8 Apr 2014

Ketika Cinta Menyapa Duka

“Siapa yang bisa mengerjakan soal minggu lalu ke depan?”Tanya Bu Santi kepada seluruh siswa. Semua hanya terdiam dan hanya menatap kosong buku tugas matematikanya masing-masing. Hanya beberapa orang saja yang terlihat sangat antusias, termasuk Tiara. Ia cepat-cepat mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sebelum orang lain mendahuluinya.

“Ya, tiara. Silakan isi ke depan.”seru bu Santi dan memberi isyarat supaya tiara maju ke depan.

Tiara tersenyum dan melangkah dengan pasti. Tak membutuhkan waktu yang begitu lama bagi tiara untuk menyelesaikan soal-soal yang menurut sebagian besar temannya sulit minta ampun. Ia menaruh kembali marker hitam ke tempatnya dan segera kembali ke tempat duduknya. Bu santi tampak tersenyum puas.

Tiara kembali membuka buku tugas matematikanya. Tapi tunggu dulu, dia merasakan sesuatu yang aneh. Tiara merasa tak nyaman ketika ia duduk di kursinya. Tiara berdiri dan ketika itu ia tahu bahwa rok abu-abunya  menempel di kursinya. Terasa lengket dan kenyal. 

Akh…permen karet!! Siapa sih yAng berani-beraninya mengerjaiku. Pasti ada yang meletakannya ketika aku ke depan tadi.

“Ada apa tiara?” tana bu guru yang melihat Tiara berdiri  kebingungan.

Tiara hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya sibuk memberi isyarat bahwa dia tidak apa-apa. Andai dia bisa bicara tentu dia akan mengatakan seseorang telah mengerjainya. Ah, lupakan saja tentang keluhan yang satu ini.

Tiba-tiba Tiara  mendengar suara tawa yang pelan dan agak ditahan dari samping kursinya. Dan untuk beberapa detik lamanya Tiara mempunyai kesimpulan orang itulah yang telah mengerjainya. Orang barusan yang tertawa pelan di sampingnya . yang selama ini tidak menyukai kehadirannya. 

Siapa lagi kalau bukan Reva. Saat Tiara menatapnya Reva pura pura sibuk dengan majalah modenya. Kebiasaan kalau dia belajar selalu membawa dan menyelipkan majalah diatas texbooknya. Tentu saja bu guru matematika tidak akan tahu dan menganggap Reva tengah konsentrasi dengan buku pelajarannya.

Reva tahu ia tengah diperhatikan. Ia menatap Tiara dengan ekor matanya dan bibir tipisnya memasang senyuman yang mengejek.

“Ada apa sayang” ujar reva dengan  masih memasang senyuman sinisnya.”Wah…mulai berani menatapku seperti itu ya!”

Tiara hanya meremas ujung seragamnya. Ingin sekali ia meninju wajah putih ala korea itu. Tiba-tiba saja tiara jadi ingat kata-kata Reva di perpustakaan sekolah satu minggu yang lalu.

“Heh, lu anak baru disini. Jangan sok pinter ya! Udah gitu caper sama cowok-cowok lagi. Lebih mending kalau punya suara seindah girlband korea. Sayangnya pita suaramu kayaknya harus diganti ya.biar bisa godain cowok-cowok denga kata-katamu.” Cecarnya dengan ejekan yang sangat menyakitkan diiringi cekikikan teman-teman seganknya.

Seumur hidupnya tiara belum pernah dihina dan diejek seperti itu. Ia menggigit bibir kuat-kuat dan menahan air mata yang meancoba keluar dari kedua kelopak matanya. Tiara tak tahu apa maksud dari kata-kata Reva itu. Dia sebagai anak baru sudah mulai diperlakukan tidak hormat dan tak menyenangkan seperti itu. Dan apa kata-kata terakhirnya? Caper sama teman-teman cowok? 

Aku tak pernah sekalipun berniat untuk menggoda cowok. Siapa sih yang tertarik kepada seorang gadis sepertiku? Aku juga nyadar siapa aku sebenarnya. Seorang gadis tunawicara yang tak bisa hidup normal seperti gadis lainnya.

****

Aku tidak pernah membayangkan untuk mencintai dan dicintai. Aku hanya seorang gadis lemah dan aku yakin bahwa tak aka nada seorang lelaki yang akan menambatkan hatinya padaku. Setidaknya itu asumsiku untuk saat ini. Bagiku, cinta hanya untuk Tuhan yang telah menganugrahkan kehidupan untukku dan telah memberiku seorang ibu yang mencintaiku segenap raganya. Ibu yang selalu memberiku aura semangatdalam menjalani segala keterbatasanku.

Tiara meletakan bolpoint birunya dan merebahkan tubuhnya di kasur tipisnya. Matanya menerawang dan menatap bintang gemintang yang menghiasi langit malam yang hitam kelam. Tiara selau membuka gorden kamarnya bila malam tiba. Baginya ada ketenangan tersendiri  bila menatap kerlap-kerlip cahaya kecil itu.

****
Ini adalah hari keempat Tiara  di SMA Genius, sekolah barunya. Baginya, ia harus bersikap seramah mungkin untuk bisa menutupi segala kekurangan dan keterbatasannya. Ingin mempunyai banyak teman dan orang tak lagi aneh menatap dirinya yang selau mengunci mulut dan berpantonim diserai gerakan-gerakan tangan yang susah dipahami. 

Ah…syukuri kau harus banyak mensyukuri keadaanmu Tiara!

“Hai tiara, lama menuggu ya!”sapa seseeorang. Tiara menoleh dan memasang senyuman selebar mungkin disertai anggukan kepala. Seorang gadis imut berjilbab putih menghampirinya.

“Kok nongkrong di taman sih, enakan di kantin sambil makan-makan” ujar  gadis berjilbab itu  sembari menarik tangn tiara.”Yuk ikut aku, sori yah aku datang telat. Soalnya tadi aku mampir dulu ke potokopian.”

Kamu tahu siapa gadis berjilbab itu? Namanya Aisha. Dialah orang pertama yang mengucapkan kata “hai” ketika untuk pertama kalinya tiara menginjakan kakinya di SMA genius. Aisha terkesan responsive dan banyak ngomong walaupun hanya dijawab dengan
senyuman dan gerak tangan. Dan itu tidak membuat tiara canggung karenanya. 

Terimakasih Tuhan kau telah mengirimkan kepadaku sebongkah cinta dalam persahabatanku dengan Aisha.

****
“Minggu depan kita ulangan matematika” seru bu Santi. Suaranya menggema memenuhi seluruh ruang kelas 12 IPA 2. Semua wajah melongo dan sejurus kemudian menjadi adegan bersitatap antar  siswa.

“Seperti biasa ibu akan memberikan dua puluh butir soal dari bab matriks hingga fungsi."

“Bu, bisa dikurangi dikit.” Tawar Juleha dari bangku belakang. Orang ini masuk rekor ratu tidur di kelasnya.

“No bargaining!” seru Bu Santi.” Makanya kalian harus sungguh-sungguh dalam belajar. Jangan kayak Juleha yang bisanya tidur di setiap pelajaran. Ujar Bu Santi yang lebih ditunjukan kepada seluruh siswa. Sementara Juleha hanya manyun ketika namanya disebut sebagai sampel ketidak seriusan dalam belajar.

“Kalau bisa bertanya kepada teman-teman yang lebih paham.” Pungkas Bu Santi. Kemudian ia membereskan buku-buku tebalnya dan segera bergegas keluar.

***

Bel istirahat berbunyi. Tapi Tiara masih setia di kursinya.ia masih asyik mengutak-atik rumus matematika yang barusan dipelajarinya.

“Hai Tiara!” seru seseorang dari arah belakang kursinya. Tiara menoleh dan didapatinya Aisha, Rahma, Celine dan Dina tersenyum kepadanya.

“Entar sore kita mau main ke rumahmu. Boleh kan?”ujar Celine.

“Sekalian belajar bareng. Biar aku nggak diomelin bu Santi lagi gara-gara gak ngerjain PR.” Timpal Dina.

Tiara menganggukan kepalanya dan tesenyum lebar. Rupanya aisha mengajak teman-temannya untuk bersahabat dengan Tiara.

“Kita mau ke kantin dulu ya.’’ Ujar Aisha. “Mau ikut nggak”

Tiara mengangkat bahunya dan memberi isyarat dia lagi betah di dalam kelas.

“oke, kita mau ngemil dulu ya. Entar gue pesenin es cendol buat kamu.” Kata Celine. Mereka keluar meninggalkan Tiara yang kembali asyik dengan bukunya.

Di bangku lain tampak Reva dengan ketiga csnya tengah berbisik-bisik dan mentap Tiara dengan tatapan mengejek.”Tuh kan apa gue bilang. Dia orangnya caper banget.” Ujar Reva. Suaranya sengaja dikeraskan supaya Tiara bisa mendengarnya. Namun tiara pura-pura tidak mendengar walau kata-kata itu begitu jelas di telinganya dan membuat hatinya panas tidak karuan.

“Oh… ternyata dia dungu juga ya. Baru tahu gue.”

Tiara mencoba tetap bergeming di tempat. Menahan gemuruh amarah di dadanya. Ingin sekali ia manangis  dan melabrak mereka saat itu juga. Sejurus kemudian Tiara berlari meniggalkan kelas diiringi cekikikan genk Reva yang merasa puas karena telah membuat  Tiara seperti yang mereka inginkan: menderita dengan kata-katanya mereka.

Tiara berlari kecil menuju kantin. Didapatinya Aisha tengah bercengkrama bersama teman-temannya.

“TIARA!” suara seorang  cowok memanggilnya dari arah belakang. Tiara mengenal pemilik suara itu.

Tiara menghentikan langkahnya dan tersenyum kepada Deny, orang yang barusan memanggilnya. Ia siswa cowok  dari kelas 12 IPA 3 yang menjadi finalis coverboy sebuah majalah remaja ibukota beberapa bulan yang lalu. Selain itu ia dikabarkan sebagai seorang cowok favorit di sekolahnya.

Deny menghampiri Tiara.”Boleh minta tolong nggak?”

Tiara menggangguk kecil dan menundukan kepala.

“Aku punya PR matematika.”ujarnya malu-malu. “ Pelajaran ketiga nanti harus dikumpulkan kepada bu Santi.”

Tiara kembali menggangguk karena hanya itu yang ia bisa untuk menjawab setiap pertanyaan dan sapaan. Jika saja Deny belum mengetahui dia seorang penyandang tunawicara, tentu dia sudah habis kesabarannya untuk menunggu jawaban tiara.J

“So, bisa kan kamu ajari aku?’’lanjutnya dan mengeluarakan buku matematikanya.

Tiara tercenung. Bagaimana dia bisa membantu Deny, sementara matematika butuh penjelasan dari rumus-rumus yang terperinci. Tidak mungkin baginya yang tunawicara bisa menjabarkan rumus itu. Mungkinkah Deny akan mengerti dengan gerak tangan dan pantonim. Yang bahkan orang-orang tertentu saja yang memahami bahasa tubuh seseorang yang tunawicara. Itu pun biasanya orang- orang terdekatnya dan sahabat dekatnya. Tapi disamping itu tiara merasa senang karena dia merasa diperhatikan dan punya eksistensi, setidaknya dihadapan orang sepertiDeny.

Tiara tersenyum dikulum. Kemudian mengeluarkan kertas kecil dan menuliskan sesuatu. Kemudian menyerahkan tulisan itun kepada Deny yang termangu.

Aku bingung. Gimana aku bisa ngejelasin PRmu . sementara kamu tahu sendiri kan aku. Aku …kondisiku tidak memungkinkan untuk itu. Coba saja ke teman-teman yang lain. Barangkali ada yang bisa . sory..JI

Deny tertawa setelah beberapa detik terdiam.” You are cute Tiara!” serunya dan berusaha menahan tawa.”Oke, untuk satu kali ini saja aku pengen kamu yang mengerjakan PR-ku. Aku janji, entar  kamu aku traktir deh..”

Tiara terdiam.

“Pliss.. untuk kali ini saja Tiara, kamu kan baik.”

Huh, ternyata kau pintar menjilat juga rupanya.tiara mengangguk dan Deny menyerahkan buku tugasnya.”Thank’s you very much”

Tiara bergegas menuju kelas untuk mengerjakan PR matematika deny dan membatalkan keinginannya untuk bergabung bersama Aisha.

Tiar menghempaskan tubuhnya di kursi. Dilihatanya Reva cs masih asyik bergosip ria di kelas. Sesekali ekor mata mereka melirik tiara dan berbisik-bisik tak jelas. Sudah barang tentu menggunjingkan Tiara.

Tiara tak ambil pusing dengan hal itu. Ia mulai membuka buku Deny dan mengerjakan soal-soalnya. Tiba-tiba terbersit di hatinya rasa sesal karena telah mau menyanggupi permintaan Deny.

Mungkin saja dia memanfaatkan kelamahanku, batinnya. Tapi beberapa saat lamanya dia tersadar bahwa dia tidak seharusnya berprasangka seperti itu..

Disaat dia sedang asyik menjawab soal tiba-tiba deny sudah berada di sampingnya dan dia baru menyadari hal itu ketika deny menyentuh bahunya dan menyapanya.“Udah selesai berapa soal?’ujarnya terkesan berbasa-basi.

Tiara mendongakan kepalanya.

“Nih, aku bawakan cemilan dan jus alpukat buat kamu.”ujarnya sembari meletakan bungkusan makanan di atas meja Tiara. Kemudian ia duduk di kursi samping Tiara.

Reva hanya ternganga melihat semua itu. Ia tak sudi jika Deny terlalu perhatian kapada Tiara, cewek yang paling dibencinya di kelas itu karena kepintaran dan kecantikannya. 

Siapapun akan tahu tiara lebih cantik dibandingkan Reva, yang sebelum kedatangan Tiara dia menyandang julukan miss genius senior high school. Dan setelah tiara hadir di sekolahnya reva takut gelar itu akan hilang dari dirinya. Naïf memang. Namun Reva bisa sedikit menenangkan dirinya karena dibalik kecantikan Tiara ada kekurangan yang lebih dominan jika dibandingkan dengan semua kelebihannya. Dan Reva tetap memegang prinsip itu. Tapi untuk kali ini dia benar-benar dibuat gerah. Deny yang sedari kelas sepuluh ia incar-incar ternyata malah mau mendekati seorang gadis yang selama ini ia benci. 

Tiara melihat gelagat tak baik. Dia tahu Reva tengah menatapnya dengan penuh rasa benci. Tiara tahu reva naksir sama Deny. Tiara juga tahu kebiasaan reva yang tanpa malu selalu membanggakan deny dihadapan temannya, atau membicarakan sejauh mana kedekatan dan hubungan mereka selama ini. Entah benar atau tidak, karena deny tak pernah sekalipun terlihat bersama reva atau bahkan sekedar menyapa sekalipun.

Tiara menatap Deny dan mengisyaratkan untuk segera keluar dari kelas tersebut.

“Kenapa? aku Cuma pengen nemenin saja. Nggak ada salahnya kan?’’ jawabnya tanpa rasa bersalah. Padahal itu cukup membuat Tiara grogi setengah mati dan was-was dengan adanya Reva disekitar mereka berdua.

Tiara menatap Deny kesal. Kalau bukan karena kebencian Reva atau bukan karena pertama kalinya seseorang begitu memperhatikannya tentu ia tak akan ‘’segerah’’ itu. Tiara mengembalikan buku Deny dan berlari keluar kelas.

“TIARA! TUNGGU!” seru Deny, dan sejurus kemudian ia menyusul Tiara keluar kelas. Sebenarnya Deny sengaja melakukan itu semua untuk mengatakan secara halus kepada reva bahwa dia tidak punya perasaan apa-apa padanya.

Deny mengejar tiara yang berlari menuju ruang perpustakaan. Didapatinaya taira tengah terduduk di salahsatu kursi di pojok ruangan itu. Deny mendekatinaya dan duduk di sampingya.

“Tiara, kamu marah sama aku ya.”ujarnya dengan suara yang pelan.

Tiara terdiam dan tidak merespon apa-apa. Tapi untuk beberapa saat lamanya ia mendongakan kepala dan tersenyum. Kemudian mengeluarkan kertas dan menulisinya: 

Saya Cuma takut reva marah gara-gara kamu deketin saya.

Deny tersenyum simpul ketika membacanya.kemudian ia menarik nafas dan kembali manatap Tiara. “ aku sudah tahu. Tidak mungkin gadis sebaik dirimu akan marah hanya karena hal sepele seperti ini. Iya kan?”

Bisa jadi. Tapi pliss jangan sotoy deh

“Oh iya, aku kan udah janji mau traktir kamu. Ke kantin yuk!”ajak Deny sumringah dan bangkit dari kursinya."Ayo!”

Tiara mengangguk dan membuntuti langkah Deny. Tiba-tiba ada rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa tenang dan bahagia yang mendominasi hatinya. Tiara berbunga-bunga.©

Cibeureum, 8 Nopember 2013
Kang Uni Mubarok
Kang Uni Mubarok

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment