inayah membuat tungku dari batu.”coba bawa sini belalangnya.”pintanya pada reni. Reni menyerahkan belalang-belalang yang sudah tersusun. Inayah memanggang belalang itu di atas bara api.tak lupa mengecapinya dan menaburinya dengan mentega dan irisan bawang. Sesekali mengipasinya dengan kipas anyaman bambu.

Tak menunggu lama belalang panggang itu sudah menguarkan aroma yang membuat perut mereka berbunyi tak beraturan. Lapar.

Inayah menyusun belalang-belalang itu di atas daun pisang dan membuka nasi timbel yang dia bawa dari rumah.”selamat menikmati bu.”seloroh inayah bak seorang pelayan restoran.

Reni dan fina sudah tak sabar ingin mencoba panggang belalang. Mereka segera mengambil satu tusuk dan memakanya.”gurih juga ya.”

“Tahu nggak, belalang juga mengandung protein yang tinggi.”terang inayah lagi.

Saat asyik mengobrol sembari menikmati belalang panggang, mereka merasakan sesuatu hal telah terjadi pada diri mereka masing-masing. Reni, fina dan inayah terdiam beberapa saat lamanya. Mereka bersitatap satu sama lain.
Fina menatap inayah dengan penuh tanda Tanya,”ka kina, kita nggak bakalan keracunan kan?”

Reni juga menatap inayah penasaran,”kenapa lidahku tiba-tiba gatal.”

inayah tanpak gugup.”aku juga merasakannya. Lidahku sangat gatal.”

“Kita keracunan belalang!” seru fina dengan nada panic.bahkan ia hamper menangis.

“Nggak mungkin! Aku sering kok memakan belalang. Bukitnya aku nggak kenapa-napa.”

Aha! Inayah ingat sekarang. Ia melonjak dan berseru,”aku tahu!!”

Kedua sepupunya menatapnya penasaran,”apa?”

“Aku tahu, apa yang menyebabkan lidah kita gatal-gatal”

“Yak arena makan belalang kan?”ujar reni dengan nada gemas.

“Bukan itu. Kita tadi menangkap belalang di kebun talas kan?”

Kedua sepupunya mengangguk. Inayah kembali tersenyum walau dengan lidah yang semakin gatal.”kalian berdua mungkin tadi sudah meliaht banyak daunt alas yang bolong-bolong dimakan belalang hijau.”

“Jadi…”

“Asal kaliana tahu.daun talas itu gatal. Dan dengan memakan belalang secara tidak langsung kita sudah memakan daunt alas yang gatal itu.”

Reni dan fina terdiam. Kemudian saling berpandangan secara bersamaan. 

Sejurus kemudian menjadi tawa yang tak tertahankan.

“Nanti juga sembuh sendiri kok.nih minum air!” ujar inayah sembari mengangsurkan segelas air kepada kedua keponakannya itu. Setelah itu ia tanpak sedang mencari sesuatu di bakul.

“Mencari apa teh?”

“Gula aren. Lumayan buat ngurangin gatal.”

Mereka bertiga kini menyesap gula aren untuk mengurangi rasa gatal di lidah mereka.

Tasikmalaya 27 Agustus 2011
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment