8 Apr 2014

Nangla Angsa

Di pingggiran hutan hiduplah seekor angsa ynag bernama Nangla dan seekor kucing yang bernama Ruci. Keduanya adalah milik seorang petani yang menggarap ladang di pinggiran hutan.
Nangla angsa mempunyai perangai yang baik dan rendah hati, sementara itu Ruci adalah seekor kucing yang berperangai sombong,
Pada suatu pagi, Nangla angsa sedang berenang di sebuah kolam bersama anak-anaknya. Tiba-tiba datang Ruci menghampiri Nangla.
“Hai Nangla, aku tantang kau lomba lari.”ujar Ruci dengan nada meremehkan.
“baiklah!”jawab Nangla menyanggupi.
“Batasnya adalah dari pohon ini sampai ujung petak ladang itu.”terang Ruci. Memberi tahu jarak yang harus ditempuh. Nangla dan Ruci bersiap-siap. Mengambil ancang-ancang untuk berlari.
“TIGA…DUA…SATU!!” Teriak anak Ruci memberi aba-aba. Serta merta Nangla dan Ruci berlari secepat yang mereka bisa.ruci tampak gesit berlari dan badannya meliuk-liuk dengan cepat. Dalam waktu yang sekejap dia sudah sampai di garis finish.
Sementara itu nangla tanpak kepayahan.nafasnya tersengal-sengal dan larinya pun sangat lamban.ekornya meliuk ke kanan dank e kiri seirama dengan gerak kaki dan tubuhnya. Kakinya terlalu pendek untuk bisa berlari secepat ruci.
“ha..ha…ha….” ruci menertawakan nangla yang berusaha menuju garis finish.”sudahlah nangla, berhentilah!lihat akau sudah sampai di garis finish.”
Nangla baru menyadari hal itu ketika ia menoleh ke arah ruci. Ia melihat ruci tersenyum penuh kemenangan. Nangla berhenti berlari dan terduduk kecapaian. Seasekali ia menyeka keringatnya.
Ruci menghampiri nangla dan menyentuh bahunya,”sudahlah, kali ini aku berharap kamu menang. Aku mengajakmu untuk lomba memanjat pohon.”ujar ruci pura-pura mneghibur. Padahal di dalam hatinya ia menertawakan nangla. Ruci beranggapan tantangannya itu tak akan pernah dimenangkan nangla.
Nangla terdiam untuk beberapa saat dan tanpak ragu untuk menerima tantangan ruci, namun akhirnya ia menyanggupi juga.
Yang pertama memanjat pohon adalah nangla. Ia berusah menggapai dahan terendah dan memanjat dengan kedua kakinya. Sementara sayapnya memeluk batang pohon dengan Paruh yang menggigit ujung ranting  . Tak ayal, itu membuat selaput renang di kakinya terluka.
Nangla berusaha mengepakan kedua sayapnya supaya bisa melompat lebih tinggi.. Tapi tubuhnya meliuk-liuk tak karuan. Ia mulai merasakan sakit di kakinya dan  ia tak kuat lagi untuk menggigit dahan dalam waktu yang  terlalu lama. Lama-kelamaan lehernya tersa pegal dan gigitannya mulai mengendor. Tiba-tiba tubuhnya meluncur jatuh dan hampir menimpa anak-anaknya yang berada di bawah.
“EMAAK!!”teriak anak-anaknya terkejut.
Ruci tertawa tergelak-gelak melihata nangla terjatuh dan meringis kesakitan di bawah pohon. Nangla mangajak anak-anaknya pergi tanpa menghiraukan ejekan ruci.
Esok harinya ruci dan ketiga anaknya bermain di padang ilalang pinggiran kolam. Mereka tanpak berlari-lari gembira.
“ayo! Berlatihlah dengan gesit. Kalian harus bisa berlari dengan cepat.” Ujar ruci kucing memberi semangat kepada anak-anaknya.
Salahsatu anak ruci kucing diam-diam meninggalkan padang ilalang. Ia tertarik melihat belalang yang berterbangan di pinggiran kolam. Ia  mengincar salahsatu belalang yang hinggap di dedaunan talas yang tumbuh di pinggir kolam.anak ruci mengambil ancang-ancang dan dengan gerakan cepat ia meloncat untuk menagkap belalang tersebut.
BYUUR!! “Meoong…meoong…”
Anak ruci terjatuh ke kolam. Rupanya tak menyadari ada kolam di hadapannya karena terhalangi daun ilalang yang  tinggi.
“anakku! Toloong…toloong…” teriak ruci kucing panic. Ia kebingungan dan memutari kolam. Ruci menangismelihat anaknya yang meronta-ronta dan hampir tenggelam.
Nangla angsa yang sedang berenang bersama anak-anaknya di koalam itu  mendengar teriakan ruci kucing. Nangla segera bergegas mendekati ruci kucing dan betapa terkejutnya ketika ia melihat salahsatu anak ruci kucing hampir tenggelam di pinggiran kolam.
“tenanglah ruci kucing, aku akan menolong anakmu.” Ujar nangla angsa sembari menceburkan dirinya ke kolam dan berenang mendekati anak ruci yang meronta-ronta ketakutan.
“ayo! Naik ke punggungku.” Ujar nangla. Beberapa saat kemudian anak ruci sudah berada dia atas punggung nangla angsa dengan badan yang menggigil kedinginan.
ruci tercengang melihat nangla angsa menolong anaknya. Ia merasa malu karena selama ini telah bersikap sombong kepada nangla,.
“Nangla angsa, terimakasih telah menolong anakku.” Ujar Ruci tersipu.
“sudahlah, kita kan sudah berkewajiban untuk saling tolong menolong.” jawab nangla angsa tersenyum ramah.
“ maafkan aku yang selalu mengejekmu dan bersikap sombong kepadamu,” ujar ruci kucing sembari menyeka air matanya. Ternyata  kau sangat baik hati dan mempunyai kelebihan yang tak aku miliki.”

Pangandaran,20 maret 2011

Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment